Nonton Film, Nonton Kehidupan

Resensi Film

Category:Movies
Genre: Drama
Saya pernah membayangkan beribadah haji begitu mudah bagi setiap muslim di seluruh dunia. Pemerintah setiap negeri, menyediakan ongkos pesawat gratis ke Arab Saudi. Setap muslim dapat giliran masing-masing ke tanah suci hingga tak ada yang tak bertitel haji sebelum umur mereka 60 tahun. Tapi itu hanya mimpi. Kenyataannya tak begitu. Makanya, Islam sendiri menambahi anak kalimat pda rukun yang kelima itu, “jika mampu.” Entah mampu secara fisik, dan terutama, finansial karena berhaji tak murah.

Lantas, jika setiap orang dapat berhaji gratis oleh Negara, ceritanya bakal lain sekali dengan film ini.

Film ini, Emak Ingin Naik Haji (Aditya Gumay, 2009), adalah gambaran kondisi (muslim) Indonesia menyangkut masalah haji. Berhaji adalah dambaan setiap muslim, entah dia kaya atau miskin. Entah bagaimana setiap muslim menyimpan kerinduan untuk mengunjungi tanah suci di Mekah dan Madinah. Mungkin karena di sana Rasulullah dulu pernah tinggal dan hidup, atau juga dari sana Allah terasa begitu dekat.

Indonesia mini diwakilkan lewat 3 sosok di film ini. Pertama adalah Haji Sa’un (Didi Petet), pria tambun kaya raya di sebuah perkampunan nelayan pinggir pantai. Tahun ini kali keenam ia berencana umrah ke tanah suci. Seluruh keluarganya akan diajak pergi. Umrahnya pun bareng artis (sebuah komodifikasi kapitalisme mutakhir yang menggabungkan perjalanan religius jadi atraksi wisata). Selangkah dari rumah Haji Sa’un kita dikenalkan pada sosok kedua, wanita renta yang dipangil Emak (Aty Kanser). Emak yang janda ditinggal mati suaminya hidup bersama anaknya, Zein (Reza Rahadian) pelukis amatir yang ditinggal istrinya kawin lagi. Ia punya anak yang ikut istrinya.
Emak memendam hasrat ingin naik haji. Mengetahui tetangganya akan umrah ke-6 kalinya Emak hanya bisa bergumam, “Enak beneer..” Sebab baginya mengumpulkan uang sepeser demi sepeser begitu sulit. "Sekarang uang emak ada lima juta, sudah nabung lima tahun. Kalau sekarang naik haji, ongkosnya tiga puluh juta, berapa tahun lagi ya, Zein?" Emak mengira-ngira kesempatannya beribadah haji. Umurnya kini sudah 61 tahun. Untuk beribadah haji tahun ini, butuh Rp 30 juta. Kalau lima tahun bisa menabung Rp 5 juta, berarti butuh sekitar 25 tahun lagi agar uang Emak cukup. "Jadi naik hajinya umur 86 tahun ya, Zein, mudah-mudahan masih ada umur, ya," ucap Emak. Zein hanya termangu diam.

Ada lagi sosok ketiga, Joko, seorang pengusaha yang berniat jadi walikota. Sekretarisnya (Cut Memey) mengusulkannya berhaji sebelum ikut pilkada. “Pemilih mayoritas di sana muslim kental, Pak. Jadi kalau haji lebih meyakinkan,” saran sekretarisnya. Joko berhaji bukan demi ibadah, melainkan demi meraih mimpi duniawi jadi walikota.

Tiga sosok tadi saling jalin menjalin dalam kisah ini. Zein yang lukisannya susah laku, harus menerima kenyataan anaknya sakit dan mesti dioperasi. Tak punya uang, Zein nyaris gelap mata hendak merampok Haji Sa’un. Emak merelakan uang tabungan hajinya dipakai berobat.

Kesempatan Emak berhaji datang saat Zein dapat undian haji gratis dari sebuah pasar swalayan. Saat hendak mengambil hadiah, ia tak hati-hati. BRAKK! Mobil menabrak Zein. Kupon undian raib terbawa arus sungai.

Zein pincang. Dalam sebuah obrolan dengan Emak di bibir laut,Zein berujar, mungkin setengah berseloroh, “Emak, kita ke Mekah naik perahu aja, yuk.” Emak menimpali, “Raga Emak mungkin gak akan nyampe ke sana.. tapi hati Emak udah di sana dari dulu. Emak yakin itu.”

Film tak berakhir di situ. Aditya Gumay, sutradara yang mengangkat kisahnya dari cerpen Asma Nadia, tak ingin membuat penonton pulang dengan pikiran kalut karena sang protagonist tak meraih cita-citanya. Kesempatan Emak, dan Zein, berhaji datang meski sepertinya terlalu gampang. Duh, kalau begini mudahnya, buat apa susah-susah sampai nyaris merampok dan ketabrak mobil segala?

Ah, mungkin takdirnya sudah begitu. Yang pasti, Aditya telah berhasil mengaduk-aduk emosi penontonnya. Saya menangis terharus usai menonton. Keharuan itu terutama datang berkat akting jempolan Aty Kanser dan Reza Rahadian. Reza pas sekali jadi anak yang merasa hidupnya tak berguna karena tak kunjung bisa membahagiakan ibunya. Sedang Aty memang paling cocok memainkan peran yang sudah berkali-kali dilakoninya itu. Jika pun ada yang patut disayangkan adalah logat Betawi yang tak bisa hilang darinya. Namun, saya merasa itu bukan salahnya.

Kelemahan satu-satunya film ini adalah tidak memberi gambaran jelas pada penontonnya akan setting tempat di mana film berkisah. Memang kita tahu kisahnya terjadi di kampung nelayan. Ada juragan perahu yang hidup di rumah gedong dengan dikelilingi nelayan-nelayan miskin. Tapi, tak pernah jelas di mana kampung nelayan itu berada. Pinggiran Jakarta kah karena ada tokohnya yang berucap logat Betawi? Atau di pesisir pantai utara Jawa karena Haji Sa’un dan istrinya berucap dengan logat Jawa? Sineasnya juga terlalu fokus mengisahkan lika-liku tokohnya, ia lupa mengangkat setting sebagai pelengkap mise-en-scene. Saya berprasangka baik, ketakcermatan ini hanya kekhilafan atau diadakan pun dengan tujuan baik: inilah Indonesia mini kita, sebuah desa multiras.***

EMAK INGIN NAIK HAJI (2009)
Sutradara: Aditya Gumay
Skenario: Aditya Gumay, Adenine Adlan (berdasar cerpen Asma Nadia).
Pemain: Aty Kanser, Reza Rahadian, Didi Petet, Ninik L. Karim
Score: **** (5*)


Siapa Bilang “2012” (2009) Film Kiamat?!Nov 16, '09 8:13 PM
for everyone
Category:Movies
Genre: Other
Film tentang kiamat yang pertama saya tonton bukan bikinan Hollywood. Tapi film karya anak negeri, “Sunan Kalijaga dan Syekh Siti Jenar” (1985). Pada sebuah adegan, Sunan Kalijaga (Deddy Mizwar) berkhotbah di tanah lapang, mengingatkan ummat akan pasti bakal datangnya kiamat. Adegan lantas berpindah pada bencana kiamat dimaksud. Orang-orang beterbangan, gunung meletus, ombak dan badai mengamuk, rumah porak poranda. Karena filmnya bersetting masa lalu, kiamat digambarkan terjadi di masa lalu. Tidak ada mobil atau ciri kehidupan modern diperlihatkan. Kita tahu sampai tulisan ini dibuat, kiamat belum terjadi. Artinya, kiamat yang diperlihatkan pada penonton adalah bayangan di benak ummat sang wali.

Saat menontonnya, saya tak dibuat terpukau efek visualnya. Beda dengan yang ini, 2012 (2009). Sepanjang dua setengah jam kita digeber efek visual seperti apa jadinya hari-hari menjelang akhir bumi (gempa bumi, gunung meletus, tsunami setinggi Everest).

Film ini hanya reaksi Hollywood yang jeli melihat peluang pasar. Hollywood tak ingin membuat film tentang ramalan bangsa Maya yang (mungkin sedang iseng atau atau ada kesibukan lain) tak sempat membuat kalender setelah tahun 2012 menurut ukuran Masehi atau menguliknya lebih jauh seperti buku-buku soal 2012 yang banyak beredar sekarang (buku-buku itu umurnya akan pendek, sebab selepas 2012 dan tak ada apa-apa hanya akan jadi lelucon). Hollywood mengambil kesimpulan sendiri : 2012 terjadi kiamat. Jelinya lagi, Hollywood merilis 2 tahun sebelumnya—ketimbang saat kejadiannya berlangsung lantaran takut tak laku dan jadi pepesan kosong.

Itu semua dilakukan agar “sang bintang” rekaan Hollywood bisa tampil maksimal. Saya beri tanda petik karena yang saya maksud bukan orang atau bintang Hollywood betulan. “Sang bintang” di film in bukan John Cusack, Danny Glover, Amanda Peet yang memang di Hollywood-pun belum berstatus bintang besar. Sang bintang di film ini adalah efek khusus.

Sejak komputer menambahi adegan film-film Hollywood, sineas di sana seakan bisa menuangkan imajinasi terliar mereka apapun itu. Kitasudah melihat dinosaurus hidup lagi, alien dan macam-macam. Maka, mengapa tak sekalian membayangkan seperti apa kiamat terjadi?

Rolland Emmerich didapuk jadi sutradara. Saya pernah begitu mengaguminya. Filmnya, Independence Day (1996) saya anggap film terbaik yang saya tonton zaman SMA dulu (usai nonton di bioskop, saya dan kawan terpikir untuk tak keluar ruang teater dan bersembunyi untuk menontonnya lagi). Hingga sekarang, saya terkenang-kenang pada pidato patriotis presiden Amerika di film itu (Bill Pullman) dan tentu efek khususnya.

Kali ini, setelah berkali-kali memporak-porandakan bumi dan isinya (Independence Day, Godzilla, The Day After Tomorrow), Emmerich membikin induk dari segala film bencana. Dibilang induk karena, bagi penonton yang jeli (atau penggemar film-film bencana), Emmerich menggabungkan semua film bencana dalam filmnya. Kita akan dibuat dejavu pada film Volcano dan Dante’s Peak (saat gunung meletus), Poseidon Adventure (kapal pesiar terguling), Speed (trailer loncat saat gempa vukanik mirip bus melompati jembatan buntung di Speed), Titanic (adegan hampir tenggelam di perahu), hingga Independence Day (pesawat kabur dikejar api) dan The Day After Tomorrow (air bah) buatannya sendiri. Bagian hubungan ayah-anak juga mengingatkan kita pada War of the World-nya Steven Spielberg.

Dengan minimnya kreativitas Emmerich kali ini, film ini seharusnya tidak perlu dianggap serius. Apalagi memfatwakan haram seperti yang dilakukan MUI Malang. Terlihat betul ulama di sana tak mengkaji filmnya betul sebelum bikin fatwa. Alih-aih soal kiamat, filmnya lebih pas disebut kisah bahtera Nuh versi modern.

Sebagai karya sinema film ini tak punya esensi cerita selain klise kisah-kisah yang sudah berkali-kali ada di film bencana. “Sang bintang” efek khusus pun tampil melempem karena tak kreatif. Tidak ada istimewanya sama sekali. ***

2012 (2009)
Sutradara: Rolland Emmerich
Penulis: Rolland Emmerich, Harald Kloser
Pemain: John Cusack, Danny Glover, Amanda Peet
Durasi: 158 menit



ReviewReviewSerigala Terakhir (2009): Film Banyak Gaya Nov 9, '09 9:33 PM
for everyone
Category:Movies
Genre: Action & Adventure
Saat 9 Naga (2005) dirilis dulu, filmnya diledek sebagai “preman yang berucap bak kartu ucapan Hallmark”. Di situ, preman yang kehidupannya serba keras bisa sangat puitis kala berucap. Lubang logika ini dipupus oleh Upi lewat film terbarunya, Serigala Terakhir (2009). Kalau Museum Rekor Indonesia iseng menghitung, film ini mungkin yang terbanyak bilang “anj***” dan “bang***”. (hingga saat filmnya diputar di TV nanti pasti Anda akan dibuat terganggu dengan bunyi “tiiitt..” berkali-kali).

Masalahnya, apa memberi atribut sumpah serapah yang kebanyakan itu saja sudah cukup? Tentu tidak. Upi lalu mengembel-embeli filmnya dengan atribut lain: style alias gaya. Perhatikan, betapa “style” amat dominan di film ini. Jika “9 Naga” mengingatkan kita pada style film gangster Hong Kong (menembak dengan memiringkan pistol, misalnya), “Serigala Terakhir” menyajkan lebih jauh. Aroma film gangster Hong Kong memang masih terasa (beberapa bagian mengingatkan pada film “Young and Dangerous” dan sekuel-sekuelnya), tapi urusan style di film ini lebih kasat mata pada mise-en-scene yang muncul.

Lihat pakaian para preman/gangster di film ini. Pengamat mode pasti akan dibuat bingung oleh “fashion statement” yang hendak dikatakan sineas di sini. Celana ketat motif kulit ular dan batik ketat bermotif jadul tahun ’70-an bisa berendengan dengan jas tuksedo perlente atau pakaian preman jalanan kebanyakan (jins belel, kaus oblong). Mobil sedan tahun ’70-an bisa bertemu handphone model terkini. Dandanan retro mirip yang muncul di video klip “Sabotage”-nya Beasty Boys bisa-bisanya bersatu di layar dengan dandanan sehari-hari orang biasa jaman kiwari. Saat menonton, Anda pasti dibuat bingung, setting film ini sebenarnya terjadi di tahun berapa? Atau, sebuah pertanyaan mendasar yang muncul: apa sih maunya sineas ini? Bikin gado-gado? Kok, alih-alih sedap dipandang, malah bikin mata sakit ya…

Masalahnya, buat sineasnya, segala kesalah-kaprahan mode dan waktu itu tak digubris. Sebab yang penting filmnya terlihat “gaya” di layar.

Nah, saat gaya menjadi maha penting, cerita yang jadi tumpuan utama film kemudian harus minggir. Kisahnya seperti dibuat hanya untuk agar segala macam urusan fesyen tadi bisa muncul di layar. Maka, terciptalah cerita yang kira-kira jalannya begini: si A,B, C, D, dan E adalah preman kampung yang kerjanya membuat onar. Mereka bersahabat. Hingga suatu kali, si A (okelah namanya Jarot [Vino G. Bastian]) membunuh orang. Para sahabatnya tak ada yang menjenguknya waktu di penjara. Padahal ia butuh kawan curhat karena selama di penjara jadi bulan-bulan preman penjara. Kekecewaan itu membuatnya bekerja di pihak lawan. Akhirnya, sekawan yang sudah berbeda pihak ini saling berhadapan. Lalu, ada juga sub-plot lain, soal pria bisu (Reza Pahlevi) yang ujug-ujug jadi penjahat maha jago. Dia yang mengajak Jarot bergabung dengan kelompok Naga Hitam yang bersebrangan dengan kawan-kawannya.

Karena gaya yang ingin ditonjolkan (selain Upi ingin pamer kemolekan tubuh kekasihnya, Vino), banyak lubang di sepanjang film yang membuat sejuta tanya. Masak sih, motif utama Jarot pindah ke pihak lawan hanya karena tak ada kawannya datang menjenguk? tidakkah itu terlalu sepele? Lalu, masak sih, Jarot jadi bulan-bulanan napi di penjara hanya karena tak mau menatap saat di ajak bicara? Tidakkah itu terlalu sepele juga? Lalu, kok gampang benar ya, Jarot membalik keadaan? Di awal ia begitu gampang dikeroyok di penjara, tapi kali lain ia bisa dengan mudah melumpuhkan lawan-lawannya? Kemudian soal si bisu itu, kok’ bisa sih ia tak tahu neneknya meninggal? Padahal sebelumnya tak diperlihatkan ia pergi lama jauh dari rumah.

Di Hong Kong sana ada sineas bernama Wong Kar Wai. Ia sineas yang kerap mementingkan gaya dalam film-filmnya. Tapi filmnya tak jatuh jadi sebatas gaya. Siluet gambar bergerak cepat dan warna-warna cerah di filmnya (lihat Chungking Express untuk contoh jelas), dimaknai sebagai ketergesaan yang selalu terjadi di kota kontemporer. Siluet warna-warna yang bergerak mirip kerlap-kerlip lampu neon di gedung-gedung kota Hong Kong.

Sayang, Upi bukan Wong Kar Wai… (hm, kejauhan ya, membandingkan Upi dengan Wong Kar Wai? Maaf.)

SERIGALA TERAKHIR (2009)
Sutradara & skenario: Upi
Pemain: Vino G. Bastian, Fathir Mochtar, Reza Pahlevi
Durasi: 115 menit


Category:Movies
Genre: Drama
i
Di angkasa, saat Republik tengah dikecamuk perang kemerdekaan, sebuah pesawat jenis Dakota diberondong peluru pesawat Belanda. Peluru menembus badan pesawat, merobek tubuh seorang penumpangnya. Kita kemudian tahu, sang penumpang bernama Isaak Pahing (Nino Fernandez), seorang indo yang memilih berpihak pada Republik Indonesia yang masih bayi kala itu. Saat pesawatnya ditembak ia tengah membawa bantuan obat-obatan bagi pejuang.

Adegan lantas pindah ke sebuah rumah yang terbengkalai di sudut Jakarta, di tahun 1998. Seorang aktivis perempuan, Maida (Atiqah Hasiholan) tengah mengajar anak-anak jalanan di rumah itu. Lalu rumah yang ditempatinya hendak dirobohkan pemilik tanah, konglomerat Da’saad Muchlisin (Frans Tumbuan). Ia mengutus arsitek ganteng, Sakera (Yama Carlos) mengosongkan rumah itu. Bisa ditebak, Sakera menaruh hati pada Maida. Alih-alih meruntuhkan rumah itu, Sakera membantu Maida meyakinkan sang konglomerat kalau rumah itu tak sekadar bangunan tak berarti. Ia punya nilai historis tinggi dan karena itu perlu dilestarikan. Nilai historis yang menghubungkan Isaak Pahing dengan Da’saad Muchlisin.

ii
Terus terang, tadinya saya sudah “ilang-feeling” dengan Teddy Soeriaatmadja. Teddy saya anggap sutradara yang hanya mampu mengemas gambar indah minim makna. “Banyu Biru” (2004) yang jadi karya pertama layar lebarnya, merontokkan sendiri klaim realisme magis dengan di ujung film kalau segala keanehan di layar sebelumnya hanya mimpi tokohnya. Lalu, “Ruang” (2006) seakan hanya sedap dipandang mirip gambar kartu pos. “Badai Pasti Berlalu” (2007) saya lewatkan karena saya tak mau memori saya pada versi aslinya dirusak Teddy.

Film ini nyaris saya lewatkan andai saya tak lihat nama AYU UTAMI di bagian cerita dan skenario. Ayu Utami adalah nama yang saya hormati di ranah sastra (“Saman” tetaplah karya terbaiknya hingga kini). Sebelum menonton saya berdoa, semoga ini film Ayu, bukan Teddy.

Ternyata ini film Ayu dan Teddy.

Bagian Teddy muncul saat lagi-lagi ia mendramatisasi film dengan bahasa gambar yang kelewat stylish ketimbang mengedepankan esensi. Perhatikan penggunaan kamera hand-held yang rasanya over di film ini. Untuk adegan uang recehan Maida jatuh, misalnya, Teddy menyorot dengan sudut kamera hand-held. Padahal tak terlalu nyambung dengan konteks cerita. Contoh lain, perhatikan saat adegan kerusuhan 1998. Alih-alih realistis, malah mirip orang berlarian hiruk-pikuk tak karuan dalam gaya video klip. Untungnya kegenitan Teddy hanya sampai di situ. Ia tak berpretensi melukis layar dengan sapuan gambar-gambar indah seperti dalam “Ruang”.

Namun, Teddy khilaf mengasting banyak pemain—atau setidaknya meminta departemen make-up bekerja lebih keras. Perhatikan, cerita yang merentang dari tahun 1928 ini (saat Sumpah Pemuda) memerlihatkan wajah tokoh-tokohnya tak banyak berubah hingga Indonesia merdeka atau mengambil masa 20-an tahun. Kekurangan pemain? Atau, minim peralatan rias untuk membuat tokohnya lebih tua di layar? Entah.

iii
Lalu ke Ayu Utami. Jelas sekali Ayu tak hendak membuat film kacangan. Film ini punya alur bolak-balik yang tak lazim bagi sinema kita. Kisahnya jalin-menjalin dari satu masa ke masa lain; dari masa kini (1998) pindah ke masa sebelum Jepang datang, pindah lagi ke saat Jepang menjajah, lalu pindah lagi ke saat Republik masih muda, untuk balik lagi ke masa kini. Butuh konsentrasi untuk menontonnya. Tapi, Ayu membantu kita dengan membuat kisahnya tetap utuh dan enak diikuti. Referensi Ayu yang kaya pada sejarah bangsa tersaji di sini. Kita akan melihat sosok-sosok nyata (Soekarno, Hatta, WR Supratman) muncul bersama tokoh-tokoh fiktif (Isaak Pahing atau si Jepang yang menyamar jadi tukang foto). Sayang, penggambaran tokoh nyata itu terlalu stereotip. Soekarno di sini terlalu banyak omong. Hatta pendiam hanya manggut-manggut. WR Supratman terlihat selalu memainkan biolanya.

Melihat kekayaan gaya penceritaan, penokohan, dan tema kisahnya saya berkesimpulan, film ini sebenarnya bahan baku yang teramat berharga untuk sebuah novel tebal yang kaya karakter dan referensi sejarah. Kisahnya punya pesan mencintai pendidikan, jangan melupakan sejarah, kehidupan aktivis, anak jalanan, dan macam-macam.

Maka, buat saya, kisah yang kompleks dan merentang panjang ini mending tak usah dibuat filmnya saja. Ayu sebaiknya menuliskannya jadi novel. Pastilah karakter-karakter tokohnya akan makin tergali. Konflik batin Da’saad Muchlisin yang muncul sekelebatan di akhir film pastilah jadi bagian menarik untuk diceritakan. Tapi mau bagaimana lagi. Ayu memilih film jadi medium pengisahannya. Lalu yang dipercaya membuatnya Teddy lagi. Bukan Teguh Karya atau Sumandjaya. ***

RUMA MAIDA (2009)
Sutradara: Teddy Soeriaatmadja
Skenario & Cerita: Ayu Utami
Pemain: Nino Fernandez, Yama Carlos, Atiqah Hasiholan, Frans Tumbuan
Durasi: 90 menit


Category:Movies
Genre: Documentary
Pertama, yang sudah terang: film ini, This is It (2009) dipasarkan dengan jitu. Semula Sony Pictures, pemilik Columbia, ngebet minta filmnya rilis tepat saat Sang Raja Pop ultah, 29 Agustus. Kenny Ortega, sahabat Michael Jackson yang juga pengarah panggung konsernya, menolak saat diminta menyutradarai film ini. Ya, tidak gampang mengedit rekaman 120 jam jadi film berdurasi 111 menit. Pihak Sony manut.

Namun kemudian mereka datang dengan strategi jitu lain: merilis filmnya hanya dalam tempo 2 pekan. Ini pasti membuat orang begitu ngebet menontonnya, takut akan kehabisan tiket, lalu melewatkan momen bersejarah ini.

Tanpa diembel-embeli kiat pemasaran itu, orang pasti bakal berduyun-duyun menonton film ini. Ini Michael ‘gitu, loh! Tapi Hollywood memang selalu saja ada akalnya.

Kedua, filmnya. Bila Anda bukan fans Michael atau Anda terlalu sinis, Anda pasti akan menganggap ini sekadar film gladi resik konser semata. Untungnya saya fans Michael dan sedang tak ingin terlalu sinis. Saya tak sedang ingin membuat Anda marah. Jadi, film ini jelas bukan semata film gladi resik konser yang tak jadi. Ini mungkin film dokumenter paling jujur tentang Michael dari yang pernah ada.

Ya, sudah berkali-kali media meliput Michael, mewawancarainya di Neverland, mengulasnya sebagai pedofil, megalomania uzur, pria bangkrut yang berutang segunung, atau meledeknya “from Jacko to wacko”. Sebuah dokumenter tentangnya berjudul “Living with Michael” berhasil mendapat pengakuan dari mulutnya kalau ia biasa tidur ditemani bocah-bocah. Media memang pernah begitu kejam padanya. Sampai saat ia muncul dan berniat menggelar konser akbarnya di London, media menganggap ini semata upaya Michael mencari uang buat menuttup utangnya.

Tidak sepenuhnya salah. Utangnya memang betul menggunung (sekitar 300-500 juta dollar). Tapi ia tak hendak mengecewakan setiap fans yang membeli tiket konsernya. Ya, andai konsernya betul digelar sesuai rencana, fans yang sudah beli tiket dipastikan tidak akan kecewa. Michael tak sekadar sedang menyiapkan diri menyanyi dan berjoged di depan fansnya. Ia tengah menyiapkan sebuah tontonan terbaik sekali seumur hidup bagi mereka. Inilah dia. This is it. There is no other.

Di sini diperlihatkan Michael menyiapkan betul konsernya sematang mungkin.
Sebuah panggung disiapkan di Los Angeles, dekat dai rumahnya, agar ia bisa setiap hari datang berlatih vokal dan menari. Film-film berteknologi 3D disiapkan untuk mengiringi sejumlah lagunya. Pedansa terbaik dari seluruh dunia diaudisi dari ribuan orang untuk dapat yang terbaik menemaninya menari di panggung.

Filmnya hanya disusun dari potongan gambar Jacko berlatih nyanyi dari satu lagu ke lagu (semuanya favorit, meski “Heal the world” dan “Childhood” tidak muncul). Andai Anda melihatnya semata sebagai film konser, anda mungkin akan melihatnya sambil ikut berdendang atau bertepuk tangan usai lagunya kelar kayak di konser betulan. Tapi tontonlah dengan seksama lagi. Lihat betapa ia tetaplah dewa bagi pemujanya, begitu dihormati tapi juga tetap rendah hati (Michael tak terlihat marah-marah bila tak setuju atau ada hal yang menurutnya kurang pas), terlalu kurus untuk usia 50 tapi tetap energik. Ah, mungkin inilah Michael sesungguhnya, dan bukan yang didengung-dengungkan media selama ini.

Film ini ditutup dengan Michael, Kenny Ortega dan kru lain berpegangan tangan, berdoa agar konsernya nanti lancar. Filmnya tak memperlihatkan bagaimana Kenny, para penari, atau kru lain menanggapi kematian Michael yang mendadak. Kenny menutup filmnya seolah konsernnya memang betulan jadi. Memang tidak di London sesuai rencana, tapi di seluruh dunia dalam keremangan bioskop dengan kita, fansnya, berseru: we love you, Michael! ***

THIS IS IT (2009)
Sutradara: Kenny Ortega
Durasi: 111 menit



Category:Movies
Genre: Action & Adventure
(Below review, I’m very sorry, contain spoilers. Don’t tell me I’ve never warned you!)

i
Izinkan saya memulai ulasan ini dengan sebuah disclaimer. Saya tak menonton utuh filmnya.

Ini soal serius. Mengulas film punya aturan baku. Di antaranya, dilarang mengulas film yang belum ditonton; dan tonton habis filmnya agar hasil ulasan utuh, bukan berdasar pandangan setengah-setengah.

Tapi bagaimana lagi, saat asyik nonton film ini (Jumat, 16/10/2009), saya merasa bangku saya berguncang. Semula saya duga penonton di kursi belakang bikin film sendiri (yang membuat saya tak habis pikir, “Kok bisa sih tak ikut larut dengan film seru ini?”). Ternyata bangku depan saya juga bergoyang, padahal tak ada yang duduk di situ. Istri saya berseru kaget, “Eh, gempa ya?” Sejurus kemudian, seisi bioskop tersadar. Kami berlarian keluar.

Saat merasa sudah aman, saya mengajak istri balik ke dalam, melanjutkan nonton. Saat gempa terjadi filmnya tepat pada adegan seorang cewek Yahudi merencanakan sabotase di bioskop yang dikelolanya, yang akan dipakai Nazi. Saat masuk kembali, filmnya sudah sampai bagian saat tontonan di bioskop akan berlangsung. Saya melewatkan tontonan sekitar 8-10 menit.

ii
Awalnya saya mengira plotnya bakal sederhana—seperti diperlihatkan trailer-nya. Amerika mengirim tentara ke Perancis saat Perang Dunia II yang tugasnya cuma satu: membunuh tentara Nazi sebanyak mungkin. Saya menduga filmnya akan melulu berisi bunuh-bunuhan sadis.

Ternyata saya salah. Saya hampir lupa kalau ini film Quentin Tarantino. Sutradara nyentrik ini selalu punya kejutan buat penontonnya. Dan biasanya, kejutannya tak pernah gagal. Begitu juga yang ini.

Film ini lebih dari sekadar aksi brutal sekumpulan tentara Amerika yang membunuhi Nazi. Kisah mereka, yang menamakan diri “Inglorious Basterds”, hanya bagian kecil kisah filmnya. Ada sub-plot lain.

Quentin, yang juga menulis naskahnya, membagi filmnya ke dalam bab-bab persis novel. Inglorious Basterds hanyalah sebuah bab. Filmnya sendiri dimulai dengan kisah “di sebuah tempat di wilayah Perancis yang diduduki Nazi”.

Sebuah keluarga didatangi petinggi SS—pasukan elit Nazi—yang dijuluki “Pemburu Yahudi” Hans Landa (diperankan Christoph Waltz dengan amat gemilang). Obrolan berlangsung santai, Landa bertingkah bak petugas sensus yang datang berkunjung. Minta disuguhi susu dan ngobrol ngalor-ngidul dengan si empunya rumah (dalam bahasa Perancis—lengkap dengan subtitle bahasa Inggris). Ia, dengan santun, lalu meminta izin mengobrol dengan bahasa Inggris.

Ini kocak. Di Amerika sana, mayoritas penonton tak suka film ber-subtitle—makanya film berbahasa asing tak pernah jadi box office besar. Mereka malas menonton sambil membaca. Karena itu, saat Hollywood membuat film ber-setting Nazi Jerman (Valkyrie-nya Tom Cruise, misalnya) para tokohnya tetap berucap dalam bahasa Inggris.

Di sini, Quentin menyindir publik Amerika. Para tokohnya tak hanya berucap bahasa Inggris dan Perancis. Ada Jerman, juga Italia, plus Inggris berlogat Inggris tulen dan Amerika yang kental. Hebatnya, Quentin punya alasan logis untuk setiap perpindahan bahasa itu. Di bagian awal, misalnya, obrolan berbahasa Inggris itu jadi pintu untuk menguak keberadaan keluarga Yahudi yang disembunyikan si petani Perancis—setelah obrolan soal tikus dan tupai. “Mereka mendengar kita? Tapi mereka tak mengerti apa yang kita bicarakan ‘kan?... Sekarang saya akan bicara Perancis lagi… dan pura-pura pergi.” Jenius. Sungguh jenius.

iii
Keluarga Yahudi itu kemudian diberondong senapan. Seorang dari mereka, Shosanna, dibiarkan lari.

Lalu, bak sebuah novel, kisah beralih ke bagian lain. Ke bagian “Inglorious Basterds”. Brad Pitt, sebagai Lt. Aldo Reine, si Amerika medok tapi berdarah Indian Apache, tengah memberi taklimat pada pasukannya, 8 serdadu berdarah Yahudi yang ditugaskan khusus membunuh Nazi sebanyak mungkin. “Setiap prajurit bawahanku berhutang 100 kulit kepala Nazi. Dan saya ingin kulit-kulit kepala itu. And all y'all will git me one hundred Nazi scalps, taken from the heads of one hundred dead Nazis. Or you will die tryin'”

Quentin tak banyak memerlihatkan aksi mereka. Kita hanya disuguhi kalau reputasi mereka bak dedemit yang menghantui Nazi dan bikin gusar Hitler di Jerman sana. “Nein, Nein, Nein, Nein, Nein, Nein..!!!” Hitler marah-marah sambil menggebrak meja berkali-kali.

iv
Plot sebenarnya adalah Nazi Jerman tengah menyiapkan sebuah premiere film propagandanya di sebuah bioskop di Paris. Film ini begitu penting. Seluruh petinggi Nazi, termasuk Hitler sendiri, dipastikan hadir. Pemutaran dipindah ke sebuah bioskop kecil yang dikelola Shosanna yang kini punya identitas baru, lantaran sang bintang film (si tentara Nazi) naksir berat padanya. Buat Sekutu, termasuk kelompok Inglorious Basterds, inilah kesempatan emas untuk menang perang. Sekali tepuk, semua nyamuk dapat. Inggris mengirim serdadunya (yang aslinya kritikus film dan peminat sejarah film Jerman) diperankan Michael Fessbender (majalah The New Republic menyebut ini “inside joke” Quentin, merekrut aktor Jerman jadi serdadu Inggris yang penyamarannya ketahuan gara-gara aksen Jerman-nya terdengar asing).

Di antara kolaborator Sekutu terdapat bintang film Jerman Bridget von Hammersmack (Diane Kruger). Ia berhasil menyelundupkan 3 Basterds ke dalam bioskop. Sementara itu, Shosanna yang dirasuki dendam kesumat juga punya rencana membakar habis bioskopnya dengan semua Nazi terpanggang di dalamnya (Quentin menyelipkan pengetahuan baru: pita seluloid film di tahun itu termasuk bahan mudah terbakar sampai-sampai tak diizinkan dibawa ke naik kendaraan umum).

v
Tapi bukan Quentin jika filmnya mudah ditebak. Kedok von Hammersmack dan 3 Basterds ketahuan Hans Landa. Nyatanya Landa punya motif lain. Bioskop tetap terbakar. Semua petinggi Nazi, termasuk Hitler tewas malam itu.

Tentu, sejarah betulannya tak berlangsung seperti itu. Film ini bukanlah film sejarah. Melainkan, mengutip produser Quentin, Lawrence Bender, seperti dimuat majalah The Atlantic Monthly, film ini adalah “mimpi basah orang Yahudi”.

Ya, hampir di semua film tentang Yahudi, mereka selalu jadi korban. Hanya sesekali (seperti di Munich [2005], Defiance [2009]) para Yahudi angkat senjata membela kaumnya. Inglorious Basterds—seperti diucap Shosanna—adalah “the face of Jewish vengeance!”

Sebuah pembalasan yang amat berkesan. Sebuah tontonan cerdas yang bahkan gempa pun tak bisa membendungnya.

vi
Saat menonton usai gempa, tangan saya meremas tangan istri saya. Kami berpegangan sambil menonton. Jika gempa kembali mengguncang dan kami terkubur, setidaknya saya sedang melakukan hal yang paling saya cintai dan bersama orang yang saya kasihi.***


INGLORIOUS BASTERDS (2009)
Sutradara-skenario: Quentin Tarantino
Pemain: Brad Pitt, Christoph Waltz, Diane Kruger
Durasi: DUA SETENGAH JAM (dan tak berasa!)



ReviewReviewReviewSinetron “Ketika Cinta Bertasbih 2 (2009)”Sep 25, '09 8:09 PM
for everyone
Category:Movies
Genre: Drama
1
Saya datang ke bioskop dengan sebuah prasangka buruk. Filmnya akan busuk, seperti yang pertama. Di bagian awal, prasangka itu terasa benar. Ada adegan yang ingin langsung mengharu biru penonton. Seorang tokohnya, di tengah podium saat menerima penghargaan, melantunkan puisi sedih bagi kakaknya. Sang kakak terlihat menahan tangis. Oh, Tuhan… Masak kita sudah langsung disuruh nangis, sih?

Saya tak tergoda ajakan konyol itu. Saya ingin fokus melihat filmnya dan mencari-cari lagi adegan konyol apa lagi yang mungkin tersaji di depan.

Tapi, lama-lama, ko’ saya menikmati ceritanya, ya? Saya lupa dengan niatan awal, mencari cacat cela film ini. Setiap kali cacat itu muncul, saya memaafkan dan lalu mengikuti kisahnya terus. Sampai tuntas dan bahkan, ini yang saya tidak percaya, ikut terharu juga di beberapa bagian.

Saya tergolong orang yang senang dibuat haru oleh film. Saat sebuah film berhasil membuat permukaan mata saya basah, film itu saya anggap berhasil. Setidaknya, film itu berhasil mengaduk-aduk emosi penonton. Kita jadi terikat dengan cerita dan kehidupan karakter di layar.

2
Dari sini saya bertanya-tanya, bagaimana film yang bagian pertamanya saya sebut tak lancar bak novel difilmkan dengan serampangan itu bisa membuat saya nyaris menitikkan air mata?

Di film pertama, kita dikenalkan pada tokoh-tokoh film ini. Ada Azzam (Khollidi Asadil Alam) yang mesti menghabiskan waktu 9 tahun kuliah di Mesir karena mesti berjualan tempe di sela kuliah. Ada Anna (Oki Setiana Dewi, kata istri saya mukanya aneh, “mirip marmut.” Buat saya, Oki marmut yang cantik .) mahasiswi cantik yang menemukan cinta pandangan pertama pada Azzam, tapi akhirnya bertunangan dengan Furqan (Andi Arsyil Rahman), mahasiswa kaya raya lagi soleh, tapi dijebak seorang cewek Mesir dengan disuntik virus HIV. Furqan mengalami dilema hebat. Ia harus meneruskan pertunangannya dengan Anna, tapi tak mau menularinya. Ada pula Eliana (Alice Norin), putri dubes Indonesia di Mesir yang juga artis sinetron populer. Ia naksir Azzam, tapi Azzam tak berkenan pacarannya dengannya.

Lantaran terlalu nurut dengan novelnya, film pertama berjalan tak lancar. Akhirnya saya berkesimpulan, jika novel ini kisahnya difilmnkan sebaiknya film pertama tak usah dibuat. Untuk mengenalkan konflik di atas cukuplah dikisahkan dalam 30 menit pertama film.

Tapi saya sadar. Film ini produk komersil. Syutingnya di tempat asli novelnya pula, Mesir. Akan disayangkan bila dipotong. Membuat dua film adalah keputusan yang, buat saya, semata berdasar alasan komersil. Tak hanya ingin bersetia pada novelnya.

3
Yang kedua, adalah bagian di mana semua konflik diurai lalu dipecahkan. Eksotika lokasi syuting bukan lagi jualannya. Film ini, akhirnya bertumpu pada sajian utamanya: cerita.

Azzam yang pulang ke kampungnya di Kartasura, Jawa Tengah, menemukan realita hidup. Ia harus bekerja dan mencari jodoh. Film ini lantas terlalu rinci mengurai perjalanan Azzam jadi sukses.

Pertama ia merintis usaha ekspedisi, lalu menemukan ide jualan bakso “cinta”. Sementara untuk urusan jodoh, beberapa wanita jadi incarannya (Jangan artikan “mengincar” macam-macam. Ini film islami, ingat!).

Kisah hidup Azzam yang jatuh-bangun mencari jodoh bagi saya terasa betul mirip sinetron. Ia bagai rangkaian episodik karakter-karakternya, terasa dipanjang-panjangkan. Pada beberapa bagian malah terasa menggampangkan persoalan (lihat bagaimana kisah ini berakhir; si anu dengan si anu, si fulan dengan si fulanah). Kamera tidak menyoroti keeksotikan kampung Jawa. Yang disorot melulu gerak tokoh-tokohnya. Mirip betul sinetron.

Salahkah itu? Jelekkah itu? Saya berani bilang tidak. Sinetron tidaklah buruk. Sebelum sinetron Indonesia dirusak oleh produser-produser India itu, sinetron adalah produk budaya pop mencerdaskan. Enak diikuti karena aktingnya wajar dan ceritanya masuk akal.

Begitupun film ini. Chaerul Umam telah berhasil melatih para pemain baru itu berakting normal. Menonton KCB 2 mirip nonton sinetron TVRI zaman dulu. Kisahnya mengalir lancar. Akting pemainnya wajar (Deddy Mizwar dan Niniek L. Karim tetap yang paling cemerlang). Adaptasi yang disusun Imam Tantowi di sekuelnya ini berhasil mengharu biru saya.

4
Meski begitu, menurut saya, sejak awal cerita KCB memang lebih pas untuk diangkat jadi sinetron, atau setidaknya mini seri. Bukan film layar lebar. Kisahnya bisa dipecah-pecah menjadi satuan episode.

Tapi jangan saja lantas ide ini benaran dicomot produser-produser India itu. Saya tak bisa membayangkan tokoh Anna terkaget-kaget saat tahu suaminya terinveksi HIV dengan kamera menyorot matanya yang terbelalak diiringi musik menderu. ***


ReviewReviewReviewReviewEsai dalam “Cin(T)a” (2009)Aug 24, '09 7:57 PM
for everyone
Category:Movies
Genre: Drama
i
Jatuh cinta sejuta rasanya. Saat jatuh cinta, dunia serasa milik berdua. Yang lain? Mengungsi saja. Hal ini yang rasanya diyakini betul sineas film ini, Cin(T)a (2009).

Maka, yang kemudian kita saksikan adalah melulu dua tokohnya saling mengobrol. Kamera juga melulu menyorot mereka. Pemeran lain nyaris tak pernah disorot mukanya--paling-paling suara mereka saat bertelepon.

Dua sejoli yang sedang jatuh cinta itu, Cina (tanpa “Rakyat”, tanpa “Republik”) [“Aneh banget ya bokap lo. Udah tahu muka lo Cina. Masih dikasih nama ‘Cina’”] dan Annisa [“Tega kali bapak kau. Udah tau muka kau perempuan, masih dikasih nama perempuan”].

Cinta mereka terhalang tembok besar: perbedaan agama. Cina seorang katolik taat. Annisa muslim tulen.

Yang menarik di sini bukanlah apa cinta mereka akan bersatu, atau halangan apa yang akan mereka temukan bila mereka meneruskan berkasih-kasihan. Bukan. Bukan itu. Film ini tak menceritakan kalau mereka ketahuan pacaran meski berlainan agama, atau setelah ketahuan lantas dilarang orang tua masing-masing.

Film ini tak menceritakan itu semua. Film ini malah tak punya cerita. Film ini, buat saya, bukanlah film cerita.

ii
Memang sih ada cerita si A ketemu si B, lalu A dan B pacaran meski berbeda keyakinan. Tapi cerita filmnya jadi tak penting. Yang kemudian jadi maha penting di film ini adalah apa yang diucapkan tokoh-tokohnya.

Dari sini, filmnya tak lagi bertumpu pada jalinan cerita, tapi pada gagasan yang diusungnya. Film ini menjelma jadi sebuah esai. Sebuah film esai utamanya berisi gagasan pembuatnya. Dan sejatinya film tak melulu berisi cerita soal tokoh utama menghadapi pelbagai rintangan berat untuk menggapai cita-cita yang ingin diraih. Film yang baik punya pesan yang ingin disampaikan. Film yang baik punya gagasan. Film yang baik adalah esai yang baik pula.

Menurut Ignas Kleden (“Antara Obyektivitas dan Orisinalitas”, Prisma 8, 1988) kekuatan esai bukan terletak pada argumen yang dikandungnya, melainkan pada lukisan pikiran-pikiran dan gagasan. “Esai tidak berpretensi mengajukan satu pemikiran yang kokoh dan keras, melainkan suatu obrolan yang cerdas dan memikat.” Dalam esainya yang lain tentang esai, Ignas Kleden (“Esai: Godaan Subyektivitas”, Horison, XXXVIII/Januari 2004) menulis, sebuah esai menjadi prosa yang dibaca karena memikat dan mencekam perhatian, daya-tariknya muncul karena ada bayangan pribadi penulis berkelebat atau mengendap di sana.

Gagasan di film ini tidak disusun dalam jalinan cerita, melainkan lewat lontaran kalimat-kalimat para tokohnya. Tokohnya seperti dipinjam sineas untuk mengutarakan gagasan-gagasannya. Dalam hal ini, pandangan sineasnya tentang cinta, Tuhan, dan agama.

“Kenapa Allah nyiaptain kita beda-beda. Kalau Allah ingin disembah dengan satu cara?”

“Makanya Allah ciptain cinta. Biar yang beda-beda bisa nyatu.”

Juga sebuah kesimpulan:

“Tuhan yang kami sebut dengan berbagai nama. Yang kami sembah dengan berbagai cara. Terima kasih atas berkat yang Kau berikan. Jauhkanlah kami dari percobaan. Amin.”

iii
Sebagai esai, film ini jadi teramat penting. Ia lebih efektif daripada seratus buku atau seribu artikel yang menganjurkan perdamaian dalam perbedaan menyembah Tuhan.

Kepada pembuat film ini, saya hanya ingin berucap mabruk wa baraka Allahu alaikum atau, seperti sering ditulis kawan Kristiani saya di ujung SMS mereka, GBU (God Bless You).***

CIN(T)A (2009)
Sutradara: Sammaria Simanjuntak
Skenario: Sally Anom Sari & Sammaria
Pemain: Sunny Soon, Saira Jihan


ReviewReviewReviewPublic Enemies (2009) [dan Heat]Aug 16, '09 8:58 PM
for everyone
Category:Movies
Genre: Action & Adventure
1
Saya menonton lagi “Heat” (1995) untuk membandingkannya dengan film ini, “Public Enemies” (2009). Dua-duanya disutradarai Michael Mann. Dua-duanya mempertontonkan adu akting dua aktor hebat dari generasinya dalam satu layar: Al Pacino dan Robert DeNiro di “Heat”; Johnny Depp dan Christian Bale di “Public Enemies”.

Kisahnya juga mirip-mirip, tentang perampok bank, berikut aksi kucing-kucingan polisi mengejar si jahat sepanjang hayat dikandung badan. Di kedua film, ada adegan saat si perampok bank berkata kalau yang ia rampok bukannya uang nasabah, tapi uang milik bank. Di kedua film hendak dikesankan, si perampok tak jahat-jahat amat. Mirip Robin Hood malah.

Maka, mana yang lebih baik, “Heat” atau “Public Enemies”?

2
Terus terang saya lebih menyukai “Heat” seratus kali. “Public Enemies”, menurut saya, punya sejumlah kelemahan.

Pertama, judulnya. Jika fokus ceritanya melulu soal John Dillinger (Depp) mengapa pula mengambil bentuk jamak (enemies) dan bukannya tunggal (enemy)? Soal yang ini masih bisa saya maafkan. Mungkin karena di sini Dillinger tak beraksi sendirian. Ia merampok bareng komplotannya.

Kedua, pilihan kemera yang digunakan Mann. Tampaknya, sejak sukses “Collateral”, Mann semakin jatuh cinta pada jenis kamera digital high defenition. Di film yang mempertemukan Tom Cruise dan Jamie Foxx itu, kamera digital amat piawai menyorot adegan demi adegan. Kita seolah tak sedang menonton film, tapi menjadi mata yang mengikuti ke mana tokohnya melangkah dan bertindak. Bak film dokumenter, Mann menyajikan gambar apa adanya.

Teknik penggunaan kamera model itu mungkin tepat buat film macam “Collateral”, tapi rasanya tak cocok buat film gangster bersetting tahun 1930-an model “Public Enemies” ini. Kamera seluloid terlihat lebih cocok mengantarkan zaman itu.

Perhatikan adegan saat pistol menyalak atau saat tokohnya berlari disorot kamera yang dipegang-tangan (hand-held). Di situ gambar berbayang dan kabur. Memang sih, terlihat lebih real. Membuat kita seolah-olah ada di situ. Tapi, sesungguhnya, efek dramatis itu tidak tepat. Film bersetting tahun ’30-an baru dibilang berhasil bila kita seperti berada di jaman itu, dan bukannya mirip wartawan perang yang diterjunkan ke Irak bareng tentara.

Untuk dosa yang ini, saya masih bisa memaklumi. Mungkin tujuan Mann memang tak hendak mengajak kita naik “mesin waktu”-nya ke tahun-tahun itu, melainkan ingin menyoroti kehidupan gangster apa adanya. Persis siaran berita.

Dosa yang tak bisa saya maafkan adalah pada tumpuan kisahnya. Mestinya, Mann sadar tak sedang membuat tayangan untuk berita TV, melainkan film cerita. Film cerita butuh penjelasan logis dan kausalitas yang padu. “Public Enemies” tak punya itu. Tidak pernah dijelaskan motivasi atau latar belakang Dillinger dan kawananya merampok bank. Film hanya memerlihatkan Dillinger kabur dari penjara, merampok bank, lantas dikejar-kejar polisi—di antara itu diselingi dengan jatuh cinta pada seorang cewek (Marion Cotillard).

3
Saya justru menemukan, apa yang tak ada di “Public Enemies” terdapat semuanya di “Heat”. Latar belakang dan motivasi perampok bank? Ada. Si polisinya juga diceritakan punya masalah pribadi sama berat dengan kasus yang ditanganinya. Jatuh cinta pada cewek? Itu juga ada.

Buat saya, “Public Enemies” ibarat Mann hanya mengambil sebagian dari isi skenario yang lebih panjang. Bagian yang mengenai latar belakang tokohnya tak ia ambil. Setelah saya googling, saya menemukan kalau film ini memang diadaptasi dari sebagian isi buku “Public Enemis: America’s Greatest Crime Wave and the Birth of the FBI: 1933-34” karya Bryan Burrough. Oh, pantas saja. Kisahnya memang ia cuplik sebagian. Maka yang muncul adalah tontonan serba tanggung. Kita diberi dar-der-dor seru, tapi nyaris tanpa makna. Tanpa emosi. Tanpa nyawa.

Hanya adegan terakhir saja, saat seorang polisi menjenguk kekasih Dillinger di penjara, yang meninggalkan kesan paling mendalam dari film ini.***

PUBLIC ENEMIES (2009)
Sutradara: Michael Mann
Skenario: Ronan Bennet, Ann Biderman, Michael Mann
Pemain: Johnny Depp, Christian Bale, Marion Cotillard
Durasi: 140 menit






ReviewReviewMendudukkan “Merah Putih (2009)”Aug 14, '09 10:27 PM
for everyone
Category:Movies
Genre: Action & Adventure
1
Saya tak ingin bertanya-tanya apa seragam kadet calon perwira di tahun 1947 seperti yang terlihat di film ini, pakai dasi segala.

Saya tak ingin bertanya-tanya apa nama akademi militer saat itu dinamai Sekolah Tentara Rakjat dan bukannya Akademi Militer saja (seperti saat saya googling dan menemukan keterangan soal Pertempuran Lengkong di tahun 1946 antara taruna Akademi Militer Tangerang dengan tentara Jepang yang ogah menyerah).

Saya tak ingin bertanya-tanya apa begitu keadaan akademi militer di tahun-tahun itu?

Saya tak sedang ingin mempertanyakan keotentikan detil sejarah film ini. Sebab, sineasnya sendiri belum apa-apa sudah bilang begini: “Kalau tidak difiksikan, saya harus bersandar pada sejarah. Kalau begitu, saya angkat tangan karena harus ada riset yang sangat teliti. Dengan fiksi, saya bisa melanggar beberapa hal. Saya lebih bebas,” kata Yadi Sugandi, sutradaranya seperti dimuat Koran Tempo (23/7/2009).

2
Duh, berabe juga bila sineas kita malas riset. Padahal arsip dari tahun-tahun di masa revolusi fisik melimpah di arsip nasional, dokumentasi foto Ipphos, dan entah di mana lagi. Sekadar googling di internet pun, pasti ketemu bahan-bahan bacaan atau sejumlah foto-foto jadul.

Lantas, bila film ini tak menawarkan keotentikan sejarah, apa lagi yang ditwarkannya?

Film ini jelas utamanya untuk membangkitkan nasionalisme. Hal itu dibalut aksi megah ledak-ledakan yang tak kalah dari film-film perang Hollywood. Dari sini saya jadi ingat film aksi-perang di tahun 1970 dan ‘80-an. Waktu itu, genre ini sempat populer. Selain yang otentik sesuai sejarah (misal Janur Kuning [1979], Serangan Fajar [1981], Bandung Lautan Api [1974]), ada juga yang utamanya mengedepankan aksi heroisme, yakni Pasukan Berani Mati (1982) dan Komando Samber Nyawa (1985). Dua film yang disebut terakhir, dibintang Barry Prima, sang bintang aksi kelas wahid kala itu. Kisahnya tak punya cantelan sejarah, hanya aksi mempecundangi tentara Belanda melulu.

Persoalan manusia di masa revolusi tak terlalu disentuh. Beda dengan film-film revolusi bikinan generasi Usmar Ismail di tahun 1950-an. Sekali waktu, tontonlah Darah dan Doa (Usmar Ismail, 1950), Anda akan kaget kalau revolusi kemerdekaan tak semata persoalan dar-der-dor. Di film ini juga bicara soal manusia dalam kemelut revolusi itu. Lihat pula film Usmar lain, Lewat Djam Malam (1954). Di sini, Usmar membicarakan manusia yang sudah berkorban dalam revolusi fisik, tapi merasa terasing saat mesti hidup di jaman normal.

3
Karenanya, mendudukkan “Merah Putih” (2009) sebagai kelanjutan film-film revolusi di tahun 1950-an (eranya Usmar dkk) teramat salah.

Film ini tampil seolah tanpa beban sejarah. Akademi militer di sini tak ada bedanya dengan yang kita saksikan di bagian awal mini seri Band of Brothers. Apa benar pada kenyataannya begitu, film ini tak hendak menyajikan kebenaran sejarah.

Manusianya? Memang ada ajaran untuk mencintai negeri di atas segalanya, persahabatan yang tak mengenal latar etnik dan agama, tapi, buat saya, itu tampil sebatas tempelan sekaligus fragmentaris. Perhatikan misalnya konflik Tomas (Donny Alamsyah) dan Marius (Darius Sinathrya) yang seolah berhenti saat Tmas berkorban agar Marius tak dikeluarkan. Tapi kemudian, mereka berkonflik lagi saat Marius bertindak pengecut, meninggalkan sahabatnya mati sendirian.

Terlihat betul sineasnya tak menjaga ritme konflik. Ada pula momen saat tkoh tempelan bertubuh subur menjahit jimat yang katanya kebal peluru. Saat si tokoh itu mati, tak ada lagi penjelasan kalau jimatnya tak berguna. Adegan matinya tak istimewa. Seolah ia hanya figuran tak penting. Padahal, soal jimat ini mengingatkan saya pada satu adegan di film Lebak Membara (1982). Ada adegan seorang jago kampung yang punya jimat kebal peluru. Tapi jimat itu tersangkut di pagar saat ia memanjat markas tentara sekutu. Akhirnya ia tewas diberondong peluru. Adegan tewasnya begitu dramatis. Saya yang menontonnya waktu kecil, teringat terus.

4
Karenanya paling pantas mendudukkan “Merah Putih” dalam jejeran film perangnya Barry Prima saja. Duo bule yang mengarang cerita film ini mungkin sedang membayangkan membuat film perang sehebat “Saving Private Ryan” , “The Thin Red Line”, atau “Band of Brothers”. Namun, tiga film itu tak hanya hebat secara sinematografis, tapi juga tepat secara historis.

Ini yang membuat “Merah Putih” gagal jadi Saving Private Ryan versi lokal. Sayang, memang, sebab Korea sudah berhasil mengadaptasi sejarah Perang Korea dalam film seru sekaligus bermutu lewat “Taegukgi”.

Soal Yadi Sugandi? Ah, alih-alih mirip Jan DeBont yang sukses membuat “Speed” setelah bertahun-rtahun jadi juru kamera, Yadi lebih mirip Peter Pau, juru kamera yang meraih Oscar lewat “Crouching Tiger, Hidden Dragon”, tapi gagal saat membuat “The Touch”. Seperti Pau, ia piawai menyajikan gambar ciamik, tapi luput memberi cerita yang asyik diikuti.***

MERAH PUTIH (2009)
Skenario: Conor Allyn, Rob Allyn
Sutradara: Yadi Sugandi
Pemain: Lukman Sardi, Donny Alamsyah, Darius Sinathyra, Zumi Zola, Teuku Rifnu Wikana, Astri Nurdin
Produser: Hashim Djojohadikusumo, Rob Allyn, Jeremy Stewart
Produksi: PT Media Desa Indonesia, Margate House
Durasi: 108 menit


ReviewReviewMerantau (2009): Film Silat yang Tak LancarAug 9, '09 7:02 PM
for everyone
Category:Movies
Genre: Action & Adventure
Trailer-nya begitu megah. Tak kalah dengan film-film aksi Hollywood. Tapi, ibarat buku, tak elok menilai film hanya dari trailer-nya. Sebab, trailer sejatinya dibuat sebagai undangan menonton. Sajian utama tetap filmnya.

Trailer yang megah dan genre yang lama tak muncul dalam jagad film nasional pastilah mengundang siapapun untuk cari tahu. “Merantau” (2009) begitu menggoda untuk diabaikan.

Apa yang dilakukan “Merantau” sebenarnya melanjutkan apa yang sudah bertahun-tahun hadir dalam perfilman kita. Film silat bukanlah genre baru. Di tahun 1970-an dan ’80-an genre ini pernah begitu populer. Awalnya sineas kita mengekor film-film kung fu Hong Kong yang marak di tahun’70-an. Hingga muncul anggapan, meski filmnya menampilkan silat lokal terasa seperti menonton film kung fu. Genre ini lantas berkembang. Beragam judul muncul. Kita kemudian mengenal para jagoan macam Barry Prima dan George Rudy, atau langganan penjahat Advent Bangun.

Seiring lesunya perfilman nasional di tahun 1990-an, genre ini ikutan mati suri. Barry Prima muncul satu dua kali dalam film laga berbalut seks yang marak di dasawarsa itu.

Nah, setelah lebih dari 10 tahun film bergenre ini muncul lagi, kehadirannya perlu disambut.

“Merantau” diproduseri orang Indonesia, tapi dibuat sineas asing asal Wales, Inggris (Gareth Evans). Bintangnya kebanyakan orang kita, meski tokoh antagonisnya bule. Campur aduk asing-lokal mengingatkan pada film-film aksi akhir awal ‘90-an. Waktu itu perfilman kita ikut diramaikan bintang kelas B Hollywood, Cynthia Rothrock (Pertempuran Segitiga [1990], Tiada Titik Balik [1991], Bidadari Berambut Emas [1992], Membela Harga Diri [1992]) dan Frank Zagarino (Pemburu Teroris [1994]). Dalam cacatan JB Kristanto di buku Katalog Film Indonesia, penggunaan pemain asing dilakukan produser (terutama Rapi Film) untuk pemasaran di luar negeri. Tentu, filmnya masuk kategori kelas B (mungkin F—mengingat hasil akhirnya).

Balik ke “Merantau”, film ini punya penceritaan teramat klise. Seorang jago silat kampung (Iko Uwais) dari tanah Minang, merantau ke kota. Impiannya ingin jadi guru silat. Sial, kenyataan kadang tak sesuai impian. Ia malah berurusan dengan orang-orang jahat dan, tentu, menolong seorang “gadis-cantik-yang-terpaksa-melacur-yang-tinggal-berdua-bersama-adik-lelakinya-yang-minta-diajari-silat-pada-si-jagoan”.

Oke, kebanyakan film silat punya cerita tipikal (hanya Quentin Tarantino saja mungkin yang bisa mengubah apa yang tipikal dan strereotip jadi tontonan cerdas). Film-film kung fu bikinan Hong Kong milik Jacky Chan atau Jet Li nyaris tipikal semua. Sebab, yang utama bukan kisahnya, tapi aksi kung fu mereka.

Film ini rasanya diniatkan begitu pula. Bedanya, film Jacky dan Jet Li, meski titpikal, punya alur yang runut dan enak diikuti. Lain dengan “Merantau” ini. Di luar aksinya yang tak kalah keren dari film-film Hong kong (atau Hollywood sekalipun), film ini anehnya berjalan lambat. Skenario yang ditulis si bule (Evans, maksudnya) begitu lemah. Untuk menunggu adegan baku-gebuk yang setu, kita diajak terengah-engah menonton dialog-dialog klise dahulu.

Hal ini yang patut disayangkan. Andai film ini bicara lebih lancar, “Merantau” bisa jadi sebuah film penting di jagad sinema kita.***

MERANTAU (2009)
Sutradara-Skenario: Gareth Evans
Pemeran: Iko Uwais, Sisca Jessica, Yusuf Aulia, Mads Kuodal, Laurent Lohan Buson, Yayan Ruhian, Alex Abbad, Donny Alamsyah, Christine Hakim
Durasi: 135 menit



ReviewReviewReviewKing (2009) dan Senjakala Bulu TangkisJul 3, '09 11:03 PM
for everyone
Category:Movies
Genre: Drama
Heran juga mengapa baru sekarang sineas kita tertarik mengangkat olahraga ini ke layar putih. Justru di saat kita, sebagai bangsa, lamat-lamat mulai kehilangan supremasinya di cabang olahraga menangkis bulu terbang ini. Ya, coba ingat-ingat kapan terakhir kali kita mengawinkan gelar Uber dan Thomas, juara Sudirman Cup, All England, atau grand slam badminton lainnya? Rasanya hanya tradisi emas olimpiade yang masih bisa kita pertahankan—itupun dengan susah payah dan saya tak yakin kita bisa terus mempertahankan tradisi ini.

Jika di dunia nyata kita tengah terpuruk, tak demikian di layar lebar. Dan mungkin di sinilah King (2009), debut menjanjikan dari Ari Sihasale, mendapat tempatnya. King menyajikan optimisme bahwa bulu tangkis pernah demikian digilai masyarakat. Selain sepakbola, inilah olahraga yang masuk kategori permainan rakyat—tua-muda, kaya-miskin. Bulu tangkis, seperti dikatakan lagu sunda itu, ada di mana-mana. Di kota dan di desa.

Saya mengatakan pernah, karena saya tak melihatnya seperti itu lagi kini. Saya ingat betul, di tahun ’80 dan ’90-an, bulu tangkis jadi permainan wajib 17 Agustusan. Mungkin masih ada yang mempraktekkannya. Tapi pasti gregetnya kalah dari sinetron. Kini orang lebih suka terpekur di depan TV ketimbang menyemangati tetangganya main badminton.

Buat saya, King sebuah film masa lalu—meski tak diniatkan begitu. Sebuah masa lalu penuh kenangan. Ia menjual romantisisme. Sebuah klangenan bagi masyarakat urban yang masa lalunya dulu pernah mendapati dunia seperti di film King; desa yang indah permai di kampung halaman; kebersamaan dan saling tolong antar tetangga; semuanya disatukan olahraga yang nyaris jadi ritual suci: bulu tangkis. Semua itu entah ke mana sekarang.***

KING (2009)
Sutradara: Ari Sihasale
Skenario: Dirmawan Hatta
Pemain: Raden Raditya, Lucky Martin, Valerie Thomas, Mamiek Prakoso, Surya Saputra
Durasi: 90 menit



ReviewReviewReviewGaruda di Dadaku (2009): Film Kebanggaanku…Jun 20, '09 6:30 AM
for everyone
Category:Movies
Genre: Kids & Family
i
Bikin film yang disuka penonton anak sekaligus dewasa amatlah sulit. Untuk ukuran sinema sini, sudah ada beberapa yang mencoba. Hasilnya, lebih banyak gagalnya ketimbang berhasil (disuka anak dan orangtuanya).

Untuk disebut film anak ada rumusan kategori yang harus dipenuhi. Si Komo, eh Kak Seto, pernah bilang ke Femina, sebuah film anak haruslah memenuhi unsur-unsur: 1) pendidikan, 2) etika, 3) estetika, 4) nasionalisme, dan 5) hiburan. Pendeknya, tontonan sekaligus tuntunan. Yang benar, tuh? Apa ada film yang punya unsur sempurna begitu?

Sementara itu, sejak awal 1990-an, di Hollywood sana berkembang tren film anak yang juga disuka penonton dewasa. Film animasi The Lion King (1994) dan Aladdin (1992) disuka dua golongan penonton yang terpaut usia ini. Kita tahu, anak-anak suka cerita binatang atau hikayat negeri dongeng.

Kalau, penonton dewasa? Oh, mereka diberi sub-teks yang kira-kira hanya akan dimengerti mereka saja. Misalnya, jin di Aladdin bisa berubah wujud jadi Robert DeNiro atau Jack Nicholson. Ini siasat sutradara untuk menyelipkan homor-humor bagi penonton dewasa. Semacam kode rahasia yang hanya dipahami orang dewasa.

Kelakar orang dewasa cuma satu cara. Cara lain, misalnya yang dilakukan The Incredibles (2005), memberi plot yang rumit selayaknya film dewasa. Hanya tampilan dan wujud karakternya untuk anak-anak, yakni animasi komputer.

Dari sini kemudian kita kenal istilah film keluarga: film yang ditujukan buat semua anggota keluarga, dewasa dan anak-anak.

ii
Lalu, masuk kategori mana film ini, Garuda di Dadaku (2009)? Pemain utamanya jelas anak-anak. Kisahnya juga tentang mereka. Tapi, film ini, buat saya yang sudah bangkotan ini, juga mengena. Sementara itu penonton anak-anak yang diajak orangtuanya di bioskop—saat saya menonton film ini—juga ikut terbahak menontonnya.

Kelakar dewasa yang biasa diselipkan sutradara di film anak juga muncul di sini. Saat para tokohnya datang ke kuburan mencari lapangan, misalnya, ada kelakar yang menyindir film horor. Kelakar ini, meski dibahaki juga penonton anak, sejatinya sindiran pada film-film horor bagi penonton dewasa (saya). Lalu juga kritik-kritik sosial yang terselip sepanjang film (lapangan bola yang tergusur gedung bertingkat, misalnya), jelas hanya akan dimengerti penonton dewasa, bukan anak-anak.

Film ini juga lebih punya pesan khusus pada penonton dewasa, ketimbang anak-anak. Orang tua (baca: penonton dewasa) dipesan agar jangan terlalu mendikte anak menuruti kemauannya. Jangan terlalu merasa paling tahu apa yang anak inginkan—meski hal itu tulus demi masa depan si anak.

iii
Lantas, mana pesan buat anak-anaknya? Mereka diajari persahabatan sejati seperti apa. Persahabatan yang tak mengenal jarak (kaya-miskin, sempurna-tak sempurna). Juga soal nasionalisme. Film ini sedikit banyak mengajarkan betapa bangganya bisa mengenakan kostum nasional berlambang garuda di dada.

Kesimpulannya, film ini telah memenuhi semua unsur yang disebutkan Si Komo, eh Kak Seto. Sebuah rumusan perfeksionis yang hampir mustahil diwujudkan.

Benar juga. Tidak ada “hil” yang “mustahal” ternyata. Salut buat sineas film ini. Sampai pulang saya terngiang lagu temanya terus. Garuda di dadaku, garuda kebanggaanku… Ya, ini film kebangaanku (penonton dewasa). ***

GARUDA DI DADAKU (2009)
Sutradara: Ifa Isfansyah
Skenario: Salman Aristo
Pemain: Emir Mahira, Aldo Tansani, Ikranegara, Maudy Koesnady
Durasi: 90 menit


ReviewReviewReviewA Very “Star Wars” Star Trek (2009)Jun 15, '09 10:27 PM
for everyone
Category:Movies
Genre: Science Fiction & Fantasy
i
Andai saya menonton film ini sebelum menonton semua jilid film Star Wars yang ada, pasti saya akan jadi penggemar Star Trek. Seorang Trekkies.

Tapi tidak begitu pada kenyataannya. Saya keburu kenal Star Wars dulu baru Star Trek. Pikiran polos anak-anak saya lebih menyukai Star Wars yang lebih seru peperangan antariksa-nya ketimbang Star Trek yang, menurut saya waktu kecil dulu, banyak obrol itu.

Saya waktu itu belum bisa meresapi, bahwa dalam obrolan tokoh-tokoh Star Trek terdapat nilai-nilai filsafat yang luhur. Pertarungan baik buruk Jedi dan Sith. Omongan Chewbacca dan R2D2 lebih mengena buat kepala saya, ketimbang bahasa Klingon.

Buat saya, film-film Star Trek membosankan. Adegan peperangan melulu disorot dari ruang kendali. Sang kapten duduk manis sambil memerintahkan ini-itu pada anak buahnya. Kadang tubuhnya bergetar lantaran pesawat kena tembak. Tidak banyak gambar menyorot bagaimana pesawat ruang angkasanya bermanuver.

Beda dengan Star Wars. Millenium Falcon, pesawat Han Solo, tokoh Star Wars, menukik ke sana kemari menghindari tembakan dan membalas. Begitu juga pesawat-pesawat lain.

Ah, apa karena pesawat-pesawat di Star Wars umumnya kecil-kecil jadi lebih lincah? Mungkin. Tapi mestinya itu tak jadi alasan Star Trek jadi terlalu banyak obrol.

Maka, Star Trek hanya jadi tontonan pelengkap bagi saya yang menggemari film-film fiksi ilmiah. Ia tak cukup meninggalkan kesan mendalam, meski sudah mengajak saya ke tempat-tempat yang belum dicapai manusia sebelumnya.

ii
Syahdan, datanglah JJ Abrams yang sudah bikin Alias, Lost, dan MI:3 itu. Mumpung lagi jamannya re-boot alias permak ulang, kisah franchise puluhan tahun ini pun perlu dipermak agar tak ketinggalan jaman. Batman dan James Bond terbukti sukses.

Jadi, mengapa tak mencobanya pada Star Trek?

Pertanyaannya, re-boot macam apa yang mesti dilakukan? Abrams yang lahir saat serial TV aslinya baru dimulai (1966) sepertinya tahu formula re-boot sukses: kembali ke asal; permak ulang mulai dari awal; lupakan film-film sebelumnya sebagai acuan.

In short, tell the prequel instead of make another sequel. Artinya, kisah yang diceritakan umumnya saat tokoh-tokohnya masih muda, masih mencari jati diri. Bukankah inti kisah terbaru James Bond (Casino Royale, Quantum of Solace) dan Batman (Batman Begins, The Dark Knight) tentang bagaimana segalanya bermula?

Pun demikian dengan Star Trek (2009) versi baru ini. Film ini mengisahkan bagaimana Kapten James T. Kirk dan Mr. Spock bermula. Darimana mereka berasal hingga awalnya keduanya saling bertentangan baik sifat dan perangai. Namun, tentu ini film Hollywood yang mesti happy ending. Dua pribadi berbeda itu pada akhirnya saling melengkapi.

iii
Kisahnya masih dibumbui dengan teori perjalanan waktu dan filsafat yang muncul sedikit-sedikit dalam dialog tokoh-tokohnya. Tapi, buat saya, malah terasa kurang meresap. Karena mata ini lebih konsen dengan suguhan ciamik Abrams. Efek khusus dan adegan peperangannya beda betul dengan film-film Star Trek sebelumnya.

Abrams memang datang untuk mempermak semuanya. Ia bikin Star Trek yang lebih seru. Ketegangan di ruang kendali lebih terasa lantaran kamera lebih kreatif menyorot dari beragam angle. Di luar angkasa, ia bikin pertempuran yang lebih memukau.

Tapi, feel-nya kok lebih Star Wars ketimbang Star Trek, ya? Pesawat Star Fleet milik Federasi di film ini, buat saya, mirip Millenium Falcon. Belum lagi bagian lainnya. Saat Kirk terdampar di planet salju dan dikejar makhluk ganas, saya merasa dejavu dengan satu adegan di Star Wars: The Empire Strikes Back, waktu Luke Skywalker mesti melawan makhluk ganas di planet bersalju juga.

Dan, terutama, karakter Kirk dan Spock di film ini mirip karakter utama Star Wars. Kirk yang pemberontak dan tidak taat aturan mirip Han Solo; sedang Spock yang kaku dan hidup lurus mirip Luke Skywalker. Kisah cinta segitiga yang dikesankan terjadi di antara keduanya dengan Uhura juga mengingatkan saya bahwa, pada awalnya, Han Solo dan Luke juga sama-sama naksir Puteri Leila.

iv
Pertanyaannya kemudian, Salahkah semua itu? Tentu tidak. Menurut saya, James Bond versi Daniel Craig mirip James Bourne-nya Matt Damon. Dan itu tak mengurangi kualitasnya. Mirip bukan persis sama. Mirip bukan meniru mentah-mentah. Itu justru langkah yang mesti diambil dalam rangka mengikuti jaman yang berubah.

Pun demikian dengan Star Trek. Yang dilakukan Abrams justru langkah jitu. Penggemar berat Star Wars pasti akan menyukai film ini. Dan mungkin, anak-anak bau kencur yang baru pertama kali nonton Star Trek pasti akan menyukai seri ini—ketimbang Star Wars yang sudah tamat itu.

Hanya saja, di akhir film, saat kalimat yang sering diucapkan di film-film Star Trek bergema mestinya diganti dengan: “A long time ago in galaxy far far away….” ***

Star Trek (2009)
Sutradara: JJ Abrams
Penulis Skenario: Roberto Orci, Alex Kurtzman
Kreator: Gene Roddenberry
Pemain: Chris Pine, Zachary Quinto, Leonard Nimoy
Durasi: 127 menit



Category:Movies
Genre: Drama
Ketika Cinta Bertasbih (2009): “Writer’s Cut”, Bukan “Director’s Cut”
Oleh Ade Irwansyah*)

1
Saat menonton adegan pernikahan antara Fahry dengan Aisha di Ayat-ayat Cinta (AAC, 2008), diri ini bergumam dalam hati, “Kok, pernikahannya lebih mirip film India, ya? Apa lantaran produsernya keturunan India?”

Mungkin ya, mungkin tidak. Yang pasti, di AAC, Kang Abik, sapaan pengarangnya Habiburrahman El-Shirazy, jelas tak terlalu intens dilibatkan dalam versi film dari novel best seller-nya itu. Sehingga yang kemudian terlihat di versi filmnya berbeda dengan novelnya. Versi filmnya, misalnya, dibuat lebih melodramatis. Bukan saja menghidangkan yang tak ada di novel ke penonton, tapi filmnya, ya itu tadi, lebih mirip “film India” minus nyanyi dan tari ketimbang film islami. Belum lagi produsernya yang ingin main hemat, mengubah tempat syuting di Mesir sesuai cerita aslinya ke India.

Syahdan, AAC tetap sukses ditonton jutaan orang. Sebagian kecil karena pembaca novelnya yang ingin melihat “chicklit akhwat” kesayangan mereka difilmkan; sebagian besar lain, bagaimanapun, lantaran suka dengan penggarapan melodramatis bikinan Hanung Bramantyo, sutradaranya.

Meski dapat bonus tambahan usai filmnya sukses, dalam hati Kang Abik, saya rasa, ada yang mengganjal. AAC versi film, sedikit banyak mengkhianati novelnya.

2
Maka, saat ada tawaran produser lain mengincar novelnya yang satu lagi, Kang Abik pasang kuda-kuda. Pastinya ia mengajukan syarat ini-itu bila novelnya difilmkan. Nah, produser yang mungkin matanya sudah hijau melihat uang di depan mata (karena mengira filmnya akan sukes, bagaimanapun hasilnya) pasti mengiyakan saja. Segala syarat Kang Abik pasti dipenuhi. Bahkan ditawari jadi salah satu pemain. Ibarat kata, minta bumi dan langit pun pasti dikasih.

Justru di sini masalah bermula. Selain jadi aktor, Kang Abik utamanya dilibatkan sebagai supervisor. Pengawas di sini bertugas tak hanya mengawasi dari jauh. Tapi juga dimintakan pendapat ini-itu, bahkan—bisa jadi—dimintai tanda tangan tanda persetujuan. Maka, Chaerul Umam yang sudah bikin film islami Titian Serambut di Belah Tujuh itu dan Imam Tantowi yang penulis skenario kawakan itu tak lebih hanya berfungsi sebagai tukang. Orang suruhan. Ke mana produsernya, yang punya uang itu? Oh, dia sih—sepertinya lagi—tak terlalu pusingkan hal ini. Ia malah sibuk bikin hype agar film ini sudah ada di benak orang jauh sebelum tayang. Caranya juga norak: membuat proses casting pemain debutan dalam reality show model AFI, KDI, atau semacamnya—yang kemudian berujung pada masalah lain saat filmnya jadi lantaran sebagian besar dari para debutan ini berakting kaku.

Hasilnya, filmnya bersetia pada novelnya. Jelas betul adegan per adegan seperti dicomot mentah-mentah dari novelnya. Tak peduli apa adegan itu penting atau tidak. Tak peduli apa adegan itu terlalu literer.

3
Ya, film ini, Ketika Cinta Bertasbih (2009), tak memiliki bahasa visual jitu. AAC yang keterlaluan India-nya itu pada beberapa adegan (yang berarti di sini bahasa visualnya berhasil) masih membuat tersentuh (ingat adegan saat Fachry menikahi Maria atau saat Fachry shalat dengan Maria). Tapi yang ini, adegan menyentuh justru saat tokohnya membaca surat penuh haru dari kampungnya di Indonesia. Menyorot adegan baca surat cukup dengan mengambil gambar close-up tokohnya dan diberi voice over isi surat dari pengirimnya. Artinya lagi, yang bikin haru bukan adegannya. Tapi suratnya. Bahasa literernya. Bukan bahasa visualnya.

Saya percaya, film dinilai justru dari bahasa visualnya karena film bergantung pada gerak gambar dan adegan. Sedang sastra dinilai dari pilihan kata pengarangnya. Saat film lebih banyak berkata-berkata, filmnya jadi banyak omong.

Dakwah di film ini juga teramat verbal. Hadist, ayat, atau pendapat ulama sering dikutip utuh sambil merujuk ke halaman yang dimaksud segala. Saat seorang tokohnya akan mengambil buku kitab yang jadi rujukannya ketika mengajukan syarat ini-itu waktu dipinang, saya sampai kuatir jangan-jangan ia akan membacanya mulai dari kata pengantar (untung tidak). Film ini mirip khotbah yang disampaikan mulut tokoh-tokohnya.

Mendiang Asrul Sani yang sineas jenius itu suatu kali berkata , khotbah itulah yang paling mudah. Artinya, sineas film ini cari gampangnya saja. Mereka kurang berpikir keras membikin bahasa gambar yang berisi dakwah secara halus, tidak verbal dan penuh khotbah. Padahal yang halus dan seperti tak terasa itulah yang lebih mengena. Usai menonton film ini, sumpah saya tak ingat nama kitab-kitab atau perawi hadist yang jadi rujukan hukum anu dan anu.

4
Dari sini saya lantas teringat Laskar Pelangi (2008) film mega box office yang juga berangkat dari novel laris. Penulisnya, Andrea Hirata, konon dengan rendah hati berserah sepenuhnya pada sineas (Riri Riza [sutradara], Mira Lesmana [produser], dan Salman Aristo [skenario]) untuk membuat filmnya.

Meski punya hak penuh atas kisahnya, ia sadar dirinya bukan sineas melainkan penulis novel. Ia sadar, novel dan film bisa berlainan karena keduanya medium berbeda dan berbicara dalam bahasa berbeda pula. Hasilnya, versi filmnya malah memperbaiki apa yang sudah sangat baik ditulis Andrea. Versi filmnya jadi karya yang nyaris lepas dari novelnya, tapi dengan hasil sama baiknya. Pecinta novelnya tak merasa dikhianati meski ada bagian novel yang hilang. Sebab toh mereka disuguhi tontonan yang ciamik tenan.

Beda dengan yang ini. Penonton film malah dikalahkan. Kang Abik pemenangnya. Jika mengikuti tradisi rilisan DVD di Hollywood sana, mending menunggu versi “Director’s Cut” dari film ini. Siapa tahu berbeda dengan yang ini, versi “Writer’s Cut”. ***


Category:Movies
Genre: Drama
1
Dari memoar Misbach Yusa Biran (Kenang-kenangan Orang Bandel, 2008) saya menemukan bagaimana istilah “teater” digunakan saat ini. Alkisah, pertunjukan panggung sudah jadi tontonan populer sejak Indonesia belum lahir. Di awal abad 20, namanya opera stamboel. Disebut “opera” karena dialognya diucapkan sambil bernyanyi dan kata “stamboel” diterakan karena kisah yang dibawakan umumnya cerita-cerita raja jaman dulu, entah kisah 1001 malam atau dari India, yang dikira berasal dari Istambul, Turki.

Opera stamboel ini lantas dipermak jadi pertunjukkan modern dan dinamai toneel dari bahasa Belanda. Saat Jepang datang, segala berbau Belanda dilarang. Kata toneel diganti “sandiwara”. Setelah merdeka, ekspresi berkesenian bangkit. Seni pertunjukan jadi sesuatu yang diseriusi seniman. Para pegiatnya ogah menyebut karya seni mereka dinamai sandiwara untuk membedakannya dengan pertunjukan cara lama. Mereka menyebutnya: teater.

Hubungan teater, sandiwara, toneel—atau apapun namanya—dengan film nyaris sama tuanya dengan usia film sendiri. Pemain dan kru toneel sudah masuk dunia film sejak dulu. Film box office pertama Indonesia, Terang Boelan jadi sukses karena dimainkan orang-orang yang sudah populer di jagad toneel.

Di tahun 1970-an, Teguh Karya, seorang sutradara teater ternama saat itu, mencoba peruntungan di dunia film sambil memboyong pemain-pemain asuhannya di Teater Populer. Film pertama Teguh, Wajah Seorang Lelaki (1972) dinilai Salim Said di buku Pantulan Layar Putih (1991) dengan “… tidak mengecewakan. Penonton maupun penggemar Teater Populer, keduanya mendapat bagian.” Artinya, meski aroma teater terasa di film itu, aspek filmis tetap dapat porsi.

Saya teringat pernah berbincang dengan mantan bos di Bintang Indonesia soal film-film Teguh Karya. Katanya, Teguh tak pernah membiarkan aktornya berdialog tanpa bergerak. Saat duduk pun, katanya, Alex Komang, misalnya, bisa tiba-tiba berdiri sambil bicara melupa-luap. Tubuhnya bergerak-gerak tak mau diam. Saya sudah menonton beberapa film Teguh dan merasa betul film-filmnya beraroma teater kental. Film November 1828 (1978) misalnya, mirip sekali sebuah teater yang difilmkan. Terutama pada setting yang sebagian besar berlangsung di sebuah ruangan rumah. Cerita dijalin dari dialog tokoh-tokohnya.

2
Syahdan, tempo hari saya menonton “Jamila dan Sang Presiden” (Ratna Sarumpaet, 2009). Aslinya ini sebuah naskah drama bikinan sutradaranya, Ratna Sarumpaet berjudul “Pelacur dan Sang Presiden” (2006). Entah karena alasan apa, “pelacur” diganti nama tokohnya, Jamila (Atiqah Hasiholoan). Ratna, seperti Teguh, juga orang teater.

Melihat Jamila saya jadi teringat Firdaus, tokoh dalam novel feminis “Perempuan di Titik Nol” karya feminis Mesir Nawaal El-Sadawi. Firdaus, seperti Jamila, juga dipenjara. Dalam bui ia mengurai nasibnya yang pedih dari kecil hingga kemudian jadi pelacur dan dijebloskan ke penjara. Firdaus melimpahkan semua kesalahan pada pria. Dalam novel digambarkan, ia meminta dibawakan koran setiap hari untuk diludahi setiap ada potret pria.

Jamila mirip-mirip. Saat kecil, karena miskin dan punya bapak bejad, ia dijual. Lalu tinggal bersama keluarga kaya untuk kemudian jadi budak nafsu bejad ayah dan anak laki-laki di rumah itu. Melarikan diri, kemudian ia jadi pelacur. Lantas bertemu pria yang sepertinya tulus mencintainya, tapi tak tahunya pria ini, seorang menteri entah apa, takluk pada ibunya untuk dijodohkan dengan wanita lain.

Suatu insiden mengakibatkan sang menteri terbunuh. Jamila menyerahkan diri. Ada seorang kenalannya, seorang pria lain yang menaruh hati, menawarkan bantuan tapi ditampik.

Jamila rela menyongsong ajal. Menunggu detik-detik kematiannya setelah divonis mati lewat putusan pengadilan yang kental nuansa politis—disesaki dengan demo-demo model FPI.

3
Dengan jalinan cerita seperti di atas, mestinya akan sangat filmis hasilnya. Maksudnya filmis, film akan berisi jalinan cerita yang dipadu dari mise en scene yang lengkap. Yang terjadi, Ratna malah mengandalkan pada dialog-dialog para tokohnya. Bukan pada gerak gambar. Meski riuh, filmnya terasa sepi.

Parahnya lagi, semuanya dituturkan dalam bahasa teater yang kental. Tidak hanya dialog-dialog teater yang panjang, meluap-luap yang muncul, tapi juga Ratna terlihat malas mengubah dialognya menjadi bahasa sehari-hari. Hingga terdengar lucu di telinga dan membuat kita bertanya: Apa iya ada orang yang sehari-hari bicara begitu?

Belum lagi adegan-adegan yang sepertinya hanya dipindahkan dari pentas teater ke film macam perdebatan Jamila dengan kepala sipir di dapur penjara—lengkap dengan Jamila melenting, mengacak-acak piring dan gelas.

Oh, Tuhan… kalau ingin nonton teater saya sih mending ke TIM saja, bukan di bioskop begini.

4
Sampai di sini, terlihat betul Ratna belum menguasai medium baru ini. Ia masih jauh dari Teguh Karya yang bisa mengawinkan teater dan film dengan sempurna. Tontonan Ratna hanya berpihak pada pecinta teater.

Saat menonton film ini di bioskop, beberapa penonton pulang duluan sebelum film usai. Saat filmnya benaran usai, yang tersisa—termasuk saya dan istri—bergegas pergi. Kami tak peduli dengan deretan statistik perdagangan perempuan, pelacuran, dan entah apa lagi yang muncul sebelum credit title.

Jika sudah begitu, apa pesan Ratna sudah tersampaikan? Wallahua’lam.***

JAMILA DAN SANG PRESIDEN (2009)
Sutradara & skenario: Ratna Sarumpaet
Pemain: Atiqah Hasiholoan, Christine Hakim, Dwi Sasono, Fauzi Baadila, Surya Saputra, Adjie Pangestu
Durasi: 87 menit


ReviewReviewKnowing (2009) dan Akhir Sebuah FilmApr 30, '09 10:34 PM
for everyone
Category:Movies
Genre: Science Fiction & Fantasy
(SPOILER ALERT! THIS REVIEW MIGHT HARM YOU, YOU CAN SKIP TO THE NEXT 9 PARAGRAPHS)

Saat menonton Knowing (Alex Proyas, 2009) tempo hari, saya datang dengan sebuah pengetahuan akan akhir filmnya.

Istri saya berkata, “Ada teman di Facebook-nya bilang, kalau nonton Knowing mending jangan nonton ending-nya. Bakal kecewa, katanya.”

Kali lain, teman saya: “Lo bener mau tahu endingnya?” tanyanya memastikan. “Sudah nonton Indiana Jones 4 ‘kan? Ya, kayak begitulah ending-nya.”

Oke, saat itu saya punya gambaran jelas dari dua petunjuk tadi soal kisah filmnya (apalagi setelah lihat trailer-nya): seorang bocah menemukan kertas berisi deretan angka yang berisi segala musibah di bumi. Saat deret angka berakhir, kehidupan akan musnah alias kiamat. Tapi, sepertinya, sesuatu-yang-muncul-juga-di-ujung-film-Indiana-Jones-4 menyelamatkan manusia dari kiamat sebenar-benarnya. Intinya, kehidupan tidak sungguh berakhir.

Hm, dengan pengetahuan macam itu semestinya sih film ini masuk daftar “straight to pirated dvd copy ori” bagi saya. Tapi, saya memutuskan menontonnya juga saat orang-orang lain mengantre nonton “Watchmen” atau “X-Men Origins: Wolverine”. Rasa penasaran saya tak hilang walau sudah tahu ending kisahnya.

Benar saja. Meski filmnya masuk kategori “pop corn movie”, tapi pengadeganan dibangun dengan jitu hingga saya ikut tegang, tercekam, sekaligus terharu mengikuti kisahnya. Formula baku film Hollywood bekerja efektif di sini.

Ending yang sudah saya ketahui sebelumnya malah saya tunggu-tunggu untuk dibuktikan kebenarannya dengan mata kepala sendiri.

Hasilnya? Pilihan ending itu buat saya jadi sesuatu keniscayaan. Film berjenis “pop-corn” tak mungkin mengakhiri kisah dengan kelam (dunia berakhir alias kiamat). Pembuat filmnya tak pernah berniat membuat film berisi kiamat. Mereka pasti ingin penonton pulang ke rumah dengan tenang sambil membawa pikiran: “kalaupun bumi hancur, toh belum kiamat. Ada manusia yang tetap hidup untuk memulai segalanya dari awal lagi.”

Hollywood banget, sih. Tapi, sudahlah. Saya terhibur, kok. Itu saja cukup.

(SPOILER ENDS HERE)

KNOWING (2009)
Sutradara: Alex Proyas
Skenario: Ryne Douglas Pearson, Juliet Sowden, Stuart Hazeldine, Alex Proyas
Pemain: Nicolas Cage, Rose Byrne, Chandler Canterburry)
Durasi: 121 menit


Category:Movies
Genre: Action & Adventure
Ini tjerita boekan resia lagi. Sekali waktoe Dicky Zoelkarnaen jang djadi bintang boeat gambar idoep atawa film “Si Pitoeng” tiada tjotjok dengen honorarioem boeat landjoetan itoe film. Achirnja cineast poeter mereka poenja otak biar itoe film bisa tetep diboeat.

Perdjoangan Pitoeng berachir setelah ianja mati ditembak peloeroe emas di film sebelumnja. Maka, dimoentjoelken djagoan baroe: Dji’ih. Ini djago ditjeritaken ianja satoe pergoeroean dengen Pitoeng.

Dji’ih (Sandy Suwardi Hassan) laloe melakoeken pembalesan boeat kematian Pitoeng.

Jang menarik, Dji’ih moentjoel dengen kamera njorot dia poenja kaki doeloe, baru ke badan. Ini gambar di loear kelaziman, teroetama dalem gambar idoep kita poenja kebiasaan. Kaloe ada orang disorot kaki doeloan, itoe orang biasanja boekan tokoh baek-baek.

Hm, apa setjara tidak sadar, ini cineast kena pengaroeh Belanda kalo Dji’ih di mata pendjadjah boekanlah orang baek, tapi rampok dan toekang boenoeh? Wallahoe a’lam.

Jang pasti gambar idoep ini isinja orang kelahi meloeloe. Belanda kerdjanya sikse bangsa kita. Soedah begitoe ada djuga tauke hoa-kiau jang djahat. Selaen tentoenja ada hoa-kiau jang baek matjam baba A Hong. Tapi baba ini mati kagak tahan disikse Belanda.

Dari sini, anaknja bernama Peng-ji noentoet bales. Kebetoelan ini anak si baba bisa koen-tau. Maka, film ini boekan hanja berisi berkelahi dengan ilmoe silat matjem film-film Pitoeng sebeloemnja. Di film ini djoega banjak entjek ngamoek. Segala matjam silat Tiongkok ada. Tiada oebahnja film silat aseli tanah Amoy.

Bisa djadi ini film maoe bersaing dengen jang sedjenis dari Hong Kong djadjahan Inggris Raja, jang di itoe taoen lagi rame ditonton orang Indonesier. Ibarat kata, kita lagi nonton gambar idoep Tiongkok boeatan bangsa sendiri. Lihat sadja itoe Willy Dozan jang masi moeda pamerin dia poenja kebolehan koen-tao mirip betoel gaja Bruce Lee.

Di loear kelahi jang banjak itoe, ini film bikin djemoe penonton jang ada poenja pengertian. Acting pemainnja serba kakoe. Belanda tukang tereaklah; jang baek, baek benerlah; jang djahat keliwatan. Item-poetih betoel peranannja. Kameranja djoega dipake sebatas njorot, tidak poenja emotie. Kesalahan oetamanja musti ditimpaken sama itoe joeroe keker dan toekang potong gambar alias department editing.

Tapi kaloe orang menimbang dengan inget maksoednja finansir atawa produser, jaitoe boeat film jang ditoedjoeken teroetama boeat golongan klas moerah, maka orang bole maafken kaloe terdapat apa-apa jang koerang sempoerna.

Jang bikin heiran, pada taoen 1981 moentjoel film laen tentang Pitoeng berjoedoel “Si Pitoeng Beractie Kembali”. Ini kali Dicky Zoelkarnaen idoep lagi dari koeboer djadi Pitoeng. Roepanja, hal ichwal honorarioem soedah kelar di taoen itoe gambar idoep keloear.***

Pembalasan Si Pitung [Jiih] (1978)
Sutradara: Nawi Ismail
Skenario: SM Ardan, Nawi Ismail
Pemain: Sandy Suwardi Hassan, Willy Dozan, Rina Hasyim


ReviewReviewReviewKambing Jantan (The Movie, 2009)Mar 26, '09 5:09 AM
for everyone
Category:Movies
Genre: Romantic Comedy
Usai menonton film ini tempo hari, saya berkesimpulan: inilah film terbaik Rudi Soedjarwo setelah Ada Apa dengan Cinta? (2002). Selepas sukses AAdC?, Rudi seolah ingin menaklukkan jagad sinema dengan berbagai eksplorasi naratif yang dilakukannya. Tapi, buat saya, seringkali hasilnya jauh panggang dari api.

“Rumah Ketujuh” yang digadang-gadang sebagai komedi romantik model Indonesia tak lebih tiruan formula film sejenis dari Hollywood sana. Lalu “9 Naga” yang menggabungkan action dengan drama jatuh jadi film aksi cengeng model Hallmark. “Mendadak Dangdut” gagal mengulik dangdut hingga ke kulitnya. Film ini malah melanggengkan pandangan orang kota atas dangdut, yakni jenis musik itu kampungan.

Singkat kata, saat Rudi mengembeli filmnya dengan eksplorasi naratif hasilnya kok malah melenceng dari niatan semula (membuat film baik).

Nah, Kambing Jantan ini minim eksplorasi naratif. Dari segi genre, film ini tidaklah istimewa bagi seorang Rudi Soedjarwo. Selain penggambaran karikatural saat tokoh-tokohnya bertelepon atau bepergian (untuk ke Australia, tokohnya cukup menenteng koper melintasi lukisan pemandangan Australia), tak banyak eksplorasi naratif yang dilakukan Rudi.

Namun, saat ia tak berpretensi membuat yang macam-macam, filmnya malah mengalir lancar. Padahal kisahnya sangat berpotensi jadi membosankan. Simak saja plotnya: seorang anak orang kaya mesti bersekolah ke Australia dan meninggalkan pacarnya sendirian. Mereka menjalani hubungan jarak jauh yang penuh tantangan dan godaan, sampai akhirnya memutuskan untuk meneruskan cinta yang kadung berjarak itu (tidak hanya fisik, tapi juga emosi) atau memilih jadi dewasa.

Rudi berhasil membikin tontonan yang menyenangkan sepanjang nyaris 2 jam. Saya sih ikut terpingkal dan tersenyum melihatnya.

Kalaupun ada yang mengganjal justru terletak pada “pesan” yang tersirat dari film ini. Ada adegan yang melabeli kisah ini sebagai “Lupus Abad ke-21”. Mungkin persamaan yang hendak dikatakan betapa buku Raditya Dika (yang jadi dasar film ini dan dimainkan oleh penulisnya sendiri) sama kocaknya dengan novel-novel Lupus.

Okelah, yang itu saya setuju—malah buku Dika lebih lucu. Tapi, buat saya, sosok Raditya Dika tak bisa disamakan dengan Lupus. Lupus (alter ego pengarangnya, Hilman Hariwijaya) rasanya punya pesan tersirat sebagai sosok yang bertanggungjawab. Lupus yang seorang anak yatim, dikisahkan kerja sambilan jadi wartawan majalah remaja hingga tak perlu lagi minta uang jajan pada ibunya yang jadi tulang punggng keluarga.

Sedangkan Dika? Saat hendak kuliah ia manut saja dengan keinginan ibunya kuliah ke Australia, tak peduli betapa ia tak berbakat kuliah di sana dan punya urusan cinta pelik jika berhubungan jarak jauh dengan pacarnya. Alhasil, Dika hanya menghabiskan jatah uang kuliah dari ortunya untuk berpacaran ketimbang serius kuliah.
Masih untung ia punya bakat menulis yang kemudian menghasilkan uang. Di sini, Dika yang anak orang kaya manja jadi dewasa, meski ia tetap saja gagal kuliah di negeri orang.

Masalahnya, apa untuk jadi dewasa perlu jalan melingkar lewat Australia segala? Untuk anak orang kaya abad milenium ini mungkin iya. Tapi tidak buat Lupus dari era lampau. Untuk yang satu ini, Lupus lebih unggul. ***

*) ditulis sambil dengerin lagu “Adelaide Sky” yang ciamik.

KAMBING JANTAN (THE MOVIE, 2009)
Sutradara: Rudi Soedjawo
Penulis skenario: Salman Aristo, Raditya Dika (based on the blog and book by Raditya Dika)
Pemain: Raditya Dika, Edric tjabdra, Herfiza Novianti, Sarah Safitri
Durasi: 118 menit.



ReviewReviewDoa Yang Mengancam (2008)Mar 20, '09 7:20 AM
for everyone
Category:Movies
Genre: Drama
Yang paling menarik diketahui dari film ini adalah bagaimana sebuah cerpen surealis diterjemahkan ke dalam bahasa visual—terlebih lagi oleh pengarangnya sendiri.

Entah kenapa, saya umumnya tidak terlalu bisa menikmati cerpen surealis. Rasa-rasanya ada yang “tidak nyata” setiap kali membaca cerpen surealis. Tapi hei, bukankah karena itu dinamakan surealis?

Iya, deh. Lantas seperti apa bila film yang katanya imitasi hidup itu (baca: realis) jadi surealis? Sineas kita pernah dengan gagah menyebut film Banyu Biru (2005) sebagai film surealis (plus reaslime-magis segala). Namun hasilnya tinggal klaim kosong.

Entah karena kapok atau ogah menerima tantangan bikin film surealis, film ini pun akhirnya dibikin jadi film realis—malah lebih tepat dilabeli film religi.

Lho, kok bisa? Bisa, dong. Yang serba religi kan sedang ngetop. Lihat saja Ayat-ayat Cinta (AAC, 2008), tak kurang 3,8 juta orang nonton film itu.

Sudahlah ngedumelnya…

Singkat kata, membandingkan versi film dengan cerpen hanya buang-buang energi. Penulisnya, Jujur Prananto hanya meminjam plot dasar cerpennya sendiri untuk dibuat versi filmnya. Lalu, Hanung Bramantyo yang sukses bikin AAC tempo hari diajak produser yang pedagang untuk bikin film religi dengan plot dasar cerpen itu.

Kisahnya tentang seorang miskin (Aming) yang mengancam Tuhan karena doa-nya agar jadi orang kaya tak kunjung dikabulkan. Saat mengancam Tuhan itu, ia disambar gledek. Alih-alih tewas atau dapat batu bertuah macam Ponari, pria itu jadi bisa mengetahui di mana setiap orang berada dengan hanya melihat fotonya.

Nah, karena ini film religi, mesti diberi muatan dakwah di dalamnya. Maka, diciptakanlah tokoh sampingan (Ramzi) yang tugasnya menceramahi si tokoh utama (ya Aming itu). Maka pula, jadilah film ini kuliah aqidah-akhlak yang terlalu verbal. Menonton bagian ini mirip menonton sinetron religi di televisi. Bedanya, hanya tak ada bagian mayat yang menangis di liang lahat atau mayat seperti gosong saat dimandikan saja.

Lantas, jangan pikir pula plot cerdas dari cerpen aslinya bisa dinikmati di versi filmnya. Bagian yang ditambah-tambahi yang paling mengganggu buat saya adalah saat film ini dipaksakan untuk berakhir happy ending. Duh Gusti, terkutuklah orang yang memaksakan akhir seperti itu. Dikiranya setiap film mesti berakhir bahagia dan kita mesti pulang dari bioskop dengan senyum karena melihat sang jagoan ahirnya punya bini lagi…

Untung saya menontonnya di You Tube ;P

DOA YANG MENGANCAM (2008)
Sutradara: Hanung Bramantyo
Penulis skenario dan cerita asli: Jujur Prananto
Pemain: Aming, Ramzi, Titi Kamal

Cerpen aslinya bisa dibaca di: http://adeirwansyah.multiply.com/journal/item/10/Doa_yang_Mengancam_short_story





Pages:12345
© 2009 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corporate · Advertise · Contact · Help