Join MultiplyOpen a Free ShopSign InHelp
MultiplyLogo
SEARCH

Nonton Film, Nonton Kehidupan

Resensi Film

Category:Movies
Genre: Action & Adventure
MENONTON The Adventures of Tintin di bioskop, dengan kacamata 3 dimensi yang membuat sensasi menonton lebih sempurna, perasaan saya malah campur aduk.

Di satu sisi, saya begitu mengagumi visualisasi kolaborasi (sutradara) Steven Spielberg dan (produser) Peter Jackson atas cerita Tintin yang satu ini.
Teknologi animasi yang diusung Spielberg dan Jackson berhasil menghidupkan dunia Tintin persis dunia nyata. Belum lagi pengisahannya, Tintin menjadi lebih megah, kolosal, lebih wah khas film-film blockbuster Hollywood.

Saya menyukai apa yang disajikan Spielberg. Tapi di sisi lain, ada perasaan yang mengatakan bukan Tintin macam begini yang saya kenal dari komiknya maupun serial kartun di TV dulu. (Kalau Anda ingat, di tahun 1990-an, kartun Tintin pernah tayang di SCTV.)

Komik Tintin karya Herge, nama pena komikus Belgia Georges Remi, terkenal di seluruh dunia, termasuk Indonesia. Komiknya sudah terjual 200 juta eksemplar sejak pertama lahir sebagai komik strip di koran pada 1929.
Walau terkenal di seluruh dunia, Tintin tak populer di Amerika Serikat. Maka, dari cerita Spielberg ke majalah Time (edisi 23 Oktober lalu), saat film petualangan Indiana Jones rilisRaiders of the Lost Ark tahun 1980, Spielberg tak mengerti ketika ulasan-ulasan filmnya di Perancis menyebut kata “Tintin”.
“Dari semua resensi film saya yang berbahasa Perancis, yang saya tak bisa baca, ada kata Tintin di mana-mana. (Waktu itu) Saya tak tahu apa arti kata Tintin maupun kata itu sebetulnya mengacu pada apa,” cerita Spielberg berterus terang.

Syahdan, Herge juga mengagumi film petualangan Indiana Jones karya Spielberg. Herge bilang, jika Tintin diangkat ke layar lebar, Spielberg yang harus membuatnya. Pada 1982, keinginan itu hampir terwujud. Spielberg, yang sudah tahu apa itu Tintin, tertarik. Negosiasi dilakukan. Kontrak nyaris ditandatangani hingga Herge membaca salah satu klausul kontrak yang menyebutkan ada kemungkinan bukan Spielberg sendiri yang akan menyutradarai Tintin. Kontrak batal diteken. Negosiasi mendingin walau tak berhenti. Namun, di tengah jalan, tahun 1983, saat Speilberg berada di Eropa syuting film kedua Indiana Jones, sebelum Spielberg menemuinya di Belgia, Herge meninggal.

Spielberg akhirnya tetap memegang hak memfilmkan Tintin dari janda Herge. Tapi kemudian proyek Tintin versi film terkatung-katung dan butuh 3 dekade mewujudkan impian Herge.

Lantas, Tintin seperti yang kita saksikan di layar lebar sekarangkah yang diimpikan Herge?

Kita takkan tahu jawaban pastinya karena orang yang pas untuk menjawab itu sudah tiada.

***

Sebetulnya, tak adil membandingkan film dengan karya asli yang
diadaptasinya. Film adalah karya tersendiri yang mungkin saja mengucapkan dengan cara berbeda apa yang ada di komik.

Tapi, untuk kasus Tintin, karena komik ini begitu penting sekaligus begitu dicintai, ijinkan saya mencerewetinya.

Tintin versi film yang diangkat Spielberg berasal (sebagian besar) dari buku ke-11 komik TintinThe Secret of the Unicorn (Rahasia Unicorn, pertama terbit 1945) yang mengisahkan asal-usul leluhur Kapten Archibald Haddock (Andy Serkis), sahabat Tintin (Jamie Bell). Namun, versi film agak sedikit berbeda dengan komiknya. Ada “cameo” dari karakter Tintin lainnya, penyanyi opera Bianca Castafiore. Juga, sebagai film Tintin pertama, filmnya mengambil cerita dari buku Tintin yang lain, The Crab with the Golden Arm (Kepiting Bercapit Emas, pertama terbit 1943) yang mengisahkan pertemuan pertama Tintin dengan Kapten Haddock.

Kisahnya, seperti di komik, dimulai saat Tintin, wartawan yang tak pernah terlihat bekerja sebagai wartawan, ditemani anjing setianya si putih mungil Snowy, berjalan-jalan di pasar loak, menemukan replika kapal laut abad ke-17 bernama Unicorn. Tintin membelinya. Kemudian ada dua orang yang berkeras ingin membeli replika itu dari Tintin, pertama seorang kaya bertampang jahat Sakharine (Daniel Craig) dan seorang warga Amerika Barnaby (Joe Starr).

Tintin menolak. Begitu ia mengetahui replika kapal lautnya menyimpan rahasia harta karun terpendam, jiwa petualangnya bangkit. Maka, kita diajak mengikuti petualangan Tintin yang luar biasa hingga melintasi lautan, memporak-porandakan kota Bagghar di Maroko, hingga duel dahsyat di pelabuhan.

Buat saya, film Tintin ini lebih seperti “Tintin rasa Spielberg”, bukan Herge.
Kita mulai dari bagaimana perbedaan Herge dan Spielberg menghidupkan dunia Tintin.

Herge membangun dunia Tintin dengan indah. Gambar Tintin mudah dikenali lewat sapuan warna dan garis Herge yang bahkan punya nama sendiri dalam bahasa Perancis, ligne claire, garis-bersih. Ciri khasnya, garis tegas, detil background, warna terang, namun sosok orang-orangnya terasa kartun. Setiap panel komik Tintin adalah jendela untuk melihat gambar-gambar yang simple, terang, serta lengkap. Walau gambar background-nya begitu realis, Herge sedikit sekali menggunankan efek bayangan. Tokoh-tokohnya tetap dibiarkannya seperti tokoh kartun, bukan seperti makhluk nyata.

Spielberg dan Jackson ternyata tidak melakukan copy-paste pada dunia Tintin Herge. Teknologi perfilman terkini yang dipakainya (Spielberg memakai teknik motion capture, aktor berakting lalu gerakannya dipindai komputer untuk diwujudkan dalam annimasi komputer 3 dimensi, teknologi yang dimulai dari Polar Express [2004] dan sempurna lewat Avatar) membuat gambar animasi jadi terlihat begitu realistis. Yang kartun jadi nyata.

Maka, Tintin versi Spielberg bukan lagi orang-orang dengan mata berbentuk titik hitam kecil, tapi selayaknya mata manusia. Saya berpikir, jika animasi Spielberg ini begitu realistis mengapa ia tak membuat filmnya dari aktor betulan dengan setting dunia nyata? Mengapa harus repot-repot membuat animasi komputer? Buat istri saya, gambar Tintin rasa Spielberg jadi lebih tirus, tidak lagi tembam menggemaskan.

Sejatinya, ada alasannya mengapa Herge memilih gambar tokoh-tokohnya tetap terlihat kartun—atau dalam bahasa Scott McCloud di buku Understanding Comics sebagai “ikonis” untuk kebalikan gambar “realis”. Kata McCloud, gaya “garis-bersih” Herge menggabungkan tokoh yang ikonis dengan latarbelakang yang realistis memungkinkan pembaca “menjadikan” diri mereka masuk ke dalam komik, menjadi tokoh di komik, dan memasuki dunia yang ada di komik dengan rasa aman. McCloud memberi gambaran, satu sisi garis untuk MELIHAT, sisi garis lain untuk MENJADI. Pendek kata, dalam komiknya, Herge ingin mengajak kita menjadi Tintin, masuk ke dunia Tintin.

Spielberg, dengan menjadikan Tintin begitu realistis membuat penonton menjadi pasif. Ia tidak melibatkan kita dalam petualangan Tintin. Kita hanya MELIHAT Tintin berpetualang, bukan MENJADI Tintin yang tengah berpetualang.

Sebetulnya, saya bisa mafhum soal ini. Sebuah film animasi memang harus menambahkan setiap atmosfir yang ada di dunia nyata agar proses reka-percaya (make believe) dalam benak penonton berhasil. Itu artinya, Spielberg dan Jackson harus menambahi gambar dengan efek bayangan, cahaya, atau debu—sesuatu yang tak dilakukan Herge di komik Tintin.
Yang paling membuat perasaan saya makin campur aduk justru pengisahan Spielberg atas Tintin versinya.

Meski Tintin adalah cerita petualangan, komik Tintin sebetulnya komik yang banyak ngobrol. Sebagai film, ia bukanlah materi yang cukup bakal menarik perhatian penonton film. Dunia Tintin paling cocok diselami sambil membaca dengan takzim. Saya membuktikannya dengan menonton lagi episode film kartun Tintin koleksi istri saya, The Secret of the Unicorn dari mana kisah filmnya diambil. Dalam satu keping VCD, ada 2 episode (masing-masing 30 menit) yang diambil dari cerita komiknya.

Serial kartunnya begitu setia mengikuti alur komiknya. Hasilnya, saya malah dibuat bosan dan mengantuk karena cerita berjalan lamban.

Spielberg, bersama tim penulis skenarionya, “memperbaiki” itu. Pada beberapa bagian di awal kita masih melihat Tintin omong sendiri (suatu ciri khas gaya bertutur Herge), tapi kemudian saat petualangan Tintin sudah dimulai, Spielberg seolah tak memberi kesempatan penonton untuk bernafas, merenungkan apa yang yang tersaji di layar.

Tintin rasa Spielberg begitu bergegas mengajak kita mengikuti satu aksi seru ke aksi seru lainnya, dari keributan di kapal laut, terdampar di tengah samudera, naik pesawat, lalu menembus badai, pesawat jatuh di padang pasir, perebutan petunjuk harta jarun di replika kapal laut yang memicu keributan besar di kota Bagghar, Maroko, hingga berakhir dengan dahsyat di pelabuhan. O ya, jangan lupa penggambaran perang kapal laut Unicorn melawan bajak laut di abad ke-17 yang pasti membuat Jerry Bruckheimer dengan kisah Pirates of the Caribbean-nya tertunduk malu.

Spielberg memperlakukan Tintin seolah ia tengah membuat film petualangan Indiana Jones. Hal ini membuat Tintin rasa Spielberg menjadi sekadar film petualangan seru. Padahal, komik Tintin tak sekadar itu. Sudah banyak tafsir atas muatan ideologis maupun pandangan Barat atas Timur dari komik Tintin. Dengan sekadar menjadikannya kisah petualangan seru, Tintin versi Spielberg mengamputasi kemungkinan tafsir itu.

Tanpa perlu jauh-jauh bicara tentang tafsir yang hilang, bagian sub plot detektif Thompson dan Thomson mencari pencopet terasa sebagai tempelan. Tengok misalnya, saat salah satu detektif kikuk itu jatuh ke tangga, yang di komik membuat kita tersenyum dan terkenang terus, di film terasa seperti adegan yang di-ada-adakan. Hilang pun tak mengapa, karena ada petualangan besar yang lebih menyita perhatian.

Alhasil, Tintin versi Spieberg tak menarik bagi orang yang hendak mencari pembacaan macam-macam maupun bagi pengagum setia yang memegang teguh kemurnian gaya garis-bersih dan penuturan Herge. Sampai-sampai seorang kolumnis koran Inggris Guardian yang juga pengagum komik Tintin memberi judul tulisannya: How Could They Do this to Tintin—Kok, bisa sih mereka melakukan ini pada Tintin?

Meski demikian, seperti yang saya bilang di awal, saya menyukai penyajian Tintin rasa Spielberg. Saya menikmati petualangan Tintin yang tersaji di layar. Mungkin ini cara terbaik mengenalkan Tintin lebih luas pada publik Amerika maupun publik belahan dunia lain. Selepasnya, syukur-syukur penonton awam akan menyelami dunia Tintin asli di komik yang lebih memikat.***


***
NB: Bagi penggemar setia komik Tintin, bingkisan hadiah terindah dari Spielberg muncul di awal film saat Tintin mematut diri dilukis seniman jalanan di pasar. Tintin realis digambar potret persis Tintin kartun. Penggemar setia pasti tahu wajah siapa yang jadi pelukis jalanan itu. Itu Herge.


ReviewReviewReviewReviewNov 13, '11 10:01 PM
for everyone
Category:Movies
Genre: Drama
YANG pertama dan utama yang hendak saya katakan, Sang Penari adalah film bagus. Melewatkannya akan teramat disayangkan.

Pembacaan saya atas film ini tak bermaksud mengajak Anda menghindari filmnya. Bahkan, Anda harus membuktikannya sendiri untuk melihat apa pembacaan saya benar atau salah.

Saya percaya, film yang mendatangkan diskusi panjang, perdebatan wacana adalah justru film yang berhasil. Film macam begini telah melampaui kecerewetan penonton pada unsur teknis (sinematografi, akting, skenario, dll). Penonton kemudian lebih fokus pada apa yang hendak disampaikan filmnya maupun bagaimana sang film menyampaikannya.

Buat saya, Sang Penari film macam begitu.

Anda mungkin mafhum, Sang Penari diangkat dari trilogi novel Ronggeng Dukuh Paruk karya sastrawan Ahmad Tohari. Aslinya, novel ini terbit dalam 3 buku (Ronggeng Dukuh Paruk, 1982;Lintang Kemukus Dini Hari, 1985; Jantera Bianglala,1986). Sang Penari bukan adaptasi pertama novel Ronggeng Dukuh Paruk. Pada 1983 rilis Darah dan Mahkota Ronggeng (sutr. Yazman Yazid) dibintangi Ray Sahetapy dan Enny Beatrice.

Namun, film itu tak dianggap mewakili roh novelnya kata sang penulisnya sendiri. Darah dan Mahkota Ronggeng yang hanya mengambil dari buku pertama (karena saat itu novel kedua dan ketiga belum rilis), lebih bicara soal sensualitas dan seksualitas ronggeng.

Sang Penari rilis jauh setelah 3 novelnya tamat. Ia juga rilis di zaman berbeda yang tentu membawa semangat zaman alias zeitgeist yang berbeda pula.

***

Sebelum mengulas Sang Penari, saya hendak membicarakan novelnya terlebih dahulu.

Trilogi Ronggeng Dukuh Paruk ditulis Ahmad Tohari sejak akhir 1970-an, di masa Orde Baru Soeharto. Novelnya tak semata mengangkat kisah seorang ronggeng dari Dukuh Paruk bernama Srintil. Novel pertama mengisahkan bagaimana Srintil menjadi ronggeng, termasuk ritual “buka kelambu” saat ronggeng menyerahkan keperawanannya pada pembayar tertinggi.

Tapi, bukan muatan seksual yang jadi inti kisah trilogi ini. Di buku kedua dan ketiga kita melihat bagaimana Srintil, Rasus yang dicintainya, dan segenap orang Dukuh Paruk lainnya, tak bisa lari dari kehendak zaman. Malapetaka 1965 menyeret Srintil dan yang lainnya.

Memangnya apa yang terjadi pada 1965?

Ahmad Tohari menggambarkannya begini: “..selentingan berita di Jakarta, sebuah negeri antah-berantah bagi orang Dukuh Paruk, telah terjadi pembunuhan-pembunuhan. Pelaku pembunuhan adalah orang-orang semacam Bakar. Korbannya adalah pejabat-pejabat negara.” Sejarah kita mencatat, pada dini hari 1 Oktober 1965 sejumlah perwira tinggi Angkatan Darat dibunuh dan diculik oleh apa yang disebut Gerakan 30 September (G-30-S). Yang dimaksud “Orang-orang semacam Bakar” adalah orang-orang Partai Komunis Indonesia (PKI).

PKI dianggap bertanggung-jawab atas pembunuhan jenderal-jenderal itu. Yang mengenaskan, konflik di tingkat elit itu menjadi dalih untuk mengubur PKI hingga ke akarnya. PKI tidak hanya dibubarkan sebagai organisasi, tapi juga anggota dan simpatisannya ditangkap, dipenjara, dan sebagian besar dibunuh. Jumlah anggota dan simpatisan PKI yang dibunuh mencapai ratusan ribu hingga jutaan jiwa dari 1965-1966.

Masalahnya kemudian tragedi pembunuhan pada ratusan ribu hingga jutaan orang di tahun 1965-1966 itu lebih dianggap sebagai “rahasia umum”. Hampir semua orang Indonesia yang mengalami tahun-tahun 1960-an, bahkan mereka yang tinggal di daerah terpencil sekalipun, tahu ada penahanan dan pembunuhan massal terhadap anggota, simpatisan, maupun mereka yang dianggap PKI. Mereka menyaksikan atau mendengar cerita tentang gerombolan orang yang berkeliaran memburu “PKI”; tentara yang datang ke pabrik menangkap “PKI”; tetangga, teman, atau saudara yang hilang secara misterus; jasad yang tergeletak di jalan atau dibuang ke sungai; tentang ladang-ladang pembantaian; tentang sekolah atau gedung yang jadi pusat penahanan dan pusat penyiksaan.

Namun, betapapun tragedi itu diketahui umum, sangat sedikit yang pernah diungkap dalam tulisan—apalagi film.

Sastrawan Satyagraha Hoerip, dalam sebuah esai kritik sastranya tahun 1972 (saya kutip dari pengantar buku Tahun yang Tak Pernah Berakhir, 2004) mencatat pengetahuan tentang pembunuhan massal itu disebarkan dari mulut ke mulut. Cerita-cerita itu terus beredar, tapi tidak pernah ditulis.
“Tapi yang aneh di sini ialah, bahwa dari yang pernah seru kita dengar itu, tidak satu berita atau foto pun pernah kita saksikan, baik itu dari koran-koran, majalah-majalah maupun wartawan-wartawan yang umumnya cekatan itu, di dalam maupun di luar negeri.”

Hoerip menulis yang didengarnya:

“Lalu seperti yang kita dengar, pembunuhan massal kemudian terjadilah di banyak tempat di Indonesia ini, selama beberapa pekan. Ada yang langsung dipancung, dihanyutkan ke kali baik utuh seluruh tubuhnya ataupun hanya bagian-bagian badannya saja, ada yang dengan mata disekap berbondong-bondong digiring ke laut atau jurang dan kemudian dari atas dihujani batu-batu; ada yang lebih dulu disuruh gali lubang dan kemudian dari jarak dekat ditembak masuk ke lubang itu sehingga tinggal menimbuninya saja; dan lain-lain dan banyak lagi.”

Aktivis mahasiswa 1960-an, mendiang Soe Hok Gie menulis artikel tentang pembunuhan massal yang terjadi di Pulau Dewata tahun 1965-1966 berjudul
“Di Sekitar Pembunuhan Besar-besaran di Pulau Bali.” Gie menyebut jumlah orang yang dibunuh di Bali mencapai 80 ribu. Gie menulis:

“Bali menjadi sebuah mimpi buruk pembantaian. Jika di antara pembaca ada yang mempunyai teman orang Bali, tanyakanlah apakah dia mempunyai teman yang menjadi korban pertumpahan darah itu. Ia pasti akan mengiyakan, karena memang demikianlah keadaan di Bali. Tidak seorang pun yang tinggal di Bali pada waktu itu yang tidak mempunyai tetangga yang dibunuh atau tidak dikuburkan oleh setan hitam yang berkeliaran di mana-mana pada waktu itu.”

Ada kesamaan pada Hoerip maupun Gie. Keduanya mendasarkan tulisan mereka pada apa yang mereka dengar, bukan dari hasil penelitian yang ketat. Di masa Orde Baru, apa yang mereka tulis sebetulnya tergolong berani. Lebih banyak orang bungkam dan menganggap peristiwa itu sebagai “rahasia umum”.

Hal ini mendatangkan konsekuensi lanjutan. Dalam pengantar buku Tahun yang Tak Pernah Berakhir dicatat, tidak adanya dokumentasi tertulis, analisis sejarah, atau dialog publik di Indonesia mengenai teror 1965-66 membuat banyak orang merasa bahwa seluruh masa itu sangat misterius dan sulit dijelaskan. Orang bahkan tidak yakin apa arti penting ingatan mereka sendiri.

Misalnya, seseorang yang pernah menyaksikan pembunuhan massal di desanya mungkin tidak tahu apa yang terjadi di desa sebelah atau kabupaten. Ia tidak tahu pasti apa yang terjadi di desanya adalah sebuah pola umum yang sudah direncanakan atau aksi kebetulan. Tanggung jawab atas pembunuhan-pembunuhan itu jadi kabur.

Orde Baru, yang lahir sebagai pemenang kemelut zaman pertengahan 1960-an, kemudian memang dengan ketat menyensor upaya untuk mengabarkan tragedi 1965. Pembunuhan massal kemudian hanya jadi cerita dan hinggap di ingatan orang. Kalaupun ada yang menuliskannya, sang penulis menyensornya sendiri hingga yang muncul adalah karya yang berjarak, bukan tulisan yang berani berhadap-hadapan langsung.

***

Dari semangat zaman di atas trilogi Ronggeng Dukuh ParukLahir. Ahmad Tohari berbuat apa yang dilakukan Seno Gumira Ajidarma pada 1990-an yang kemudian diteorikan Seno sebagai: ketika jurnalisme dibungkam, sastra harus bicara.

Seno mengkamuflase berbagai laporan pembunuhan atas rakyat Timor Timur (kini Timor Leste) oleh militer Indonesia lewat cerpen-cerpennya. Tohari melakukan hal serupa pada peristiwa 1965-1966.

Di tahun 1980-an, sensor diri dilakukan Tohari karena penerbitnya, Gramedia tak berani menerbitkan jika bagian-bagian tertentu (siksaan dan pembunuhan pada anggota dan simpatisan PKI) tak dihilangkan.

Membaca novelnya pula, kita akan jarang menemukan Tohari menyebut nama “PKI” langsung. Ia lebih suka menyebut mereka “caping merah”. Secara sastrawi, ini bagus. Karena dalam sastra tak seharusnya semua hal diungkap, berikan ruang bagi pembaca untuk berimajinasi, mengasosiasikan sendiri apa yang ditulis ke dalam pikirannya. Tapi, tak menyebut langsung juga meninggalkan kesan ada ketakutan pada penulisnya untuk berterus terang.

Syahdan, selepas Orde Baru runtuh pada 1998, Gramedia menerbitkan lagi trilogi Ronggeng Dukuh Paruk tanpa sensor. Bagian-bagian yang dihilangkan dari buku terdahulu muncul. Semangat zaman sudah berubah. Tidak ada ketakutan pada rezim untuk menyensor isi buku.

Nah, Sang Penari karya Ifa Isfansyah (sebelumnya membuat Garuda di Dadaku) lahir di zaman yang sudah berubah itu. Kita sepakat menyebutnya zaman Reformasi. Di masa ini, apa yang dikonstruksikan rezim terdahulu di-rekonstruksi, diperiksa ulang, dipertanyakan, digugat. Termasuk soal tragedi pembunuhan massal 1965-1966.

Kita, misalnya, mempertanyakan apa betul dalang pembunuhan dan penculikan para jenderal Angkatan Darat adalah PKI? Apa peran Soeharto saat peristiwa itu? Mengapa ia yang diuntungkan?

Berbagai tulisan maupun kesaksian sejarah yang tak mungkin muncul ke permukaan di masa Orde Baru lahir di masa Reformasi. Kita melihat terjemahan analisis peneliti-peneliti asing yang objektif maupun kisah pembelaan dari pihak-pihak yang dulu dicap bersalah oleh rezim Soeharto.

***

Buat generasi 1998 hal ini mendatangkan persoalan dilematis. Generasi 1998 tidak mengalami langsung tragedi 1965-66. Maka dari itu, mereka tak menganggapnya sebagai “rahasia umum” seperti generasi 1960-an. Bagi generasi 1998, hanya ada satu versi cerita soal “G-30-S” yakni versi rezim, baik lewat buku pelajaran sejarah di sekolah maupun filmPengkhianatan G30S/PKI yang saban tahun diputar hingga jelang Orde Baru runtuh.

Meminjam ungkapan Salman Aristo, penulis skenario Sang Penari, yang mengutip Goenawan Mohamad, saat jumpa pers peluncuran film ini, bagi generasi 1998 tragedi 1965 adalah “takhayul”.

Zaman bergerak panjang dari sebuah peristiwa yang tadinya dianggap “rahasia umum” menjadi “takhayul”.

Dalam esainya “Bayang-bayang PKI” Goenawan mencatat kontradiksi PKI bagi kalangan muda, mereka yang rata-rata umurnya di bawah 30 atau di sekitar itu.

Di generasi ini, catat Goenawan, PKI umumnya diterima dengan ngeri atau takjub: juga sebuah mitos. Karena generasi ini tidak pernah mendapat pelajaran sejarah yang memberikan analisa yang kritis, mereka jadi mudah terjebak oleh keyakinan-keyakinan yang cepat.

Generasi ini hidup oleh keyakinan PKI adalah setan yang tak mati-mati dan tetap membahayakan walau partainya sudah terkubur sejak sebelum mereka lahir. Karena suara “awas bahaya laten komunis” disampaikan begitu rutin, anggapan itu jadi tak masuk akal. Terutama bagi mereka yang lebih muda, yang tidak pernah hidup seperti generasi tua (yang rata-rata umurnya di atas 50 tahun) yang pernah hidup dengan ancaman oleh akan berkuasanya PKI.

Ifa, Salman (atau Shanty Harmayn, produsernya) generasi 1998. PKI dan segala gerak zaman masa itu bagi mereka adalah “takhayul”. Tapi, materi dasar film ini, lahir dari generasi yang menganggapnya “rahasia umum”.

Hal ini menarik untuk ditelaah. Ada pertanyaan penting untuk dijawab: Bagaimana generasi yang lebih muda memaknai cerita dari generasi yang lebih tua?

***

Sang Penari dibuka dengan adegan menggetarkan. Gambar gelap, tiba-tiba terang. Sinar menyorot ratusan kepala yang menunduk takut. Kita mendapat impresi yang gelap tadi adalah sebuah ruang tempat orang-orang ditahan tanpa ada cahaya bisa masuk setitikpun.

Seorang tentara, Rasus (diperankan Oka Antara) memegang senter mencari penuh harap. Ia mencari Srintil, ronggeng Dukuh Paruk, yang dicintainya. Walau sama-sama orang Dukuh Paruk, Rasus berada di posisi berbeda dengan Srintil (Prisia Nasution). Rasus berada di “pihak yang berkuasa”, sang pemenang kehendak zaman, sedang Srintil, beserta ratusan orang Dukuh Paruk lainnya, berada di “pihak yang kalah”.

Berkali-kali dalam novelnya, Ahmad Tohari berpesan manusia tak bisa melawan kehendak zaman. Keperkasaan zaman mustahil tertandingi oleh kekuatan manusia.

Srintil, setelah menjadi ronggeng, akhirnya termakan ajakan Bakar, seorang propagandis, pengurus partai “caping merah”. Ronggeng menjadi simbol kesenian rakyat sekaligus penggerak massa. Nasib membawa Rasus menjadi tentara, pihak yang di kemudian hari menjadi penggebuk utama orang-orang “caping merah”.

Ifa lebih berani dari Ahmad Tohari ketika menuliskan novelnya tahun 1980-an (bukan yang versi tanpa sensor yang terbit kemudian). Kita melihat apa yang dulu hanya selintas disebut dalam tulisan Satyagraha Hoerip maupun Soe Hok Gie muncul di layar. Orang ditahan tanpa proses pengadilan; diperiksa tanpa tahu apa kesalahan mereka; lalu digiring ke pinggir sungai untuk ditembak; ada pula yang keluar sebentar untuk memenuhi hasrat seks orang kaya.

Yang sedikit mengganggu, saya nyaris tidak menemukan kata “PKI” maupun lambang palu-arit sepanjang film. Ada gejala apa ini?

Kita tentu ingat, beberapa tahun lalu, film Lastri yang hendak digarap Slamet Rahardjo dan Marcella Zalianty harus urung dibuat karena dikatakan mengangkat penderitaan kisah anggota/simpatisan/orang yang disangka PKI saat tragedi 1965. Yang bikin miris, protes tersebut justru bukan datang dari atas alias penguasa, melainkan dari sesama rakyat.

Dengan begini saya menduga, hilangnya simbol “PKI” dari layar adalah bentuk sensor diri dari sineas untuk tak mencari masalah.

Tapi, benarkah semata karena tak mau cari masalah?

Sebetulnya, mengapa anggapan tak mau cari masalah sekaligus menjelaskan soal “takhayul” tadi. Bahwa PKI beserta simbolnya masih ditakuti. Bukan karena kita takut PKI bakal bangkit lagi, melainkan kata “PKI”maupun simbolnya masih meninggalkan kesan traumatis.

Ijinkan saya mengutip lagi Goenawan Mohamad saat memulai esai Catatan Pinggrir-nya bertajuk “Komunisme” (Tempo, 30/1/2011): “Jika komunisme adalah masa lalu, ketakutan kepadanya setali tiga uang dengan nostalgia.”

Pada titik ini, ketakutan kita sebagai bangsa pada komunisme, PKI, berikut tetek-bengeknya, sejatinya adalah nostalgia. Sebagai nostalgia sebagian besar kita mengenang PKI dengan rasa takut, sebagian lagi (terutama oleh generasi yang lebih muda yang tak mengalami masa itu) dengan “penghormatan” pada rasa takut itu.

Akibatnya, PKI berikut simbol-simbolnya tak muncul sebagaimana adanya. Saya ingat pernah menonton dokumenter sejarah Perang Dunia II di TV, saat menjelaskan peta perang antar negara, simbol negara Uni Soviet, gambar palu-arit, diblok kotak tak kelihatan lagi. Lho, itukan dokumenter PD II? Tak ada hubungannya dengan PKI maupun tragedi 1965-66.

Kritikus film senior JB Kristanto dalam ulasan Sang Penari di Kompas (30/10/2011) menyebut kita memiliki anggapan umum untuk tidak mengungkit-ungkit peristiwa masa lalu yang menyakitkan dan cenderung ingin dilupakan. Kita seolah ragu untuk berhadap-hadapan dengan peritiwa yang menyakitkan, baik karena alasan politik maupun sosial-psikologis. Jadinya, simpul Kristanto, sikap yang diambil para pembuat Sang Penari seolah berjarak. Mereka sadar ada masalah besar di masa lalu, Mereka menyodorkannya dari “kejauhan”, meski dengan risiko mengurangi kegetirannya, tapi tidak melupakan dan menghilangkannya.

Novelnya di masa Orde Baru hanya berani menyebut “caping merah”, sedang filmnya di tahun 2011 juga tak terang-terangan menyebut “PKI”.

Ah, bangsa ini, kita, ternyata belum bergerak terlalu jauh.***

BAHAN BACAAN:
Well, jangan cuma belajar sejarah tragedi 1965 dari film apalagi dari sekolah saja. Untungnya hidup di zaman ini, kita bisa membaca berbagai buku soal peristiwa itu. Ada berbagai buku yang terbit soal peristiwa itu, baik yang ditulis anak negeri maupun orang asing. Saya rekomendasikan beberapa yang saya anggap bagus, dalam arti pendekatan yang dilakukan buku-buku ini lebih objektif, ketimbang yang ditulis pihak “yang menang” maupun “yang kalah” dalam peristiwa itu.

Dalih Pembunuhan Massal: Gerakan 30 September dan Kudeta Soeharto, John Roosa, Institut Sejarah Sosial Indonesia dan Hasta Mitra, 2006. Buku ini, rasanya, yang paling menjelaskan apa yang sebetulnya terjadi di seputar G30S.

Palu Arit di Ladang Tebu, Sejarah Pembantaian Massal yang Terlupakan, Hermawan Sulistyo, Kepustakaan Populer Gramedia, 2000. Ini hasil penelitian penulisnya. Termasuk buku awal yang mengungkap pembunuhan massal.

Tahun yang Tak Pernah Berakhir, Memahami Pengalaman Korban 65, Esai-esai Sejarah Lisan, John Roosa, Ayu Ratih dan Hilmar Farid (editor), Elsam, Tim Relawan untuk Kemanusiaan, Institut Sejarah Sosial Indonesia, 2004. Buku ini merekam berbagai penuturan dan pengalaman korban tragedi 1965 langsung dari tangan pertama. Apa yang tadinya “rahasia umum” terdokumentasi menjadi tulisan.

Ladang Hitam di Pulau Dewata, Pembantaian Massal di Bali 1965, I Ngurah Suryawan, Galangpress, 2007. Sekitar 80 ribu hingga 150 ribu orang tewas dibunuh di Bali saat masa kelam akibat tragedi 1965. Buku ini merekam masa-masa kelam itu. Baca juga Geoffrey Robinson, Sisi Kelam Pulau Dewata, Politik Kekerasan di Bali (Yogyakarta, LKiS, 2006) dan Robert Cribb (ed.), The Indonesian Killings, Pembantaian PKI di Jawa dan Bali 1965-1966(Yogyakarta, Mata Bangsa dan Syarikat, 2003).


Category:Movies
Genre: Comedy
“IT happened again—Kejadian lagi.”

Begitulah sutradara Todd Phillips mengawali The Hangover Part II, sekuel film komedi dewasa miliknya yang sukses besar pada 2009. Phil (Bradley Cooper) menelepon Tracy (Sasha Barrese), yang di film terdahulu jadi calon pengantin yang was-was. Phil sekali lagi mengabarkan ia dan dua sahabatnya, “the wolfpack—kawanan serigala”, Stu (Ed Helms) dan Alan (Zach Galifianakis)kehilangan salah seorang anggota rombongan usai berpesta gila-gilaan yang, sekali lagi, tak mereka ingat sedikitpun.

Dari seberang telepon, Tracy bertanya menggugat, “Seriously, what ‘s wrong with you three?”

Saya yang menonton bertanya juga dengan nada menggugat: Serius, apa saya sedang nonton film pertama di film kedua?

Sulit untuk tidak jatuh cinta dan melupakan The Hangover. Film itu salah satu komedi dewasa paling cerdas yang pernah saya tonton (dan saya tak ingat film komedi dewasa lainnya). Kisah yang begitu sederhana (tentang pesta bujangan para pria) bisa begitu lucu dengan unsur misteri yang bikin penasaran sepanjang film. Filmnya begitu sukses (meraup AS$ 467 juta) membuat Hollywood tergoda bikin sekuelnya.

Nah, bila sebuah sekuel umumnya 1) melanjutkan cerita terdahulu; atau 2) menceritakan kisah baru dengan tokoh lama; yang ini sedikit keluar dari pakem dengan memilih opsi ke-3) menceritakan kisah yang sama, dengan tokoh lama, hanya mengubah detil-detil peristiwanya. Oleh karena itu, film ini akan sangat berhasil bagi yang belum menonton film pertama.

***

Syahdan, setelah adegan telepon itu kita seperti dejavu ke film terdahulu. Lewat momen seminggu sebelumnya Stu yang kali ini hendak menikahi kekasihnya, Lauren (Jamie Chung), seorang warga Thailand, di kampung halaman sang kekasih. Phil merengek kalau ia dan Doug (Justin Bartha) harus diajak ke Bangkok, menggelar pesta bujang, dan menghadiri pernikahannya. Stu tadinya ogah. Tapi akhirnya ia bersedia dan dengan berat hati mengajak serta Alan. Rombongan wolfpack bertambah satu, adik Lauren, Teddy (Mason Lee), yang di usia 16 tahun sudah jadi mahasiswa kedokteran.

Di pinggir pantai nan indah di sebuah resort di Thailand Phil, Stu, Alan, Doug, dan Teddy minum bir di pinggir pantai. Tentu, yang terjadi kemudian bukan hanya minum bir di pinggir pantai mengelilini api unggun. Jika hanya itu takkan ada The Hangover Part II. Sekali lagi Phil, Stu, dan Alan terbangun di tempat asing tanpa ingat apapun yang terjadi malam sebelumnya.

Alih-alih Phil yang hilang seperti di film pertama, kali ini yang hilang Teddy. Jejak yang ditinggalkan Teddy hanya sepotong jarinya. Ke mana Teddy? Apa yang terjadi tadi malam? Bagaimana Stu bisa punya tato permanen di wajahnya?

Yang sudah menonton film pertama pasti hafal dengan pertanyaan-pertanyaan di atas. Film ini kemudian seperti mengulang lagi segala elemen film pertama. Jika di film pertama ada harimau di kamar mandi, di film ini diganti monyet. Jika di film pertama ada bayi yang tertinggal, sekarang mereka menemukan seorang biksu yang bersumpah untuk tidak bicara. Jika di film pertama ada pelacur Las Vegas yang dinikahi Stu, di film ini ada ... lihat sendiri, deh.

Dengan kesamaan elemen di atas, The Hangover Part II jadi kehilangan unsur kejutan buat saya. Padahal unsur kejutan itu yang bikin Hangover pertama ditonton penuh greget. Saya diajak menelusuri penyelidikan Phil dan kawan-kawannya sambil menanti jawaban keliaran apa lagi yang mereka alami di malam sebelumnya.

Walau tak ada unsur kejutan (buat saya, bagaimana Teddy akhirnya ditemukan terlalu gampang), untungnya film ini masih memiliki kekocakan dan diniatkan untuk jadi lebih seru dibanding yang pertama.

Alhasil, filmnya jadi lebih liar. Bahkan menguji batas antara lucu atau keterlaluan (dan dengan demikian tak lucu lagi). Tengok adegan di angkutan umum saat Alan mengerjai biksu yang puasa bicara dengan menaruh botol air minum ke balik jubah sang biksu tepat di tempat kemaluannya berada. Botol minum yang penampakannya mirip Mr.P tengah tegang itu kemudian dijilati monyet yang ikut rombongan mereka. Alan dan kawan-kawannya plus penumpang lain tertawa melihat adegan cabul itu. “Saat monyet mengigit penis terlihat lucu bagi bahasa apapun,” kata Alan.

Pertamanya sih lucu. Tapi bila direnungkan lagi, tidakkah adegan itu melecehkan biksu dan agama Buddha, ya?

Istri saya menganggap adegan-adegan kocak di film ini kelewatan. Nilai moral yang dianutnya rupanya tak bisa menerima sebagian lelucon di film ini. Saya pun demikian. Sangat disayangkan sutradara Todd Phillips hanya menambah unsur “lebih” pada film ini: lebih wah, lebih liar, dan (niatnya ingin) lebih kocak.

Tampaknya Phillips sudah begitu percaya diri dengan resep sukses film pertama. Maka, saya tak heran bila kelak bakal lahir The Hangover Part III dengan cerita yang sama tapi unsur-unsurnya berbeda. Saya membayangkan giliran Alan yang nanti akan menikah di film ketiga dan mereka terbangun tak teringat apa pun di ... Bali! (Siapa tahu.)

Semula dimuat di:http://www.tabloidbintang.com/film-tv-musik/ulasan/15996-the-hangover-part-ii-kejadian-lagi-atau-film-baru-rasa-lama.html


ReviewReviewReviewReviewReviewSep 9, '11 11:48 PM
for everyone
Category:Movies
Genre: Drama
“MAS, jangan pencitraan, deh,” sungut seorang teman usai nonton film ini, The Tree of Life.

Kalimat itu terngiang terus saat hendak menulis ulasan ini.

Saya teringat sebuah tulisan panjang di Kompas soal film-film Garin Nugroho beberapa tahun silam. Dikatakan, diduga pers sini memuji film-film Garin utamanya bukan karena mereka memahami filmnya, melainkan film-film Garin dipuja-puji khalayak internasional. Akan risih bila pers dalam negeri tidak ikut memuji Garin.

Maka, sebagai pendahuluan, saya ingin mengatakan kalau saya mencoba menulis dengan jujur. Jika kemudian menurut kesimpulan Anda saya bukan pengulas film yang baik karena tak cukup menangkap pesan film ini, saya tak bisa berbuat apa-apa.Saya telah mencoba memahaminya dengan segenap indrawi berdasar pengalaman hidup dan pengetahuan yang saya miliki.

Saya meyakini, pada hakikatnya, mengulas film bukanlah memberi penilaian baik-buruk pada film dimaksud. Melainkan membagi pengalaman menonton.
Inilah pengalaman saya menonton The Tree of Life pada Kamis (8/9) malam kemarin.

***

Awalnya adalah ajakan iseng di group BlackBerry Messanger redaksi tabloidbintang.com. Saya mengajak kawan-kawan redaksi nonton bareng The Tree of Life, film peraih Piala Palem Emas Festival Film Cannes 2011, dipuja-puji banyak kritikus film sedunia (85 % skor RottenTomatoes, pertanda sebanyak itu persentase kritikus film yang menyukainya), sudah 4 kali tayang midnight di bioskop sini juga dengan puja-puji orang-orang yang sudah menontonnya.

Saya begitu penasaran nonton filmnya. Ajakan iseng saya pada rekan kantor disambut. Singkat cerita, seorang kawan yang berulangtahun belum lama berselang bersedia mentraktir nonton film ini. Kami berdelepan duduk manis selepas Magrib, Kamis malam, di bioskop Planet Hollywood siap nonton.

***

Lantas, film apakah ini?

Layar dibuka kutipan ayat dari Perjanjian Lama: Where were you when I laid the foundation of the earth? When the morning stars sang together, and all the sons of God shouted for joy? (Job 38: 4 and 7).

“Ini film religi Kristen?” tanya seorang teman di group BB redaksi tabloidbintang.com.

Ah, mungkin saja. Yang jelas, asal Anda meyakini Tuhan, film ini bisa dinikmati siapapun tak memandang agama yang dianutnya.

Di filmnya kali ini Terrence Malick mengajak kita bertamasya pada Tuhan, Sang Engkau. Tapi bertamasya dengan Malick adalah sebuah tamasya yang tak biasa. Malick mengenalkan kita pada sebuah keluarga di Amerika. Sang ibu baru saja menerima telegram, menerima kabar kematian salah satu putranya. Tak dijelaskan matinya karena apa. Mengingat setting waktu dan dikatakan putranya mati saat usia 19 tahun, kemungkinan sang putra mati dalam tugas militer. Saya mengira ia tewas di Vietnam karena setelahnya kita disuguhi gambaran keluarga itu saat masih lengkap: ayah (Brad Pitt), ibu, 3 anak laki-laki, di sebuah musim panas tahun 1950-an. Perang Vietnam berlangsung 1960-an.

Selain itu, kita juga disuguhi sosok saat anak sulung di keluarga sudah dewasa (diperankan Sean Penn), berprofesi sebagai arsitek, merenung, berkontemplasi mengingat masa kecilnya di tahun 1950-an lampau.
Kabar kematian seorang yang dicintai membuka jalan pada pertanyaan eksistensialis. “Dimanakah Engkau? Apakah Engkau tahu?”

“Dimanakah Engkau? Kau membiarkan seorang remaja mati. Untuk apa aku berbuat baik? Jika Kau tidak.”

Musibah, petaka, tak memandang orang baik atau orang jahat.Jika terjadi, itu sudah takdir dari Tuhan. Tapi terkadang manusia mempertanyakan suratan takdir Tuhan.

Pada titik ini filmnya punya kaitan dengan kisah Ayub. Dalam tradisi Kristiani kisah Ayub sangat dikenal. Ayub orang yang paling saleh di bumi pada masanya serta memiliki kekayaan melimpah, lalu Tuhan memberinya cobaan. Ia bangkrut, anak-anaknya meninggal, serta cobaan lain yang menguji kesetiannya pada Tuhan. Hingga pada akhirnya Ayub lulus uji karena tetap setia, serta apa yang tadinya hilang dikembalikan berlipat ganda.Di sinilah kemudian relevansinya ayat Alkitab dari kitab Ayub di kutip di awal film. Dalam Alkitab, Ayub sering mengajukan pertanyaan pada Tuhan: Kenapa orang baik selalu menderita?

Dijawab Tuhan seperti yang dikutipkan dalam ayat di atas. Sebagai Sang Pencipta, Tuhan bisa berkehendak apa saja. Film ini ingin mengatakan kuasa Tuhan pada semesta, termasuk manusia di dalamnya tak terbantahkan.

***

Sambil menonton, kami berdelapan mengobrol di group BBM.

“God, why? Why it took so long for us to watch this? Why, Lord?”

“Nggak boleh ngeluh. Bayangin jadi gue. Nonton Putri yang Ditukar, Anugerah, (masing-masing) durasi 3 jam. Setiap hari pula. Setiap hari.”

“Berat banget, otak gue belum sampe...”

“Mau tidur dulu ah, pegel mata.”

“Sepasang kekasih meninggalkan studio di menit ke 50.”

“Udah ada yang pulang, hahaha..”

“Penonton yang bertahan sampai akhir dapat doorprize!!”

“Hasil analisa 50 menit pertama: 20 % penonton geleng-geleng, 30 % nonton menganga, dan 50 % lagi bingung.”

“7 orang keluar di menit 70.”

“Nggak merhatiin, btw, 3 anak (Brad Pitt) namanya siapa?”

“Hahaha.. Brad Pitt namanya aja gue nggak tahu.”

“Berasa nunggu bedug Magrib ya, lama bener...”

"Harga Paramex sekarang berapa, ya?"

“Total 13 orang deh keluar (hingga) di menit 125.”

Film berakhir di menit ke 138.

***

The Tree of Life memang bukan film seperti kebanyakan. Pembuatnya dikenal sebagai sutradara Hollywood paling pemalu, tak mau diwawancarai, maupun tak pernah datang ke pemutaran filmnya menjelaskan maksud filmnya. (Seorang kawan nyeletuk, “Kayak Nayato, dong!” Saya: hening.)

Malick pertama membuat film tahun 1973, Badlands, fiksifikasi sebuah tragedi pembunuhan di wilayah tengah AS pada 1950-an. Lima tahun kemudian ia membuat film keduanya, Days of Heaven (1978), kisah hidup petani pada 1900-an. Baru 20 tahun kemudian Malick membuat film lagi, The Thin Red Line (1998), kisah kesia-siaan perang dengan setting Perang Dunia II saat AS menyerbu pulau Guadalcanal di Pasifik Selatan melawan Jepang. Kemudian pada 2005, Malick menafsir ulang cerita Pocahontas lewat The New World. Pocahontas berada di persimpangan antara dunia lama (tempat ia dan sukunya berasal) dengan dunia baru (Inggris yang baru menapaki kaki di Amerika yang perawan). Di usianya 67 tahun, Malick totalnya baru membuat 5 film termasuk The Tree of Life ini.

The Tree of Life bukanlah film yang mudah diikuti. Malick tidak menyajikan cerita yang enteng maupun menyajikannya dengan enteng. Gaya khasnya, voice-over puitis di tengah gambar-gambar indah terasa makin banyak di filmnya kali ini. Membuat ceritanya makin sulit dicerna. Mau omong apa sampeyan, Mas Malick? Begitu pertanyaan banyak orang saat menontonnya.

Masalahnya kemudian,penonton seolah berupaya keras mengartikan setiap gambar yang tersaji di layar, mencari makna maupun maksudnya. Apa ya artinya pohon-pohon ini? Hutan, sungai, kota, perumahan, anak-anak bermain, hingga yang paling mencengangkan dua puluh menit adegan penciptaan alam semesta mulai dari dentuman besar, munculnya galaksi, kelahiran makhluk hidup petama, masa dinosaurus, komet menghantam bumi, dan dunia yang kita tinggali kini.

Maksudnya apa? Korelasinya apa? Untuk apa ada dinosaurus hendak dimangsa di pinggir sungai?

Buat saya, pada akhirnya, sepatutnya segala gambaran yang tersaji di layar diikuti saja. Ibarat tengah membaca puisi, yang perlu Anda lakukan hanya mengikuti irama dan keindahan diksi yang dipilih penyair. Mencari-cari maksud kata-kata dalam puisi akan melelahkan dan depresif.

Lewat film, Malick tengah membacakan puisinya sambil mengajak kita bertamasya visual. Kita sebaiknya rileks, santai, mengikuti ke mana ia mengajak kita, yang meminjam kutipan puisi Ada Apa dengan Cinta?, “lari ke hutan belok ke pantai.”

***

Saya memahami Malick tengah merendengkan apa yang “kosmos” dengan “mikrokosmos”. Dalam tingkat kosmos, Tuhan menciptakan alam semesta, mencipta dari ketiadaan menjadi apa yang ada sekarang, mulai dari saat dentuman besar.
Dalam tingkat mikrokosmos, pada sebuah keluarga dengan seorang kepala keluarga otoriter, ibu yang welas asih, serta 3 anaknya, kita melihat kuasa Tuhan tetap ada. Saat seorang anggota meninggal, tak ada yang bisa dilakukan atas kuasa Tuhan itu.

Pada titik ini saya mengagumi pilihan kreatif Malick. Saat yang tengah tren pandangan anthroposentris, ketika manusia menjadi pusat, yang melahirkan pandangan ateis dan menafikan Tuhan, termasuk dalam proses penciptaan alam semesta seperti ditesiskan Stephen Hawking dalam bukunya The Grand Design; film ini menyajikan pandangan teosentris, saat Tuhan menjadi pusat atas apa yang berlaku di langit dan di bumi.

***

Menonton The Tree of Life bersama kawan-kawan memberi pengalaman mengasyikkan. Kami yang tak sepenuhnya mengerti apa yang tersaji di layar lebih banyak tertawa dan bercanda.

Itu mungkin bukan cara terbaik untuk menonton film ini. Tapi, rasanya tetap mengasyikkan. Biasanya kami menertawai film jelek karena tak logis, sekarang kami menertawai film yang dikatakan bagus sambil berkeras mamahaminya.
Paling baik tentu menonton film ini sendiri tanpa gangguan. Dalam kegelapan bioskop, Anda mungkin akan merasakan sensasi spiritual paripurna berkontemplasi merenungkan Tuhan dan hakikat Anda di dunia ini.

Ah, saya harus menontonnya lagi sendirian saja. (Dari sebuah sudut ruang redaksi ini, saya mendengar seorang kawan membatin, “Beuh, pencitraan tingkat tinggi.)***

Ulasan ini semula dimuat di: http://www.tabloidbintang.com/film-tv-musik/ulasan/15637-menonton-the-tree-of-life-sebuah-pengalaman.html

my Twitter: @a_irwansyah


Category:Movies
Genre: Action & Adventure
KETIKA ke bioskop hendak menonton film yang dibintangi Angelina Jolie dan Johnny Depp, Anda pasti berharap menyaksikan sesuatu yang istimewa.
Apalagi ketika tahu filmnya bersetting kota Venesia, Italia yang cantik.

Dalam sebuah tulisan feature-nya (aslinya ditulis 1988, lalu dibukukan 2006), Sindhunata menyebut Venesia kota pengantin, kota bulan madu. Dulu, tulisnya, banyak pasangan pengantin datang ke Venesia untuk merayakan atau memberkatkan perkawinannya.

Ya, Venesia adalah kota paling romantis di bumi, selain Paris. Di kota ini cinta dirayakan. Tengok saja arsitektur kotanya. Venesia bagai kota dongeng. Dari kejauhan ia tampak bagaikan kota yang terapung-apung di atas laut. Air tersodet lewat pelbagai kanal besar maupun kecil. Karena sodetan ini, daratan bagai muncul dengan sendirinya. “Pulau yang lahir dari air begitu julukan Venezia,” tulis Sindhunata.

Berduaan dengan orang tercinta adalah hal paling romantis yang mungkin dialami sepasang kekasih. Sambil duduk di atas perahu gondola mengelilingi kota adalah gambaran umum romantisme Venesia.

The Tourist mempertemukan Angelina Jolie dan Johnny Depp di Venesia nan romantis. Saya termasuk orang yang menunggu betul film ini karena 3 hal itu: Jolie, Depp, dan Venesia. Saya membayangkan filmnya akan asyik. Dua bintangnya adalah yang terbesar di Hollywood saat ini. Dua-duanya magnet yang dijamin menarik minat penonton.

Di The Tourist kita dikenalkan pada Jolie sebagai Elise yang tengah dikejar pihak berwajib karena kekasihnya,Alexander Pierce mencuri uang bos mafia. Dari sebuah pesan yang diterimanya dari Alexander di sebuah kafe di Paris (ah, kota romantis lagi), Elise diminta memilih pria mana saja dan membuat polisi mengira pria itu Alexander. Jolie akhirnya memilih Frank Tupelo, seorang turis yang berprofesi sebagai guru matematika dari Amerika. Berdua mereka menuju Venesia.

Dari sini filmnya bertolak. Penonton diajak menyelami hubungan antara Elise dan Frank. Elise yang begitu jelita dan Frank yang kikuk. Emosi penonton diaduk agar bersimpati pada dua sejoli ini, meski penonton tahu Elise sudah punya kekasih, Alexander Pierce yang tengah diincar baik oleh pihak berwajib maupun mafia yang duitnya ia curi.

Andai filmnya berfokus pada semacam cinta segitiga itu, mungkin hasilnya bakal lebih baik. Tapi sutradara Florian Henckel von Donnersmarck tak ingin menyia-nyiakan Jolie dan Venesia.

Tak ada yang membantah Jolie begitu menawan. Ia laksana dewi yang turun dari langit. Tubuhnya, tatapannya, dan bibirnya... ah...cantik tak terperi. Donnersmarck begitu memanfaatkan kecantikan Jolie. Pasangan hidup Brad Pitt itu dimintanya berjalan bak sedang menelusuri catwalk. Penuh gaya, membuat setiap pria memandangnya. Sesekali Jolie berhenti seolah berpose, memamerkan busana yang dikenakannya atau kecantikannya. Kita terpesona, ya. Tapi, bukan untuk ini kita ke bioskop ‘kan? Bukankah kita seharusnya menonton kisah cinta antara Elise dan Frank yang di tengahnya ada Alexander Pierce yang misterius dan penjahat serta polisi yang mengejar?

Venesia dan Jolie rupanya membuat Donnersmarck begitu terpesona sampai ia lupa kalau tiang penyangga filmnya jadi rapuh.

Sebagai sebuah film romantis, kita tak dibuat cukup yakin pada Elise dan Frank. Tak ada chemistry di antara keduanya. Lantaran terlalu fokus menyorot Jolie dan segala posenya, sutradaranya lupa kalau karakter Elise dan Frank harusnya diberi porsi lebih untuk meyakinkan penonton. Sebagai thriller dengan twist ending yang ingin membuat penonton terkejut di akhir film, The Tourist malah mencederai logika film yang sudah dibangun di awal.

[SPOILER ALERT! PEMBACA YANG TAK INGIN TAHU IDENTITAS ALEXANDER PIERCE BISA LANGSUNG MEMBACA DUA PARAGRAF TERAKHIR]

Sepanjang film, penonton sudah diberi misteri besar: siapa sebetulnya Alexander Pierce? Apakah Frank adalah Pierce? Ah, tak mungkin Frank yang kikuk adalah Pierce yang mampu mengelabui mafia, mencuri ratusan juta dolar, dan licin bak belut. Bukankah Pierce adalah pria yang menyelinap sebentar dan membuat Elise mencari-cari di antara tetamu pesta mewah di Venesia?

Sepanjang film, penonton disuguhi kalau perlahan Frank, seorang yang dikatakan ditinggal mati istri terdahulu, jatuh cinta pada Elise yang sebetulnya sudah punya kekasih. Tapi, kita di ujung film kemudian dikejutkan oleh sosok asli Frank sesungguhnya. Ya, Frank adalah Pierce. Pria itu menjalani operasi jutaan dollar dan menyamar sebagai turis Amerika. Elise tak sadar selama ini telah bersama Frank.

Tapi di sini juga anehnya. Jika selama ini Frank adalah Pierce kenapa pula ia seolah baru pertama kali jatuh cinta pada Elise? Bukankah selama ini Elise adalah kekasihnya? Dia ‘kan cuma operasi wajah dan mengubah dandanan, bukan dicuci otak juga? Mengapa pula, Frank sampai mimpi basah dan kikuk bukan main menghadapi Elise, bahkan saat Elise tak melihat dan hanya kita, penonton, yang lihat?

[SPOILER BERAKHIR DI SINI]

Dalam teori perfilman dikenal istilah logika dalam. Film patuh pada logika yang sudah dibangunnya dari awal. Saat sebuah film mengingkari logika yang dibangunnya sendiri, keajegan sebuah film runtuh. Sebuah twist alias kelokan cerita dibuat agar penonton terkejut dan senang karena telah dibuat terkejut. Penonton senang karena merasa dibodohi. Tapi, ketika logika film dicederai, alih-alih merasa senang sudah dibodohi, penonton justru merasa ditipu. Nah, saat merasa ditipu, penonton tak senang. Saya masih maklum bila sebuah film Indonesia mengingkari logika dalam. Namun, saya tak percaya ada film Hollywood yang dilakoni bintang besar memiliki kesalahan fundamental macam ini.

Begitulah yang terjadi pada The Tourist ini. Penonton ditipu. Pada akhirnya, tidak hanya twist-nya yang menipu, tapi juga karena filmnya jauh dari harapan. Jolie, Depp, dan Venesia tak secantik yang kita harapkan. Jika sudah begini, mari kita tunggu debut penyutradaraan Jolie di film tentang perang Bosnia dan Depp di lanjutan Pirates of the Caribbean.

Semula dimuat di http://www.tabloidbintang.com/film-tv-musik/ulasan/7845-the-tourist-saat-angelina-jolie-bertemu-johnny-depp-di-venesia.html


ReviewReviewReviewDec 21, '10 9:14 AM
for everyone
Category:Movies
Genre: Science Fiction & Fantasy
SUDAHKAH Anda menonton film TRON pertama?

Saya sih belum. Dan saya yakin banyak dari warga sini yang belum nonton film rilisan 1982 itu. Saya pernah mencuri dengar di bioskop seorang anak usia SD bertanya pada ibunya usai melihat trailer TRON. “Dulu ibu nonton TRON tidak?” tanya si anak. Si ibu menjawab tidak.

Saya menyangka, waktu 1980-an itu tak banyak film Hollywood yang rilis di bioskop kita. Saya pernah baca di majalah Tempo edisi lama, distributor film kita pilih-pilih untuk mengedarkan film Hollywood. Film fiksi ilmiah tak masuk hitungan untuk dirilis karena diemohi penonton sini. Star Wars konon tak laku saat diputar di bioskop tanah air. Akhirnya, film Steven Spielberg E.T. (Extra Terrestrial) yang laris luar biasa di seluruh dunia diemohi distributor dan akibatnya tak beredar di bioskop.

Meski tak tahu persis (waktu 1982 umur saya baru 2 tahun dan orang tua saya bukan pecinta film fiksi ilmiah, jadi tak ada guna bertanya pada mereka), saya ragu TRON pertama rilis di bioskop sini. Apalagi, dari bacaan yang saya baca kemudian, TRON pertama tergolong "box office disaster" alias bikin rugi.

TRON pertama dirilis Walt Disney, produsen film kartun yang ingin menggaet fans fiksi ilmiah Star Wars. Waktu itu film kedua Star Wars: The Empire Strikes Back belum lama dirilis 20th Century Fox dan sukses besar. Disney rupanya tergiur. Mereka merilis TRON.

Hasilnya, TRON hanya dapat AS$33 juta saat edar. Bandingkan dengan The Empire Strikes Back yang di penghujung 1980 mengumpulkan AS$ 222 juta.

2
Gagal di box office, TRON kemudian jadi fenomena cult. Artinya, film ini punya “penonton fanatik yang setengah menghamba.” Video-nya laris. Filmnya dibicarakan terus dan selama bertahun-tahun itu para fans mengharap bakal ada remake atau sekuel dari TRON.

Sebelum masuk ke film kedua, saya hendak mencoba jawab mengapa TRON akhirnya menjadi cult film. Menonton trailer TRON di You Tube mudah mengatakan filmnya norak. Teknologinya tentu amat ketinggalan zaman untuk ukuran sekarang. Bahkan, untuk ukuran 1980-an pun, efek visual Star Wars lebih rapi.

Tapi itu dia. Inilah satu kontradiksi zaman posmo yang suka menjungkirbalikkan apa yang ajeg. Yang dulu dianggap norak malah terlihat keren alias cool di zaman sekarang. Bukankah kita menganggap era ’80-an itu asyik walau norak sekarang? Saya teringat film-film Warkop DKI yang disukai banyak orang lagi saat ini padahal dulu dicap sebagai film sampah oleh para kritikus film masa itu.

Atau, tengok fenomena segelintir penonton Barat yang justru mendewakan film-film laga Barry Prima macam Jaka Sembung (dijual di Barat dengan judul The Warrior) atau Sundel Bolong dan sejenisnya. Saya pernah baca obrolan pengamat film Ekky Imanjaya dengan Pete Tombs, pemilik distributor Mondomacabro DVD yang merilis film-film Suzzana dan Barry Prima bagi masyarakat Barat. Bagi Pete, film-film kita macam Suzzana dan Barry Prima punya agenda hanya untuk menghibur. Ciri khasnya: plot sederhana, cerita berirama cepat, baik lawan buruk—dan baik biasanya menang. “Dan tentu saja mitologi yang dieksplorasi, semacam Ratu Laut Selatan dan Sundel Bolong, begitu baru dan sangat eksotis,” kata Tombs pada Ekky.

3
Oke, balik ke TRON, ada kata-kata kunci yang bisa kita ambil dengan menganalogikan TRON pertama dengan film-film cult Indonesia jadul: cerita sederhana, baik lawan buruk, dan tentu, eksotis.

Dari trailer yang saya lihat di You Tube, kesederhanaan visual TRON pertama menawarkan eksotikanya sendiri. TRON pertama bak lukisan manusia pra sejarah di dinding-dinding gua. Walau lukisan itu mungkin dianggap biasa saja di masanya (cetakan tangan, gambar orang berburu), bagi manusia zaman kiwari justru dianggap sangat berharga. Gambar-gambar itu mengatakan banyak hal.

Begitupun TRON pertama, meski visualisasinya sederhana, film ini mengingatkan kita bagaimana teknologi sinema pada masanya. Star Wars tak memberi itu. Saat tayang pertama hingga menontonnya lagi sekarang, Star Wars tak meberi kesan berbeda. Makanya, Star Wars jadi film klasik, sedang TRON jadi film cult.

4
Syahdan, sampailah kita pada TRON Legacy, sekuel yang dibuat 28 tahun setelah film pertamanya rilis. Kita sudah melihat dinosaurus hidup lagi (Jurrasic Park, 1993), animasi berbasis komputer (Toy Story, 1995), hingga fenomena 3D (Avatar, 2009).

Maka, berada di mana TRON Legacy di antara kemajuan teknologi sinema Hollywood? Apa film keduanya memberi pengalaman sinematis yang lebih canggih dari film yang sudah ada?

Itu pertanyaan yang saya ingin jawab saat hendak menonton TRON Legacy. Saya melewatkan preview 25 menit TRON Legacy, tapi kata seorang kawan yang nonton, “Saya tak pernah melihat visual film kayak begitu sebelumnya.” Wow, saya makin penasaran.

Rasa penasaran itu hilang awal pekan ini saat berkesempatan menontonnya. Saya melewatkan nonton di versi 3D karena kata banyak kicauan di Twitter orang-orang, versi 3D-nya nggak terlalu berasa. Ok, I skip the 3D.

5
Dan ya, saya suka TRON Legacy. Efek visualnya luar biasa keren. Dunia di dalam komputer, dinamai Grid, sangat memesona. Neon-neon berpendar memanjakan mata. Interior dan eksterior dunia Grid menawarkan visualisasi yang belum pernah saya lihat sebelumnya. Adegan balap motor dengan meninggalkan ekor cahaya atau adu laga dengan cakram mirip video games. Melihat Jeff Bridges dalam sosok lebih muda (sebagai Clu si jahat) membuat saya berpikir: ah, mungkin begini sinema masa depan menyiasati aktor yang tua untuk terlihat muda lagi. Ilustrasi musik yang dibuat Daft Funk menambah kesan futuristis yang pas pada film.

Ah, saya tak hendak berbusa-busa membahas efek visual filmnya. Atau, sinopsis kisahnya karena sebaiknya Anda saksikan sendiri di bioskop. (Jika Anda tetap ingin saya ceritakan kisahnya baiklah: seorang anak masuk ke dunia komputer mencari ayahnya dan harus bertarung di sana agar bisa kembali ke dunia. Itu saja.)

Saya lebih tertarik untuk bagaimana mendudukkan film ini 30 tahun lagi. Seprti halnya TRON pertama, TRON Legacy utamanya dikritik banyak kritikus punya cerita lemah meski visualnya menakjubkan. Kesimpulan situs Rotten Tomatoes: “Tron Legacy boasts dazzling visuals, but its human characters and story get lost amidst its state-of-the-art production design.” Skornya hingga tulisan ini dibuat, 49 persen. Artinya, hanya 49 persen kritikus yang menyukai film ini. Sisanya tak suka.

Apa yang dikatakan skor itu? Buat saya ini pertanda, kalau nasib filmnya mungkin takkan cemerlang di bioskop saat masa edarnya berakhir. Ia takkan jadi “The next Star Wars” seperti film petamanya diniatkan dulu (dan gagal) apalagi melampaui pencapaian Avatar-nya James Cameron.

Kita, orang zaman sekarang, mungkin menganggap TRON Legacy biasa-biasa saja. Tapi saya meramal 30 tahun lagi, filmnya mungkin bakal jadi film cult masa depan.

Saat menonton di bioskop, saya melihat sejumlah anak ikutan nonton. Bagi anak-anak ini, yang terbiasa main games di PS atau sejenisnya, TRON Legacy bakal mereka kenang selalu.

Saya membayangkan bila 30 tahun dari sekarang baru dibuat sekuel TRON Legacy. Seorang anak bertanya pada ayahnya usai melihat trailer TRON terbaru. “Apa ayah dulu nonton TRON Legacy?” Si ayah kali ini pasti menjawab, “Ya ayah nonton waktu kecil dulu. Itu film keren banget dulu…” ***

Semula dimuat di http://www.tabloidbintang.com/film-tv-musik/ulasan/7597-tron-legacy-bagaimana-nasibnya-30-tahun-lagi.html


Category:Movies
Genre: Horror
i
SEPERTI banyak orang lain, saya menonton Paranormal Activity pertama tahun lalu. Tapi heran, setelah satu tahun lewat, saya agak lupa dengan kisahnya.

Yang paling saya ingat justru betapa film itu membuat saya ketakutan. Itulah sedikit film horor yang bikin saya takut—saya bilang sedikit karena sebagai wartawan yang biasa menulis film saya berkesempatan menonton banyak film horor bikinan anak negeri yang alih-alih menakutkan malah bikin ingin keluar bioskop cepat-cepat karena tak mau membuang waktu lama-lama.

Kembali ke Paranornal Activity pertama, saya samar-samar mengingat kisahnya. Kira-kira isinya begini: ada sejoli yang tinggal di rumah berhantu. Saat mereka tidur, selimut disibak tiba-tiba. Dibuat jatuh dari tempat tidur. Semuanya terekam dari kamera yang dipasang di kamar sejoli itu dan video yang mereka rekam.

Terus terang, saat menontonnya saya tak begitu mempedulikan ceritanya. Saya lebih fokus mencermati gerakan hantu yang terekam kamera. Mencari-cari kapan hantu muncul dari keanehan yang terjadi. Sebuah selimut yang bergerak membuat saya penasaran sekaligus ketakutan.

Saya mengira-ngira, mungkin saya tak peduli ceritanya lantaran saya—atau Anda juga—terbiasa menonton acara-acara reality show mistik di TV macam Dunia Lain dan kawan-kawannya. Saat menonton acara itu, alih-alih ketakutan kita malah menunggu hantu muncul yang disebut penampakan.
Saat pertanda ada hantu—betapa kecilpun pertanda itu—kita malah keasyikkan. Saat penampakan tak muncul kita malah kecewa.

ii
Ini nampakya keunggulan Paranormal Activity. Ia memanfaatkan kesenangan kita ditakut-takuti. Ya, saat menonton film seram, kita justru mencari seramnya di mana. Semakin seram semakin berhasil.

Paranormal Activity (PA) berhasil memanfaatkan keasyikkan ditakut-takuti pada level berikut. Filmnya tahu betul, semakin realis filmnya makin seram. Realitas itu diwujudkan lewat sajian film bak sebuah rekaman dokumentasi. Penonton disodori kalau yang mereka saksikan seolah rekaman nyata. (Saya malah bertanya-tanya, jangan-jangan ada yang mengira kalau dokumentasi itu asli!) Penonton semakin merasa seram karena segala yang terjadi begitu nyata dan mungkin bisa menimpa setiap orang—termasuk Anda, saya, kita, penonton.

Film pertama jadi sukses instan. Dengan hanya biaya pembuatan AS$15 ribu dan disyut di rumah sutradaranya sendiri, Oren Peli, PA pertama menghasilkan lebih dari sepuluh ribu kali lipat atau tepatnya AS$ 153.469.744 sekaligus kegilaan orang-orang yang senang ditakut-takuti.

Film kedua diberi modal lebih banyak: AS$ 3 juta—jauh lebih besar dari film pertama tapi masih terlalu kecil dibanding budget film musim panas Hollywood yang sampai AS$ 250 juta.

PA 2 tak lagi dibesut Peli tapi disutradarai Tod Williams. Ia tentu punya beban untuk membuat film yang lebih menakutkan dari yang pertama.
Apalagi ini film sekuel yang diracik berbahan dasar sama: rumah berhantu, hantu terekam kamera, hantu muncul dari benda-benda di rumah yang bergerak sendiri.

Oke, sepertinya kita akan melihat ketakutan yang “rutin”. Dan kalau sudah “rutin”, di mana menyeramkannya. (Ingat, film horor yang mengandalkan kekagetan penonton semakin hilang rasa seramnya bila penonton sudah hapal di bagian mana hantu muncul).

Niatan utama saya nonton film PA 2 awalnya karena ingin membuktikan: apa film horor yang dibangun berdasar formula film pertama masih bikin saya ketakutan?

Jawabnya: Ya, filmnya masih bikin saya ketakutan. Beberapa kali saya nyaris melonjak dibuat kaget. Saya tak hendak cerita di bagian mana saja adegan menyeramkan. Yang hendak saya bilang: film kedua lebih bagus karena usai menonton, saya tak hanya ingat bagian mana saja yang bikin filmnya seram, tapi, terutama, saya ingat betul ceritanya.

iii
Film kedua menjelaskan apa yang terjadi di film pertama. Pendek kata, ini film prekuel. Cerita sebelumnya.

Kisahnya tentang keluarga saudara perempuan Katie, Kristi (Sprague Grayden) dan suaminya, Daniel (Brian Boland) beserta anak mereka yang masih bayi Hunter dan putri Daniel gadis berusia ABG, Ali (Molly Ephraim). Suatu ketika, saat pulang ke rumah, mereka mendapati rumah berantakan diobrak-obrik entah siapa. Daniel lalu memasang kamera di setiap sudut rumah.

Dari rekaman CCTV (dan video keluarga) itu kita tahu apa yang menghantui mereka. Dan terutama mengapa makhluk jahat itu menghantui mereka dan bagaimana kiita kemudian melihat Micah dan Katie (di film pertama) juga dihantui, serta apa yang terjadi setelah film pertama berakhir. (Oke, saya ingatkan lagi akhir film pertama: Katie kerasukan setan dan membunuh Micah, kekasihnya sendiri)

Film kedua berakhir dengan sebuah kemungkinan filmnya akan berlanjut ke sekuel berikut (dan nyatanya film ketiga bakal rilis tahun depan).

Saya pasti akan menontonnya lagi—saya penasaran akan apa yang terjadi pada si bayi Hunter, ups, maaf spoiler! Tapi, di lubuk hati ini, saya juga ingin filmnya berhenti di film kedua. Saya tak yakin film ketiga kelak bakal lebih menakutkan karena kita sudah tahu bahan dasar filmnya. Saya amat menyayangkan bila film ini kemudian berseri-seri seperti Final Destination yang lahir dari premis sama: bagaimana mengingkari kematian.

Ya, di film PA ketiga, mungkin keempat, kelima, keenam nanti masihkah seram jika kita disuguhi rekaman video yang melulu wajan jatuh, pintu terbuka/menutup sendiri, selimut bergerak dan semacamnya? Saya sih ragu. Bukankah acara semacam Dunia Lain kita tinggalkan karena kita terlalu hapal dengan formatnya?


Category:Movies
Genre: Science Fiction & Fantasy
APA yang saya rasakan usai menonton Harry Potter and the Deathly Hallows—Part 1?

i
ADA perasaan aneh usai menonton film Harry Potter teranyar, Harry Potter and the Deathly Hallows—Part 1.

Rasa itu berupa emosi campur aduk: senang akhirnya bisa kembali ke bioskop menonton Harry Potter tapi juga nyaris sedih karena tahu akhir Harry Potter sudah dekat.

Saya, seorang muggle, bukan penyihir, tumbuh bersama Harry Potter. Buku dan novelnya telah mengisi hidup saya—juga banyak dari Anda—selama 10 tahun terakhir. Saat pertama baca Harry Potter dan Batu Bertuah tahun 2000 Anda mungkin masih sekolah atau kuliah. Sekarang Anda sudah bekerja, punya suami/istri, dan anak.

Kita telah bersama-sama mengikuti perjalanan Harry. Dari bocah yang bertahan hidup hingga jadi seorang pria dewasa yang menyerahkan hidupnya untukmemenuhi takdir melawan Dia yang Namanya Tak Boleh Disebut.

Dari bukunya, kita tentu ingat momen ini: Mr Dursley tak sengaja menabrak orang di depan pintu. Si lelaki yang ditabraknya memakai jubah ungu. Dia tak marah ditabrak sampai hampir jatuh. “Jangan minta maaf, Sir, karena tak ada yang bisa membuatku marah hari ini! Bergembiralah, karena Kau Tahu Siapa telah pergi akhirnya! Bahkan Muggle seperti Andapun harus ikut merayakan hari yang amat sangat membahagiakan ini!” (Harry Potter dan Batu Bertuah, hal. 12)

Atau, momen saat bukunya berakhir, bab "Epilog: Sembilan Belas Tahun kemudian". Harry dan Ginny, Ron dan Hermione, serta Draco, lengkap dengan anak-anak mereka mengantar ke stasiun sebelum naik Hogwarts Express. Pada paragraf terakhir JK Rowling, penulis Harry Potter, menuliskan begini: Bekas luka itu tidak pernah membuat Harry sakit lagi selama sembilan belas tahun. Segalanya baik-baik saja. (Harry Potter dan Relikui Kematian, hal. 999)

Saat melipat halaman terakhir buku Harry Potter, saya tak merasakan kehilangan yang berat. Karena saya tahu, walau bukunya tamat, filmnya masih ada. Kita masih bisa bertemu Harry dan kawan-kawan di bioskop.

Tapi, sekali lagi, akhir sudah dekat. Kita akan segera berpisah dari Harry dan yang lain sepenuhnya. Setelah Deathly Hallows Part 1, kesempatan kita melihat Harry Potter tinggal sekali lagi Juli tahun depan saat Part 2 rilis.

ii
Deathly Hallows Part 1 dimulai dengan adegan yang membuat haru. Setelah pernyataan Menteri Sihir yang seolah jadi pengantar kalau “These are dark times, There is no denying—ini adalah masa kegelapan, tak disangkal lagi,” kita melihat tiga tokoh utama: Harry, Ron, dan Hermione di rumah masing-masing. Yang paling bikin sedih tentu melihat Hermione menghilangkan memori orang tuanya akan dirinya.

Kemudian kita melihat yang lain jadi Harry setelah meminum ramuan polyjus. Lucu melihat yang lain berubah jadi Harry—terutama Harry pakai bra.

Film bergerak sangat cepat. Di antara serunya kejar-kejaran kita melihat Hedwig, burung hantu kesayangan Harry, mati demi tuannya dan mendapat kabar kalau Mad-Eye Moody tewas. Tidak banyak waktu untuk berduka, karena film memang bergerak sangat cepat dari satu peristiwa ke peristiwa lain. Waktu hampir dua setengah jam terasa melayang cepat, sangat cepat malah, dan tahu-tahu credit title tanda film usai muncul. Padahal diri ini masih ingin melihat yang seru-seru.
Ah, itulah mungkin hebatnya David Yates, sutradara Harry Potter yang ini dan 2 film sebelumnya plus “Part 2” Juli depan. Ia berhasil membawa kita pada serunya kisah Harry tanpa terasa lambat.

iii
Selain beralur cepat, Deathly Hallows Part 1 relatif setia pada bukunya. Ini satu lagi keunggulan film ini. Saat menonton film-film Harry Potter, saya menganggap kalau filmnya tak bisa utuh menerjemahkan bukunya. Memang, film dan buku dua media berbeda. Tapi, buat saya, menghilangkan bagian-bagian tertentu di buku amat disayangkan.
Saya pernah menulis, walau film keempat paling baik buat saya sebagai karya sinema, tapi justru di film ke-4, Harry Potter and the Goblet of Fire, yang paling tidak setia pada bukunya. Di situ tak ada Hermione berkampanye membela hak-hak peri rumah dan pertandingan Piala Dunia Quidditch yang kurang detil.

Semula saya agak menyangka kalau membagi buku ke-7 jadi dua film adalah trik Hollywood agar mereka makin untung. Sangkaan saya tidak sepenuhnya benar. Buku ke-7 mungkin memang paling baik dibagi dalam dua film.

Pertama, agar kita, pecinta bukunya, tidak lagi merasa dikhianati karena banyak yang dihilangkan dari bukunya. Bukunya sendiri memang tebal (999 halaman edisi Indonesia). Ada begitu banyak peristiwa yang akan mengganggu jalan cerita bila dihilangkan—itu pun sudah ada yang dihilangkan seperti Dursley yang akhirnya berbaikan dengan Harry dan kehidupan masa lalu Dumbledore yang hanya dicuplik sedikit.

Kedua, tentu, Hollywood ingin untung lebih banyak dengan bikin dua film—langkah yang juga diadopsi Twilight Saga dengan membagi buku terakhir, Breaking Dawn jadi dua film.

iv
Bagi yang hanya mengikuti kisah Harry Potter dari film, Deathly Hallows Part 1 menandai kisah Harry Potter yang tinggal menyisakan aksi. Tidak ada lagi pelajaran sihir di Hogwarts, guru Pertahanan Terhadap Ilmu Hitam yang baru, pertandingan Quidditch, atau tetek bengek khas dunia sihir Potter.

Ibarat cerita Lord of the Rings, film ketujuh adalah perjalanan Frodo menuju gunung Mordor menghancurkan cincin Sauron. Bagian saat liontin dikalungkan ke Harry atau Ron lalu mereka jadi gusar dan pemarah mengingatkan saya pada pengaruh buruk cincin di cerita Lord of the Rings.

Seperti cerita Lord of the Rings, Harry Potter telah jadi kisah epik perjalanan manusia melawan marabahaya berperang demi kebaikan. Plot perjalanan sudah jadi ciri khas setiap kisah epik mulai dari The Odyssey zaman Yunani kuno hingga Star Wars gubahan George Lucas.

Harry Potter pantas disandingkan dengan kisah-kisah besar itu.
Yang membuatnya istimewa, kita patut bersyukur menjadi saksi sekaligus tumbuh bersama sebuah kisah besar. Saat kita sebentar lagi berpisah dengan kisah besar itu, wajar muncul perasaan aneh karena akan berpisah. Itu yang saya rasakan usai nonton Deathly Hallows Part 1.

Saya takkan kaget bila 30 tahun dari sekarang bakal ada remake film-film Harry Potter. Saat itu saya, kalau masih hidup, berusia 60 tahun. Dengan teknologi perfilman 30 tahun mendatang, efek visual filmnya mungkin lebih baik. Tapi film Harry Potter 30 tahun yang akan datang tentu ditujukan bagi generasi baru masa itu. Bagi generasi saya, generasi kita sekarang, Harry Potter adalah Daniel Radcliffe; Ron Weasley adalah Rupert Grint; dan Hermione adalah Emma Watson. Lain tidak.

Ya, akhir sudah dekat. Mari rayakan sambil menyeka air mata, karena kematian Dobby maupun kita akan berpisah dengan Harry dan kawan-kawan.***

Review di atas semula dimuat di http://www.tabloidbintang.com/film-tv-musik/ulasan/6954-harry-potter-and-the-deathly-hallowspart-1-akhir-sudah-dekat.html


Category:Movies
Genre: Romance
1

DI awal Dawai 2 Asmara saya langsung disuguhi lagu terbaru Rhoma Irama, “Azza.”

Di tengah konser, Bang Haji—sapaan akrab kita untuk Rhoma—berdendang bersama group band-nya Soneta. Lagu “Azza” ternyata dilantunkan penuh lengkap dengan potongan klip Bang Haji di padang pasir dengan latar piramida Mesir.

Saya mencubit tangan, memastikan apa sedang di bioskop atau di rumah nonton acara Inbox. Oke, ternyata saya di bioskop, terpisah dari istri karena kami tak dapat bangku berdekatan. Teater di hari libur Lebaran itu penuh.

“Video klip” lagu “Azza” di awal adalah keanehan pertama film ini. Meski bertanya-tanya, saya ikut berdendang: “Azza... Azza... Azza.” Lalu film meloncat ke seorang remaja bule Australia, bemonolog tentang ketertarikannya meriset soal dangdut. Tak dijelaskan buat apa ia meriset dangdut—sampai ke Indonesia segala. Untuk skripsi? Kok rasanya masih terlalu muda. Untuk tugas sekolah? Masak sih sampai ke Indonesia segala bertemu sang raja dangdut.

Kita lantas diajak meninggalkan bule muda nan cantik itu. Anak Bang Haji, Rhido dikisahkan balik ke Indonesia dari kuliahnya di Australia. Di rumah, Bang Haji naik kuda putih di hamparan kebun teh. Kamera menyorot dari atas. Bang Haji terlihat megah. Persis di film-film India.

Ternyata maksud Bang Haji meminta Rhido pulang ada tujuannya. Bang Haji ingin Rhido meneruskan tongkat estafet mengembalikan kejayaan musik dangdut. Lewat dialog yang sepertinya dicomot dari artikel musik, Bang Haji ingin Rhido membuat revolusi musik dangdut seperti yang dilakukannya tahun ’70-an. Revolusi itu: dangdut yang lebih segar dengan formasi band. Yup, intinya Bang Haji minta anaknya jadi penyanyi dan bikin band dangdut. Ah, andai dialognya tak sepeti artikel musik begitu.

Oke, sudah ada berapa cerita di atas? Dua ya. Satu tentang remaja bule bikin riset dangdut. Satu lagi Rhido membuat band dangdut. Masih ada dua lagi ternyata. Cerita ketiga tentang cinta segitiga antara Rhido, Thufa (Cathy Sharon), dan Delon. Alkisah, Thufa sedang didekati Delon, seorang penyanyi. Di saat bimbang untuk menerima cinta Delon, muncul Rhido, pria yang sudah ditaksirnya sejak SMP. Cathy juga harus sering berurusan dengan Rhido karena mendadak bosnya menyuruh meminta Bang Haji tampil di acara (O ya, bagian yang mengundang tampil ini tak pernah diceritakan kelanjutannya).

Cerita keeempat tengtang penggemar fanatik Bang Haji, Brutus (Pepeng Naif). Awalnya, ia berniat mengundang Bang Haji tampil manggung di kampungnya. Tapi eh tahu-tahunya kita malah diperlihatkan Brutus seolah jadi Mark David Chapman yang membunuh John Lennon.


2

Itulah 4 cerita yang disuguhi pada kita dalam Dawai 2 Asmara garapan Endri Pelita dan Asep Kusdinar ini. Cerita soal kisah cinta segitiga Rhido-Thufa-Delon diberi porsi paling banyak. Hingga secara keseluruhan, membuat kita bertanya-tanya: jika yang diberi porsi paling banyak soal cerita cinta itu,mengapa cerita yang lain dipaksakan untuk dibuat?

Pertanyaan sia-sia karena film ini tak memberi jawab itu. Tapi, yang jelas, film ini mengemban banyak pesan dari yang bisa ditanggungnya. Mungkin karena ini film musikal dangdut pertama sejak Bang Haji terakhir main film Tabir Biru tahun 1993. Film ini sepertinya ingin menumpahkan semua uneg-uneg tentang dangdut. Apalagi saat ini sering disebut sebagai masa gelap dangdut yang digerus musik pop.

Alhasil, Dawai 2 Asmara sejatinya punya pesan: dangdut never dies! Dangdut malah tengah ber-revolusi untuk kedua kalinya lewat sang putra mahkota dari sang raja: Rhido Roma (Hei, can we call him “Kak Rhido” just like Ricca Rachim and Yati Octavia used to call Bang Hajii “Kak Rhoma”?).

Film ini adalah anti-tesis Bang Haji untuk situasi dangdut kontemporer. Sebagai sang raja, ia tentu tak boleh membiarkan dangdut hilang jadi sejarah. Dangdut yang disebut-sebut sebagai local genius asli Indonesia harus tetap hidup dan berevolusi dengan keadaan zaman. (Tunggu, asli Indoesia? Well, tak sepenuhnya benar. Dangdut sejatinya adalah musik yang lahir dari campur aduk pengaruh musik Melayu Deli, Arab, dan tentu, India. )

Lewat film ini, Bang Haji menyodorkan diskursus bahwa dangdut masih disukai penduduk negeri yang disebut dalam liriknya (waktu itu) berjumlah “seratus tiga puluh lima juta jiwa.” Dangdut juga bukan musik kampungan. Buktinya, ada bule yang tertarik meriset dangdut.

Sang raja pun berdendang: Di mana-mana di atas dunia/ Banyak orang bermain musik/ bermacam-macam warna jenis musik/ Dari pop sampai klasik/ Bagi pemusik yang anti-Melayu/Boleh benci, jangan mengganggu/ Biarkan kami mendendangkan lagu/ Lagu kami lagu Melayu//

Atas jasanya dan niat mulianya membuat dangdut tetap hidup, Bang Haji harus kita beri salut.


3

Tapi terus terang, bila menonton Dawai 2 Asmara untuk mencari kesalahan, film ini punya segudang. Lihat saja ceritanya yang tidak fokus bercabang 4 arah tak jelas begitu. Perhatikan betapa gampangnya Ridho bikin band. Tidak inspiratif. Segalanya seolah-olah sudah jadi datang dari langit.

Tapi, tontonlah film ini sebagai perayaan. Perayaan atas comeback-nya Bang Haji. Dan perayaan pada musik dangdut. Film ini dijamin bikin Anda menggoyangkan kaki, mengikuti irama musikal bak film India. Penata kamera dan koreografer musik telah bekerja dengan baik. Rhido yang sebelumnya saya kira canggung tak bisa joged terpaksa harus joged bak bintang film India. Memang sih belum selincah Salman Khan. Gayanya berjoged di ending film meniru akhir Slumdog Millionaire bolehlah.

Segala cacat yang ada, buat saya, bukannya bikin sebal malah ketawa ngakak. Film ini boleh dibilang “so bad it’s good—saking buruknya malah jadi bagus.” Menghibur.

Harap tunggu di kursi hingga Anda dengar kalimat ini dari mulut Brutus: “Kalau kamu tahu film Satria Bergitar, kamu tahu sekarang saya ada di mana.” Saya ngakak luar biasa mendengarnya (mungkin sambil guling-guling bila di Yahoo Messanger). Satria Bergitar film Bang Haji tahun 1983. Filmnya berkisah tentang zaman antah berantah. Bang Haji jadi pengelana yang kemana-mana menyandang gitar. Kostumnya campuran dongeng Baghdad zaman Aladdin dan kerajaan Eropa. Kok bisa sih, setting zaman dongeng jadi acuan lokasi zaman kiwari? Sudahlah. Mari rayakan saja Bang Haji dan musik dangdut kita.***

Notes:

* Tahu tidak, selama ini kita sebut Rhoma Irama dengan “Bang Haji” adalah sebuah kesalahan. Di film ini, orang-orang terdekatnya memanggilnya “Pak Haji”. Yang masih memanggilnya “Bang Haji” sungguh ter-la-lu.

* *Ditulis sambil mendengarkan lagu “Azza.”

Ulasan ini semula dimuat di http://www.tabloidbintang.com/film/resensi/5575-dawai-2-asmara-merayakan-bang-haji-merayakan-dangdut.html?showall=1


Category:Movies
Genre: Action & Adventure
SAAT menonton Inception untuk wartawan pekan lalu, saya dan yang lain tertawa waktu Ellen Page, sebagai Adrianne, anak bawang di antara para pencuri mimpi, bertanya, “Wait a minute, whose subconscious are we going into, exactly—Tunggu, alam bawah sadar siapa yang akan kita masuki, sebenarnya?”

Pertanyaan Page yang bingung seolah mewakili kami yang kebingungan juga mengikuti gerak film ini berikut penjelasannya. Inception memang bikin bingung. Film ini menuntut penontonnya memusatkan perhatian sepanjang film agar tidak kehilangan momen yang akhirnya bikin bingung mengikuti cerita. Situs majalah New York Magazine sampai membuat artikel “kapan saat yang tepat pergi ke toilet waktu nonton Inception” (dua kali: saat tepat film berjalan satu jam dan 1 jam 26 menit, tapi komentar pembaca memberi usul lain: SEBELUM FILM DIMULAI); sedang situs Vanity Fair bertanya-tanya “Bisakah orang bodoh menikmati Inception?” yang isi artikelnya berupa tanya-jawab bocoran film agar lebih mudah paham waktu menonton.

Sekali lagi, Inception memang bikin bingung. Ini bukan jenis film yang mudah dinikmati sambil banyak ngemil atau ber-Twitter dan ngobrol di BBM (Blackberry Messanger). Ini juga bukan film yang menjual tampang keren pemain utamanya, Leonardo DiCaprio. Jadi, jika Anda menonton demi Leo yang ganteng, sebaiknya pikir ulang lagi. Ulasan di situs Time dan Entertainment Weekly sama-sama mengusulkan film ini ditonton tidak sekali saja. (Nah, karena saya baru menontonnya sekali, harus saya beritahu dari awal, ulasan ini bisa jadi tidak menyampaikan pesan filmnya dengan benar.)

Mungkin mudah memahami film ini bila Anda sudah membaca The Interpretation of Dream-nya Sigmund Freud atau mengerti pokok-pokok pikiran pencetus psikoanalisa itu. Muatan film ini pasti akan membuat Anda mengangguk-angguk dan terkagum-kagum pada visi sutradaranya, Christopher Nolan. Hikmat Darmawan, seorang pengamat budaya pop, yang saya yakin pasti mengerti betul pokok pikiran Freud, memuji selangit film ini dan menulis status di akun Facebook-nya: “It's official. Christoper Nolan, with INCEPTION, is no longer a film maker. He is a philosopher. "Your mind is the scene of the crime". It's official. Philosophy could be written in the form of movie: INCEPTION. Surpassing The Matrix in many levels, it challenges Plato. INCEPTION is a mind blowing adult action extravaganza, and a total mind-fuck. God, I hate TALI POCONG PERAWAN!”

Tuh, filsafat ternyata bisa difilmkan. Dengan asyik pula.

[SPOILER ALERT!!!] Nah, tanpa diembel-embeli filsafat ataupun teori mimpi Freud, film ini kira-kira punya kisah begini: Di dunia ternyata ada sekelompok orang yang kerjanya mencuri ide orang lain. Misi spionase mereka bukan dengan mendobrak kantor lawan mengobrak-abrik isinya atau meng-hack komputer mencari data rahasia. Bukan. Melainkan dengan masuk ke alam mimpi orang, mencuri ide saat ia sedang tidur langsung ke alam bawah sadarnya. Masuk ke alam mimpi mencuri ide disebut “extraction”. "Inception" kebalikannya. Masuk ke alam mimpi bukan untuk mengambil isi pikirannya, melainkan menanamkan pemikiran baru ke orang lain. Hal ini, konon lebih sulit, dan memerlukan upaya masuk ke dalam mimpi sampai berlapis-lapis. Artinya, ini yang bikin filmnya memantik otak kita, ada mimpi-di-dalam-mimpi-di-dalam-mimpi. Sampai berapa lapis, saya tak hendak membocorkan.

Saya tak pernah menonton film model begini sebelumnya. Nolan menggabungkan berbagai genre dan meramunya jadi asli miliknya. Dalam jejak yang ditinggalkan usai nonton Inception ada ingatan yang mengarah pada The Matrix (beraksi di alam lain) sampai James Bond (aksi spionase hingga melanglang buana ke berbagai tempat eksotik). Plotnya mengambil jalan cerita yang sudah berkali-kali difilmkan (seorang pemimpin misi berbahaya mengumpulkan anak buah dari beragam latar belakang sebelum misi dimulai). Sesuatu yang sudah kita akrabi itu tampil jadi lain dan tak terlihat klise saat Nolan yang meramunya. Efek spesial pun tampil bukan semata untuk bikin mata terpukau, melainkan jadi bagian tak terpisahkan dari cerita. Saya sampai berpikir, Nolan harus hati-hati bila sedang tidur karena mungkin ada orang yang ingin mencuri buah pikiran di balik tempurung kepala jeniusnya.

Usai menonton Inception, saya dan beberapa wartawan terlibat diskusi. Seorang kawan nyeletuk, yang istimewa justru bagaimana proses pitching ke produser. Bagaimana Nolan meyakinkan produser untuk bikin film tentang mimpi di-dalam-mimpi-di-dalam-mimpi? Sebetulnya mudah saja buat Nolan meyakinkan produser Hollywood. Lewat film The Dark Knight, ia menghasilkan setengah miliar dollar dari bioskop Amerika dan total satu miliar dollar dari seluruh dunia, plus jutaan dollar lagi dari penjualan DVD. Minta 160 juta dollar untuk bikin Inception bukan perkara sulit baginya.

Yang kami prihatinkan, betapa film model begini mungkin takkan pernah bisa dibuat anak negeri. Sineas kita mungkin punya ide liar semacam Nolan, tapi begitu menghadap produser, pasti ditanya begini, “Pocongnya mana?", "Setannya muncul di bagian mana saja?”, "Kok, nggak ada adegan seks-nya?", "Mau pakai artis porno Jepang, Korea, atau Taiwan?", atau “Nggak ada adegan cewek-cewek berbikini di pantai?” Duh, capek deh….

Semula dimuat di: http://www.tabloidbintang.com/film/resensi/4430-qinceptionq-tamasya-ke-alam-mimpi-christopher-nolan-.html


ReviewReviewReviewMay 29, '10 10:13 AM
for everyone
Category:Movies
Genre: Action & Adventure
Ah, Robin Hood. Bagi generasi 1990-an, ingatan akan sosok maling berbudi ini adalah saat Kevin Costner memerankannya di tahun 1991 lewat Robin Hood: Prince of Thieves. Kita tentu belum lupa berbagai ikonik momen film itu. Ingat saat Marion jahil meniup Robin saat hendak memanah? Atau gerakan kamera mengikuti anak panah meluncur sebelum menancap ke pohon? Atau yang ini, siapa yang hingga kini tak terkenang soundtrack-nya, “Everything I do, I do it for you”? Ah, so sweet…

Maaf, saudara-saudara. Anda harus lupakan kenangan manis Robin Hood versi Costner bila hendak menonton Robin Hood yang ini, Robin Hood versi Ridley Scott yang memasang si manusia gunung dari Australia Russell Crowe sebagai si maling berbudi.

Tunggu, maling berbudi? Maaf lagi, di Robin Hood ini nggak ada adegan Robin maling ke rumah orang kaya lalu harta rampasannya dibagikan ke si miskin. Robin Hood-nya Crowe menjungkirbalikkan semua yang kita tahu atas legendanya (kecuali Robin yang jago memanah).

(SPOILER ALERT! kisahnya mulai di paragraf berikut)

Kisahnya saja sudah beda dengan yang kita kenal. Robin di sini hanya sosok minor dalam konstelasi politik Inggris dan musuh bebuyutannya Prancis. Robin hanya serdadu rendahan yang berjuang bersama Raja Richard Si Hati Singa (ketika julukan ini diterjemahkan kok terasa tidak garang, ya?) saat pulang dari Perang Salib sambil memerangi tanah Prancis. Raja Prancis merasa Richard tak boleh sampai ke Inggris memerintah negerinya. Richard kemudian tak pernah sampai ke Inggris. Ia mati saat bertempur. Robin-lah kemudian yang membawa pulang mahkotanya ke Inggris dan mengaku sebagai Robert of Loxley, putra seorang bangsawan Nottingham.

Di berbagai kisah Robin Hood, Raja Richard justru selamat sampai ke Inggris. Ia kemudian menurunkan adiknya, Raja John dari tahta karena telah bertingkah jadi penguasa buruk. Di sini, John jadi raja Inggris setelah mendapat kabar kakaknya mangkat. Ia lalu mengangkat Godfrey (Mark Strong) jadi panglimanya dan ditugasi menagih pajak yang besar dari rakyat dan bangsawan. Yang menolak, daerahnya diperangi. Raja John tak tahu Godfrey sebetulnya bukan orang Inggris, melainkan orang Prancis yang menyusup. Saat Inggris terpecah belah, menurut strateginya, Prancis akan lebih mudah menaklukkan Inggris.

Nah, di tengah situasi geo politik seperti itulah Robin hidup. Ia ke Nottingham mengabarkan pada ayah Robert asli, Walter Loxley dan istri Robert, Marion (Cate Blanchet) kalau Robert tewas. Beda lagi, ‘kan? Dulu kayaknya Marion memang menunggu-nunggu kepulangan Robin ke Inggris, deh.

Robin di sini juga tak melawan Sheriff of Nottingham. Ketimbang memerangi Sheriff, Robin memilih ikut dalam pusaran arus persiapan perang Inggris dengan Prancis. Kita kemudian menemukan kembali adegan pidato menggugah khas film-film Hollywood tentang abad pertengahan (ingat, Braveheart?).

Prancis yang mengira Inggris terpecah belah kemudian mendaratkan ratusan perahu layar berisi pasukan ke pantai Inggris. Godfrey dan pasukannya sudah menunggu di bibir pantai untuk menyambut pasukan Prancis. Prancis tak tahu kalau Inggris nyatanya tak terpecah belah.

Di sini kemudian Scott memerlihatkan kepiawaiannya mensyut adegan duel peperangan. Menontonnya, terus terang, saya eringat saat tentara Amerika mendarat di Pantai Normandia di Perang Dunia II yang disyut Steven Spielberg lewat Saving Private Ryan (1998). Hanya bedanya, kali ini tanpa bedil atau meriam. Melainkan busur panah dan pedang.

Robin Hood versi Crowe-Scott sejatinya sebuah tafsir lain. Film ini juga sejalan dengan tren filmzaman kiwari: lupakan kisah yang dulu, ceritakan dari awal lagi asal mulanya, bikin lebih keras, dan lebih epik. Kita sudah menyaksikan resep itu terbukti sukses lewat franchise macam James Bond, Batman, dan Star Trek.

Kalau yang ini? Robin Hood di tangan Crowe memang lebih serius, kurang jenaka. Tapi dengan begitu kita kemudian akan susah mengenangnya--karena karakter macam begini sudah banyak. Di sini, Crowe seperti melanjutkan perannya sebagai Maximus di Gladiator (juga disutradarai Scott).

Ah, bagi generasi 1990-an, Kevin Costner tetap tak tergantikan…

* Ulasan ini semula dimuat di http://www.tabloidbintang.com/film/resensi/3139-robin-hood-tafsir-lain-untuk-zaman-baru.html


Category:Movies
Genre: Action & Adventure
”He was so deadly, in fact, that his enemies would go blind from over-exposure to pure awesomeness!”
—Dari Kung Fu Panda—

SAYA sih pernah memikirkannya. Saya ingat, usai menonton film The Karate Kidyang dibintangi Ralph Macchio waktu kecil dulu di TV, emosi saya meluap. Saya tiba-tiba merasa diri saya ini adalah jago karate yang baru diajari Mr. Miyagi.

Saya mendadak ingin menghajar orang. Selepas nonton itu, waktu kecil dulu, saya mengajak beberapa teman main karate-karatean. Kami berlaga selayaknya jago karate.

Film ini, Kick-Ass, mengawali kisahnya lewat tokohnya Dave Lizewski (Aaaron Johnson) bertanya pada dua sahabatnya, yang juga jadi premis film ini, mengapa sampai sekarang tak ada yang berpikir melakukannya, jadi superhero di dunia nyata. Ada ribuan orang ingin jadi Paris Hilton tapi tak ada yang ingin jadi Spider-man?” tanya tokoh kita, Dave.

Well, Dave, punya kekuatan super adalah impian setiap orang. Sewaktu kecil banyak dari kita mungkin berkhayal punya kekuatan super, bisa terbang, meluncur lebih cepat dari kereta api, dan tak mempan ditembak. (Saya, misalnya, mengkhayal jadi jago karate usai nonton Karate Kid)

Dave kemudian tak hanya mengkhayal, tapi juga membuktikan niatnya. Ia membeli kostum penyelam warna hijau bergaris kuning lewat internet. Dengan kostum itu kemudian Dave jadi superhero. Pekerjaan pertamanya: melawan dua berandalan yang biasa mengerjainya.

Sayang, di aksi pertamanya, Dave ditusuk pisau lalu jadi korban tabrak lari. Ia dibawa ke rumah sakit lalu harus dipasang plat besi di tulang-tulangnya.

Dave tak kapok. Ia tetap bertekad jadi superhero. Ia tetap petantang-petenteng di jalanan meski jadi bahan tertawaan dan jadi tontonan. Pekerjaan keduanya: mencari kucing hilang.

Tak sengaja, Dave kemudian ditubruk seseorang yang dikejar sekawanan orang lain. Orang yang menubruknya kemudian jadi bulan-bulanan kawanan pengejarnya. Dave, yang merasa dirinya superhero, tak bisa membiarkan kejahatan terjadi di depannya. Ia bangkit melawan.

Di tengah masyarakat yang haus sosok hero dan era internet, Dave sang Kick-Ass jadi fenomena. Video-nya di You Tube ditonton jutaan orang. Teman-nya di My Space juga ribuan.

Sampai sini, film Kick-Ass masih setia dengan premis awalnya. Namun kemudian, kita dibelokkan bahwa jantung ceritanya justru bukan pada sosok Kick-Ass, melainkan sosok ayah dan anak, Damon Macready (Nicolas Cage) dan Mindy (Chloe Moretz) yang menumpas penjahat pimpinan gangster Frank D’Amico (Mark Strong) sebagai Big Daddy dan Hit Girl. Akting Cage mengingatkan kita pada Batman versi Adam West dari seri TV tahun ’60-an. Meski patut diakui keren, tetap Hit Girl-lah bintang film ini. (Selain Hit Girl, ada karakter Red Mist [dimainkan Christopher Mintz-Plasse] yang juga unik karena jadi super hero dengan niat terselubung, tapi tetap tak bisa menutup keterpukauan kita pada Hit Girl.)

Ya, Hit Girl membuat filmnya jadi cool(sekaligus tidak cool, tergantung cara Anda memandangnya).

Aksi Hit Girl di sini, buat saya, sungguh mengagumkan. Mengutip ucapan panda Po dari Kung Fu Panda, kita bisa mendadak buta karena saking kagum melihat aksinya. Lihat saja, tanpa tedeng aling-aling, Hit Girl membantai berandalan pemadat kulit hitam dan seorang cewek dengan pedang kayunya. Kali lain, ia menembaki kawanan penjahat yang menyandera ayahnya. Di ujung film, ia setidaknya membantai 20-an orang. Semuanya dilakukan dengan darah dingin, tanpa ada rasa sesal. Belum lagi kalimat-kalimat kasar yang selalu muncul dari mulut Hit Girl, yang diceritakan masih 11 tahun. Yang sudah menonton pasti ingat bagian ini, “You just contact the mayor's office. He has a special signal he shines in the sky; it's in the shape of a giant cock—Kau bisa hubungi kantor walikota. Dia punya lampu sinyal khusus yang bisa ia sorot ke langit, simbolnya penis raksasa dan vagina,” ucapnya santai. Karakter Hit Girl pasti bisa membuat iri Quentin Tarantino dan membuatnya berpikir, “Gila! Kenapa tak terpikir olehku, ya?”

Aksi Hit Girl juga membuat banyak orang ngeri dan bilang filmnya kelewatan. Intinya, mereka beralasan, anak umur 11 tahun sebaiknya tidak boleh bicara kasar dan membunuhi orang seperti menepuk nyamuk, tanpa emosi dan rasa bersalah. Buat mereka, Kick-Ass jadi film paling tidak cool.

Itulah, makanya film ini dibenci. Namun demikian, di kutub lain, Kick-Ass memberi penyegaran pada genre superhero. Jika Batman dan Spider-man kita anggap sebagai superhero arus utama, maka Kick-Ass berada di jalur indie. Seperti kata pengarang asli komiknya, Mark Millar, film ini melakukan apa yang diperbuat Pulp Fiction untuk genre film kriminal.
Kolaborasi Millar dan sutradara Matthew Vaughn (Layer Cake, Stardust) terbukti tak hanya memberi angin segar, tapi juga kontroversi. Alhasil, film ini akan dibicarakan terus hingga nanti. Makanya, menontonnya di bioskop adalah sebuah keistimewaan yang tak boleh dilewatkan. Kelak, Anda bisa menyombongkan diri menonton film cool ini di bioskop dan bukan di DVD apalagi televisi.

Review ini semula dimuat di Tabloidbintang.com dengan URL: http://www.tabloidbintang.com/film/resensi/3393-mengapa-kick-ass-adalah-film-superhero-paling-cool-sekaligus-tidak-cool-.html


Category:Movies
Genre: Comedy
HATI ini sudah yakin, Menculik Miyabi mungkin tipe film yang tahan kritik. Dibilang apapun, orang akan penasaran untuk menontonnya.

Ah, pertama-tama mungkin begitu. Sejumlah orang yang penasaran mungkin akan ke bioskop membuktikannya sendiri dan menjawab rasa penasaran mereka: apakah Miyabi di sini tampil seperti di film-film pornonya?

Jika itu yang dicari, penonton pasti kecewa.

Kemudian mereka akan berkicau memberi tahu kawan-kawannya lewat status di Facebook dan Twitter. Nah, efek word of mouth (dari mulut ke mulut)-lah alias getok tular yang akan lebih menentukan nasib film ini.

Tapi bolehlah kami yang sudah menonton juga ikut berpendapat. Terus terang, kami penasaran menunggu tanggal 6 Mei kemarin saat hari pemutaran perdana film Menculik Miyabi. Kami ingin tahu apa Miyabi tampil berani seperti film-film pornonya atau, kalaupun tidak, apakah ia memperlihatkan akting jempolan di film normalnya?

Sayang beribu sayang, dua pertanyaan utama itu tak mendapat jawaban memuaskan. Pertama soal Miyabi yang tak tampil berani. Sejak awal hal ini sudah diduga saat LSF meloloskan film ini untuk kategori temaja (artinya boleh ditonton 13 tahun ke atas). Tak mungkinlah yang serba terbuka dan mesum dipertontonkan untuk umum bagi remaja.

Di film ini Miyabi hanya sekali tampil seksi saat disyut hendak mandi di bath tub. Itupun hanya disorot paha mulusnya saja (Huuuuu…. Para pria kecewa tuh).

Lalu aktingnya? Perlu kami beri tahu dulu, Maria Ozawa alias Miyabi tampil tak sampai 10 menit di film ini. Itupun ia hanya muncul di awal dan sedikit sekali di akhir film. Di tengah-tengah ia hanya muncul sesekali. Sebetulnya, tampil sebentar atau lama buat seorang aktor/aktris tak masalah. Seorang aktor/aktris bisa tetap bersinar dan berhasil mencuri perhatian walau tampil sebentar.

Sayang Findo Purnama HW, sang sutradara dan Maxima Pictures hanya memerlihatkan Miyabi seadanya. Bahkan, buat kami, tak ada beda dengan film-film pornonya. Maksudnya, di bagian awal film-film pornonya. Itu lho saat Miyabi biasanya masih tampil sendiri dan berbusana lengkap.

Film ini punya struktur persis film pornonya. Di awal Miyabi diperlihatkan sendiri, bangun tidur tapi tetap cantik dengan kemaja putih transparan, main laptop, mandi. O ya, ada adegan Miyabi yang mengenakan baju tidur berenda dengan mata ditutup. Bagi yang menyangka kemudian akan ada adegan seks liar, pasti kecele.

Kemudian ke menu utamanya, bukan adegan seks, tapi cerita tentang 3 mahasiswa cupu (Nicky Tirta, Hardi Fadhilah, Farish Nahdi) yang ingin ke bandara menjemput Miyabi. Bintang porno itu akan ke Jakarta mengantar undangan bagi pemenang makan malam dengannya di Tokyo, Jepang (lihat kontradiksinya? Ada orang jauh-jauh dari Tokyo mengantar undangan untuk makan malam dengannya. Lha, mengapa tak sekalian makan malam di Jakarta saja? Aneh.). Lalu, cewek yang dikira Miyabi diculik. Cewek ini, asal China bernama Mie Yao Bi (Sabrina Pai), tadinya ketakutan dan marah-marah tapi sekonyong-konyong langsung berubah. Semuanya agar muncul adegan
berenang dengan bikini two pieces warna biru.

Kisah yang jadi menu utamanya sendiri tentang cinta terpendam seorang mahasiswa cupu (Nicky) pada teman kampus pujaannya (Herfiza Novianti) yang punya pacar seorang cowok berengsek. Dengan cerita begitu tipikal, film layar lebar seharusnya tampil lain dengan gaya penceritaan maupun memperlihatkan unsur sinema yang beda. Namun yang terjadi malah tak lebih yang sering kita saksikan di FTV-FTV saban pagi. Akting para aktornya terasa berlebihan, gaya memiringkan mulut serta bahasa tubuhnya persis sinetron. Malah ada akting seseorang (yang tak mau kami sebutkan namanya, biar Anda lihat sendiri lalu tebak siapa orangnya) yang sangat mengganggu setiap kali muncul.

Lantas, dengan segala cerita dan pengadeganan yang tak karuan, Miyabi yang tampil sebentar dan tak buka-bukaan (hanya ada Mie Yao Bi eh Sabrina Pai sebagai bonus manis), masihkah kita harus berlelah-lelah dengan segala polemik dan kontroversi?

Begini, bila ada orang yang tak tahu Miyabi lalu mencari DVD bajakan atau ke warnet searching film-film pornonya setelah menonton film ini kita harus salahkan siapa?

Penontonnya saja yang punya pikiran kotor? Produser film yang inginnya cari untung tak peduli pemain yang diajaknya (dulunya) bintang porno? Atau, penjaja DVD bajakan? Atau malah pengelola warnet?

Ah, pusing. Eh, di teater sebelah masih ada Iron Man 2. Sudah tak terlalu mengantre tuh.***

Review ini semula dimuat di sini:http://www.tabloidbintang.com/film/resensi/3042-menculik-miyabi-jika-filmnya-hanya-begitu-pantaskah-jadi-polemik-.html


Category:Movies
Genre: Drama
“Nama keluargaku Salmon, seperti nama ikan. Nama panggilan Susie. Umurku 14 tahun saat aku dibunuh pada 6 Desember 1973.”

Begitu kita dikenalkan pada tokoh utama film ini, The Lovely Bones arahan Peter Jackson, peraih Oscar dari hikayat Lord of the Rings. Tokoh kita, Susie Salmon (Saoirse Ronan) digambarkan sebagai remaja periang yang hidup bahagia bersama kedua orang tua dan dua adiknya.

Kebahagiaan keluarga Salmon sirna ketika Susie, cahaya penerang keluarga hilang tak tentu rimbanya. Pencarian polisi hanya menemukan topi rajutan yang terakhir dikenakan Susie serta bercak darah di sekitarnya. Susie memang sudah mati, dibunuh tetangganya sendiri, seorang pria kesepian (Stanley Tucci, satu-satunya aktor di film ini yang aktingnya dilirik juri Oscar) yang kerjanya membuat rumah boneka.

Ya, sejak awal kita sudah tahu siapa pembunuh Susie. Film ini bukan film detektif mencari siapa pembunuh remaja tanggung itu. Ataupun film tentang bagaimana menyembuhkan luka setelah orang yang paling kita sayangi meninggalkan kita selamanya. Film ini lebih pas disebut film tentang Susie.

Film diambil dari sudut pandang Susie yang sudah mati tapi arwahnya tak bisa langsung masuk surga. Ia terjebak di dunia “antara”, di antara kehidupan di bumi dengan kehidupan kekal di akhirat. Mudahnya, Susie jadi arwah penasaran. Ia masih gentayangan melihat bagaimana keluarganya berantakan usai ia meninggal. Ayahnya (Mark Wahlberg) terobsesi mencari pembunuhnya. Ibunya (Rachel Weisz) yang tak sanggup menahan kesedihan, memilih pergi dari rumah, bekerja di kebun anggur. Dua adiknya, dirawat neneknya (Susan Sarandon) yang nyentrik.

Perihal arwah penasaran yang tak bisa langsung ke surga karena ada urusannya di bumi yang belum kelar sudah kita akrabi dari serial macam The Ghost Whisperer atau dulu di film Ghost di awal 1990-an. Lantas, apa yang membuat film Peter Jackson ini istimewa?

Dengan teknologi CGI yang ada dan kemampuan Jackson menggunakannya film ini jadi pameran tata warna dunia antah-berantah yang memukau mata. Saat menontonnya, diri ini tak habis pikir, apa dunia setelah mati seindah itu, ya?

Okelah, Jackson memang terlalu fokus pada CGI yang memanjakan mata. Sampai-sampai kita harus menebak film ini maunya apa. Untuk disebut film thriller kok rasanya ketegangan yang dibangun diganggu pameran CGI nan indah. Untuk disebut drama keluarga tentang kehilangan dan pengobatannya, rasanya kok porsinya terlalu sedikit. Disebut film lucu karena memang ada keriangan di situ (terutama saat nenek Susie tinggal di rumah) lebih tidak pas. Atau ini film tentang korban pedofilia seorang pembunuh berantai?

Bisa jadi melabeli film ini dengan sebutan film A atau film B adalah perbuatan sia-sia. Film ini demikian berwarna dan campur aduk karena kisah aslinya dari mana film ini diangkat (novel berjudul sama karya Alice Sebold) adalah kisah yang kaya. Jackson sepertinya ingin menangkap kekayaan dan kompleksitas kisah aslinya. Pada titik tertentu kita mungkin akan menganggapnya kurang fokus. Namun, saya penuhi anjuran teman untuk menonton film ini dulu baru kemudian baca novelnya (sudah diterjemahkan ke edisi Indonesia). Hasilnya, buat saya, filmnya baik-baik saja. CGI-nya jelas memanjakan mata. (SPOILER ALERT!) Ketegangannya cukup terbangun (adegan Lindsey (Rose McIver), adik Susie menerobos rumah pembunuh bikin tegang). Dramanya? Ah, saya paling suka saat Lindsey berlari ke rumah membawa bukti pembunuhan dan di saat bersamaan ibunya kembali. Tapi, saya kurang sreg dengan adegan mirip film Ghost saat Susie bertemu pujaan hatinya, dan bagaimana pembunuhnya mati dengan sepele.

THE LOVELY BONES
Sutradara : Peter Jackson
Skenario : Peter Jackson, Fran Walsh, Philippa Boyens
Novel karya Alice Sebold
Pemain : Saoirse Ronan, Stanley Tucci, Rachel Weisz, Mark Wahlber, Susan Sarandon
Durasi : 121 menit


Category:Movies
Genre: Cult
Pernah tidak, Anda menonton film sampai terbahak-bahak dan di saat bersamaan otak Anda terpantik? Artinya, humornya tak hanya lucu, tapi juga cerdas. Tidak banyak film yang bisa bikin begitu. Film umumnya hanya membuat tertawa saja, atau mencerahkan saja. Yang ini, Tropic Thunder, Anda dapat dua-duanya.

Inilah film yang mengolok-olok Hollywood, aktor-aktornya dan perilaku mereka. Kisahnya seputar pembuatan film perang paling ambisius yang pernah dibuat. Dimulai saat beberapa aktor dikumpulkan dalam satu film tentang perang Vietnam di hutan betulan, di Asia Tenggara. Tokoh utamanya Tugg Speedman (Ben Stiller), aktor laga yang langsung mengingatkan kita pada Stalllone si Rambo. Ia berambisi jadi aktor besar yang tak hanya jago main film aksi. Film perang ini akan jadi pembuktiannya. Lalu ada Kirk Lazarus (diperankan dengan cemerlang oleh Robert Downey Jr.) aktor watak asli Australia yang dikenal bak bunglon, bisa masuk ke karakter apapun yang diminta (jadi ingat Russell Crowe). Saking totalnya, untuk perannya kali ini sebagai prajurit berkulit hitam, Lazarus mengecat hitam kullitnya dan bicara layaknya negro saat kamera merekam atau pun di luar syuting. Ini bikin sebal Alpha Chino (Brandon T. Jackson), penyanyi hiphop, bintang iklan dan negro betulan yang juga ikut main film itu. Lalu ada pula aktor yang kecanduan narkoba (Jack Black) dan seorang pendatang baru (Jay Baruchel) di antara para seniornya.

Syuting filmnya ternyata berantakan. Produser di Hollywood (tebak siapa pria setengah plontos ini?) mencak-mencak. Sang sutradara, Damien Cockburn (Steve Coogan) lantas mengajak aktor-aktornya masuk lebih dalam ke hutan, berniat membuat film layaknya reality show. Sebuah insiden menewaskan Cockburn. Para aktornya kini sendirian, tersesat di hutan. Mereka masih berpikir ada kamera mengintai dan ini cuma film. Padahal, di sudut lain hutan ada gerilyawan pemberontak bersarang.

Film yang juga disutradarai Stiller ini dianggap karya terbaiknya oleh majalah Rolling Stone. Olok-olok Stiller pada Hollywood memang sangat mengena. Anda yang suka film perang dicampur komedi pasti akan sekadar terhibur. Tapi, bagi Anda yang merasa sudah saatnya Hollywood diolok-olok, akan menganggap film ini sebuah masterpiece.


Category:Movies
Genre: Drama
Pengantar: Review film lama, tapi dibuang sayang.

Kekuatan utama film ini, The Curious Case of Benjamin Button adalah premisnya; seorang anak manusia terlahir sebagai bayi berusia 80 tahun. Ia menjalani hidup berbalikan dengan kita, bila kita tumbuh dewasa dan semakin tua, ia malah tumbuh semakin muda. Hidupnya mundur. Aslinya, kisah ini diangkat dari cerita pendek sastrawan F. Scott Fitzgerald. Eric Roth, yang juga menulis skenario Forrest Gump, mengadaptasinya jadi naskah film.

Hm, temanya saja sudah menarik hati. Apalagi begitu melihat siapa yang mengusung kisahnya jadi film. Nama Brad Pitt dan Cate Blanchett di poster film mungkin langsung yang paling menarik perhatian. Mereka memang yang paling mudah dikenali. Pitt, kita tahu, termasuk aktor paling tampan sejagad yang bikin gemas wanita seluruh dunia. Kalau Cate Blanchett adalah aktris cantik yang berakting bak bunglon. Ia selalu beruntung diajak main di film-film bermutu. Sudah begitu aktingnya tak pernah mengecewakan.

Tapi, yang membuat film ini istimewa adalah sutradaranya, David Fincher. Pria kelahiran 28 Agustus 1962 ini adalah salah satu sutradara Hollywood generasi baru (membuat film sejak 1990-an) paling diperhitungkan di angkatannya. Ia dikenal pada cara bertuturnya yang penuh gaya dan gelap di setiap film-filmnya. Sejak kemunculannya, penyutradaraan Fincher sudah jadi perbincangan. Setiap filmnya ditafsirkan sedemikian rupa oleh kritikus dan akademisi film. Namun, saat ia jadi gunjingan, kekaguman, atau bikin iri selama dua dekade terakhir, Fincher terus membuat film. Ia berkembang dari satu film ke film lain. Perhatikan film-film yang dibuatnya di awal kariernya, Se7en (1995), The Game (1997), Fight Club (1999), lalu ke filmnya di dekade 2000-an, Zodiac (2007) lalu ini, The Curious Case of Benjamin Button. Anda akan lihat Fincher semakin matang menguasai medium film. Ia mungkin tak segelap di tahun 1990-an dulu, tapi sisi personal manusia tetaplah ia kulik habis. Kali ini ia membincangkan tentang kematian, usia tua, hakikat umur, dan pencarian peran manusia bagi kehidupan. Di tangan sutradara lain, film ini mungkin akan berakhir seperti Forrest Gump yang jatuhnya jadi pamer kecanggihan teknologi merendengkan tokoh lampau di film. Beruntung, sentuhan dingin Fincher membuat film ini lebih personal dan meninggalkan kesan mendalam usai ditonton. Sungguh.


Category:Movies
Genre: Romantic Comedy
Frase "It's Complicated" pertama saya akrabi dari jejaring sosial yang kini jadi fosil hidup, Friendster (hei, tahu 'gak kalo Fs sekarang berubah wajah? Ayo tengok lagi akun Fs Anda. Kasian dia). Di bagian status ada sejumlah pilihan, salah satunya ya itu, it's complicated. Saya mengartikannya hubungan yang rumit. Tak jelas. Bisa juga macam HTS-an atau TTM-an. (Eh, pernah cek, gak? Fs punya 5 kategori jenis hubungan [single, married, in a relationship, domestic partner, dan it's complicated]. Sementara Facebook punya 7 kategori [single, in a relationship, married, engaged, it's complicated, in an open relationship, dan widowed]).

Frase itu di film ini punya makna rumit yang lebih dari sekadar HTS-an atau TTM-an. Bayangkan kalau hidup Anda kira-kira begini (SPOILER ALERT!): Anda bercerai dari A setelah menikah 20 tahun karena kepincut gadis yang lebih muda, bahenol, lalu menikahinya. Tapi ternyata, pernikahan baru Anda tak berjalan seperti yang Anda impikan sebelumnya. Anda lantas jatuh cinta lagi dengan mantan istri. Lalu, berselingkuhlah anda dengannya. Tidak cukup sampai di situ, mantan istri Anda sesungguhnya sedang didekati pria lain pula. Dan ia tak nyaman sebetulnya jadi selingkuhan mantan suaminya. Nah, kira-kira cinta siapa yang akan runtuh dan bertahan?

Jawabannya tak akan saya bocorkan di sini.

Saya tak hendak menyoroti plotnya. Saya lebih tertarik betapa film komedi romantis ini memberi tempat pada senior citizen alias orang-orang uzur. Ya, sesekali Hollywood berbaik hati memberi tempat pada orang-orang uzur untuk jadi bintang utama, jadi pusat perhatian utama sebuah film. Film-film jenis ini, macam Terms of Endearment atau Something Gotta Give dan yang ini: It's Complicated (2009, Nancy Meyers). Meyers (lahir 1949) ini juga membuat Something Gotta Give dan The Holiday.

Melihat deretan pemain utama film ini, Meryl Streep (lahir 1949), Alec Baldwin (lahir 1958), dan Steve Martin (lahir 1945) jelas film ini tak mengandalkan kemolekan, kecantikan, atau ketampanan bintangnya. Di tahun 1990-an, Alec mungkin masih seksi saat berakting bareng istrinya (kala itu), Kim Basinger di film The Gateway, atau di tahun '80-an lampau Streep masih cantik saat di film Sophie's Choice. Tapi, di akhir tahun 2000-an begini, kulit dan bentuk tubuh mereka, walau sudah dipermak operasi plastik bagaimanapun, tetap tak bisa menyembunyikan usia mereka.

Meyers sepertinya sadar betul hal ini. Maka, film ini tak lantas menjual wajah-wajah mereka. Melainkan bagaimana mereka mesti bertingkah konyol. Ini rasanya trik paling mudah bagi sineas agar filmnya juga ditonton kaum muda, mayoritas penonton film.

Selain tingkah konyol warga uzur, film ini juga mengajak penonton muda melihat pemain seusia kakek-nenek mereka bertingkah bak ABG yang sedang jatuh cinta. Dalam benak penonton, gambaran kakek-nenek ya menimang cucu atau yang digambarkan The Beatles lewat lagu “When I’m Sixty Four”, dan bukannya mengejar cinta lagi, berselingkuh dengan mengendap-endap check-in di hotel. Resep “aneh itu lucu” digunakan di sini. Para pemain tua di sini kita anggap sang liyan (the others). Sang liyan yang mengundang tawa kita, penonton muda.

Terus terang, saya, yang masih muda, tentu ogah melihat Meryl Streep telanjang. Sebab, pastilah tak semenarik Megan Fox, misalnya.

Yang saya ingin lihat dari mereka, setiap kali main film, adalah bagaimana mereka masuk ke dalam peran yang diminta. Dan ketiganya sudah masuk kategori aktor-aktris kawakan. Jadi, berperan "ngebodor" begini pastilah bukan hal sulit. Alhasil, film ini seperti ajang main-main saja buat ketiganya. Buat Streep sekadar melepas penat dari akting-akting memukaunya di film-film berat. Buat Baldwin, sekadar melanjutkan peran konyol dari serial suksesnya. Steve Martin? Ah, ini sih seperti kerja rutin baginya.

Maka, cara terbaik menikmati film ini adalah dengan merayakannya sambil tertawa. Saya tak bisa menahan tawa lepas saat Baldwin memerlihatkan pantat putihnya di depan laptop. Memang, film ini mencoba serius di akhir dengan seolah-olah memberi dilema pada tokoh yang diperankan Streep untuk memilih kembali pada mantan suaminya atau melanjutkan hidup, membuka diri pada pria lain. Bagi saya pilihannya jadi tak penting lagi. Kelucuan film ini, dan betapa Hollywood kembali teringat pada warga uzurnya, adalah nilai plusnya. Coba lihat sineas kita atau produser yang pedagang itu, beranikah mereka membuat film yang bintang utamanya Connie Sutedja, Titiek Puspa, Rima Melati, atau Ida Kusuma dan bukan Dewi Perssik, Wiwied Gunawan, atau Andi Soraya?

IT'S COMPLICATED (2009)
Sutradara-penulis: Nancy Meyers
Pemain: Meryl Streep, Alec Baldwin, Steve Martin
Durasi: 120 menit


ReviewReviewReviewReviewJan 31, '10 5:25 AM
for everyone
Category:Movies
Genre: Horror
Saat Anda membaca surat ini, percayalah bisa jadi nyawa Anda tengah terancam. Anda bisa jadi korban saya berikutnya. Saya di sini hendak memastikan, saya belum mati. Anda lihat kan ujung filmnya? Apa mata Anda berkedip saat itu? Saya tak hendak menceritakan akhir filmnya. Dosa. Lebih dosa ketimbang membunuhi orang lalu mencincang daging mereka dan kemudian memasaknya, dan tentu saja… menyantapnya.

Hei, daging manusia itu amat berkhasiat, lho. Saya bukti hidup untuk itu (karena dua anak saya yang lain sudah mati… tapi apa benar mereka sudah mati atau belum hanya Sang Maha Sutradara yang tahu. God is a director. Bahasa Belandanya, Anda tanya? Saya tak mau kasih tahu.). Daging manusia bisa membuat Anda awet muda, jadi kuat dan hidup lebih dari seratus tahun. Dan tentu saja nilai ekonomisnya, organ manusia laku dijual.

Saya menulis surat ini untuk menjelaskan beberapa duduk persoalan menyangkut film saya. Yang perlu Anda ketahui dulu, sebelum Anda saya santap kelak, saya tak mewakili dua sutradara yang bikin film saya. Okelah, mereka yang mencipta saya. Tapi apa lantas saya mesti membebek mereka juga? Tidaklah. Kalau ada kesempatan saya malah ingin menyeruput otak mereka, biar kepintaran mereka menular pada saya…

Pertama soal kemunculan pertama saya di film pendek yang berdurasi tak sampai 30 menit. Sebagian dari Anda tentu sudah menontonnya. Dari situ saya mulai dikenal—meski kalah tenar dari dua pencipta saya. Banyak yang minta saya tampil lagi. Kali ini dalam durasi lebih panjang. Saya sih senang-senang saja. Tapi, tahukah Anda bagaimana dua sutradara yang mencipta saya harus memutar otak memanjangkan cerita. Mereka, sepengetahuan saya, membutuhkan waktu dua tahun menggarap film ini. Bayangkan tekanan yang mereka rasakan selama dua tahun itu. Sejak film pendeknya muncul, mereka dianggap anak ajaib. Timbul harapan dan permintaan film pendeknya dipanjangkan. Anda yang nonton enak saja mengharap-harap… tapi mereka yang mencipta, fiuhhh… sangat stres, kawan.

Film panjang artinya untuk konsumsi bioskop, yang artinya lagi faktor konsumen harus diutamakan biar filmnya ditonton orang. Uang yang sudah digelontorkan sebisa mungkin haruslah balik, kalau bisa untung. Maka kompromi harus dilakukan.

Kompromi itu terdapat pada plot cerita. Saya sebenarnya tak setuju versi panjangnya mengambil plot berbeda. Kalau versi pendeknya bersetting restoran, versi panjangnya bersetting rumah. Di versi pendeknya, saya jadi pemilik sekaligus koki restoran. Banyak tamu menyukai masakan saya. Terutama yang berbahan dasar daging. Mereka tak tahu yang dihidangkan di situ daging manusia dari sejumlah tamu yang berhasil saya jebak lalu saya cincang dan masak. Saya sih pikir ide plot itu brilian. Belum ada sineas sini yang terpikir plot begitu. Membayangkan daging dari soto kegemaran Anda dibuat dari daging manusia pasti membuat Anda mual, kan?

Eh ini versi panjangnya lain sendiri. Restoran diganti rumah. Sudah begitu plotnya diawali serba klise lagi. Ada serombongan orang yang hendak pergi ke satu tempat, di tengah jalan ketemu orang asing, orang asing itu lalu membawa mereka ke rumah di tempat entah di mana, terus mereka terpaksa menginap, lalu oleh si empunya rumah dibunuh satu-satu.

Maaf saja, sutradaraku, plot macam begini rasanya sudah usang. Saya, yang sudah berumur lebih dari 100 tahun, tentulah sudah akrab dengan plot begini dari film-film horror yang saya tonton. Tadinya saya mengharap sesuatu yang lebih cerdas dari versi pendeknya pada Anda berdua.

Tapi sudahlah. Akhirnya saya simpulkan saja:” Rumah Dara” bukanlah versi panjang dari “Dara”. Karakter dan pemainnya hanya dipinjam untuk cerita yang lain. Plot yang familiar buat banyak orang adalah sebentuk kompromi agar film ini mudah diakrabi penonton kebanyakan.

Meski begitu saya saluti pekerjaan kalian, dua sutradaraku. Terutama pada kerja keras kalian menyuguhkan kengerian demi kengerian di sini. Sekali ini biarlah orang-oran g tahu bahwa horor itu tak sekadar hantu-hantuan, tapi juga bunuh-bunuhan macam ini. Biarlah mereka tahu ada film bergenre slasher. Saya sih tak heran usai film ini ada macam-macam film sejenis yang dibuat pedagang film yang maunya cari untung dari mengikuti resep sukses orang. Apalagi bahan resep ini sederhana dan murah buat pedagang film yang bermodal besar tapi miskin kreativitas itu. Maka bersiaplah, setelah ini Anda akan menyaksikan versi lain diriku atau versi lokal dari Jason atau film “Saw” rasa Melayu.

Arghh, saya muak. Ingin rasanya memakan mereka satu-satu. Hei, bung sutradara, mengapa tak kita wujudkan niatan itu di film sekuel saya? ***

RUMAH DARA (2010)
Sutradara-penulis: Mo Brothers
Pemain: Shareefa Danish, Imelda Therinne, Arifin Putra, Julie Estelle
Durasi: 95 menit


Category:Movies
Genre: Independent
1
Saya merasa bersalah pada Aria Kusumadewa. Bukan secara pribadi—karena saya tak mengenalnya secara personal. Saya bersalah karena telah menganggapnya sutradara film kita yang maunya ingin jadi Garin baru. Ia inginnya bikin film yang sok “nyeni”. Sok rumit. Tapi, anggapan saya, kemampuannya masih jauh di bawah Garin. Aria pada akhirnya hanya jadi sutradara yang maunya bicara serba besar dalam film-filmnya tapi tak lancar menyampaikannya.

Tapi, tahukah kawan, anggapan di atas itu datang dari saya yang tak pernah menonton satu biji pun film panjang Aria. Anggapan itu entah datang dari bacaan yang mana atau entah dengar dari siapa juga tak jelas lagi. Jangan-jangan itu bisikan setan. Atau semacam stereotip yang datang dari antah-berantah.

Di rumah ada VCD filmnya “Novel Tanpa Huruf R” yang tak pernah saya tonton (istri saya mendapatkannya sebagai suvenir liputan saat ia masih jadi wartawan). Saya tak menontonnya lantaran sudah menjatuhkan nilai kalau filmnya pasti busuk. Sok “nyeni”. Sok rumit.

Alasan serupa juga yang melatari saya melewatkan “Identitas” (2009) saat edar di bioskop tempo hari. Insting saya mengatakan filmnya tak layak tonton. Hanya akan membuang uang dan waktu saya.

Duh Gusti, bagaimana saya bisa punya sifat picik macam begini…

Oleh karenanya saya hendak mengaku salah. Saya telah tak adil padanya. Film tak bisa dinilai dari insting. Film harus ditonton utuh, barulah dinilai. Menilainya dari trailer-nya saja salah. Apalagi ini hanya dari dugaan yang tak berdasar.

2
Syahdan, “Identitas” memenangi gelar film tebaik FFI 2009. Saya kemudian ingin tahu filmnya seperti apa.

Ternyata filmnya tak buruk. Meski jika Riri Riza dan komunitas MFI (Masyarakat Film Indonesia) ikutan FFI mungkin hasilnya akan lain (Yup, sebagai karya sinema “Sang Pemimpi” masih lebih baik).

Saya tersenyum kecut melihat bagaimana Aria menguliti buruknya penanganan masalah kesehatan bagi warga negeri ini. Rumah sakit digambarkan begitu semrawut. Setiap orang lalu-lalang berlintang pukang. Semua minta perhatian kita. Hingga ke pengumuman di speaker yang diucapkan nyeleneh. (Logo obat maag yang ada di mana-mana memang mengganggu, tapi biarlah.) Tidak lupa, Aria menyelipkan inside joke salah satu mayat dinamainya John de Rantau, sutradara (di antaranya Denias). Saya tak tahu bagaimana reaksi John waktu menontonnya, atau alasan Aria melakukan itu.

Di “rumah sehat yang sakit” itu hanya seorang yang sehat. Dialah tokoh kita, Adam (Tio Pakusadewo), sang penjaga kamar mayat. Ia yang mengantar kita pada kegilaan dunia versi Aria. Sambil menyorot Adam berjalan dari rumah kontrakannya ke rumah sakit kita disuguhi segala ketakwarasan. Dalam sosok Adam saya teringat pada tokoh kita dalam novel-novelnya Iwan Simatupang yang bersaksi pada pembaca betapa gilanya dunia kita.

3
Tentu tak elok bila sebuah film hanya deskripsi atas kekecewaan (baca: kritik) sutradaranya. Film ini lantas mengajak kita pada sosok tak bernama (Leony VH dalam aktingnya yang terbaik). Ia sudah 2 bulan merawat ayahnya di rumah sakit itu. Dokter dan suster (suster-suster di sini tampil menor dan judes pada pasien, sebuah kritik pada suster di rumah sakit milik pemerintah yang bekerja seenaknya, tak memedulikan pasien) tak pernah mengatakan apa persisnya penyakit ayahnya. Sementara itu, ia selalu diminta terus membeli resep. Untuk menutupi biaya, ia lantas melacurkan diri. Di rumah sakit, ia bermalam di mana saja. Termasuk di depan kamar mayat tempat Adam bekerja.

Dari sini Adam berani berkenalan dengan gadis Tionghoa tak bernama itu. Sebelumnya, Adam kerap memandangi gadis itu. Si gadis meminjam uang. Adam meminjami tanpa pamrih. Si gadis menawarkan tubuhnya, Adam menolak. Adam kemudian juga rela membantu si gadis memohon diberi semacam “kartu miskin” agar tak perlu repot membayar biaya pengobatan. Tapi ia ditolak karena si gadis dan ayahnya warga tak terdaftar. Tidak beridentitas. Aria lalu membawa Adam meminta bantuan pada calon bupati dari partai Titip Senyum, disingkat Tits (satu inside joke lagi jika Anda mengerti maksudnya). Karena sedang musim kampanye, Adam dibantu.

4
Aria memang banyak omong lewat filmnya ini. Ia terlihat ingin mengkritik banyak hal. Konon ini ciri khasnya. Majalah Tempo (10/8/2009) memuji Aria yang kini “lebih membumi”. Saya tak mengerti maksud klaim itu karena inilah film pertama Aria buat saya. Yang jelas, Aria telah bercerita dengan lancar, menyentil dengan lancar, sambil berfilosofi dengan lancar atas makna identitas. Aria mereduksi filsafat keber-ada-an dalam dunia modern kita (baca: negeri ini) yang korup, birokratis, dan kotor menjadi: Anda belum tentu dianggap ada, walau secara fisik Anda ada. Identitas tak berbanding lurus dengan keber-ada-an.

Ah, setelah ini saya akan membulatkan tekad menonton “Novel Tanpa Huruf R” agar bisa menilainya dengan adil.***

IDENTITAS (2009)
Sutradara-skenario: Aria Kusumadewa
Pemain: Tio Pakusadewo, LeonyVH, Ray Sahetapy, Titi Sjuman

NB:
Setelah dipikir-pikir kekecewaan saya pada Aria mungkin, salah satunya, berasal usai saya menonton film bikinan kekasihnya (kala itu), Lola Amaria. Film yang dibesut Lola, “Betina” saya nilai jelek dulu. Saya lantas menganggap jika Lola yang “murid”-nya bikin film jelek, pasti ia berguru bukan pada suhu yang tepat. Picik, ya saya…
Review film “Betina” bisa dibaca di:
http://adeir.blogspot.com/2007/01/resensi-bintang-edisi-800.html



Category:Movies
Genre: Drama
Masa Muda, masa yang berapi-api
—Haji Rhoma Irama—

1
Jika film yang diangkat dari novel punya takdir dibanding-bandingkan dengan novel aslinya, film sekuel punya takdir lain: dibandingkan dengan film pendahulunya. Maka, jika ada film yang diangkat dari novel dan juga sekuel, takdirnya berlipat ganda. Pangkat dua. Apalagi jika film pendahulunya adalah film tersukses yang pernah dibuat anak negeri. Ditonton 5 juta orang. Itu namanya pangkat 6 akar sepuluh.

Tapi, saya percaya, Riri Riza, sutradaranya, terlalu kuat untuk goyah oleh tekanan membuat film yang bakal lebih sukses atau lebih baik dari novel dan film pendahulunya. Ia hanya ingin membuat film. Sejak awal, Sang Pemimpi, buat saya adalah “satu lagi dari Riri Riza”. Bukan “sekuel dari Laskar Pelangi” ataupun “based on the bestselling novel by Andrea Hirata”.

Dan tak terperosok membanding-bandingkan film dengan novel atau dengan prekuelnya membuat Anda, sang penonton, tak merasa terbebani. Tanpa pretensi macam-macam. Niscaya Anda akan menontonnya dengan lepas.
Itu yang saya lakukan susah payah tempo hari waktu menontonnya. Ya, dengan susah payah saya membuang bayangan saya kalau ini adalah film sekuel maupun diangkat dari novel. Saya bilang susah payah karena secara “look” film ini masih sama. Yaiyalah. Sutradaranya sama. Produsernya sama. Penulisnya sama. Satu-dua pemainnya juga sama.

2
Setelah merenungkan filmnya usai nonton, bagi saya Sang Pemimpi adalah murni milik sutradaranya, meski kisahnya milik Andrea Hirata penulis novelnya atau Salman Aristo yang mengadaptasinya jadi skenario. Sang Pemimpi, buat saya terasa personal. Riri seolah lepas berkisah.

Ia membuang semua kegenitan di Laskar Pelangi. Film ini bukanlah kisah
keceriaan anak-anak yang tetap bisa hidup bahagia walau didera kemiskinan akut. Ia bukanlah lagi kisah melawan superioritas orang kaya lewat ajang adu pintar di lomba cerdas-cermat, atau adu kreatif di lomba pawai.

Ini adalah kisah saat anak-anak itu beranjak tumbuh dan dituntut menjadi dewasa sebelum waktunya karena keadaan hidup. Ya, kenyataan kalau di desa mereka tak ada SMA membuat mereka harus pindah, tinggal jauh dari orangtua—sebagian besar dari kita mungkin baru mengalaminya saat kuliah. Tapi, itu tak menyurutkan niat mereka untuk punya mimpi. Mimpi yang dibakar dan diasap-asapi guru SMA mereka, Pak Balia (Nugie). “Jelajahi kemegahan Eropa sampai ke Afrika yang eksotis.. Langkahkan kakimu di atas altar suci almamater terhebat tiada tara: Sorbonne…”

Untuk membakar semangat, Pak Balia menyebut mereka bukan dengan sebutan “anak-anak” atau “murid-murid”, melainkan “Sang pelopor”.

3
Mimpi adalah yang tersisa yang mereka miliki saat harta tak ada. Mimpi membuat harapan untuk hidup lebih baik (berpendidikan dan berharta) tak sirna. Tokoh kita, Ikal sempat mengubur mimpinya lewat jalan berliku yang disusun Arai (jadi juara di sekolah, kuliah di universitas negeri di Jakarta, lalu cari beasiswa ke Eropa). Ia ingin mengambil jalan pintas, melayari dunia lewat laut. Namun Ikal kemudian tersadar dan membelokkan haluannya kembali ke jalan yang dibuat Arai.

Yang paling menarik hati dari film ini buat saya adalah, film ini tak hendak bermanis-manis. Kenyataan hidup yang ditemui Ikal dan Arai usai kuliah sungguh pedih. Gambar-gambar yang diperlihatkan Riri menunjukkan betapa Ikal dewasa (Lukman Sardi) terjebak dalam rutintas kerja, di tempat foto kopi lalu di kantor pos. Sedangkan Arai, sepupu, sahabat, sekaligus kawan satu mimpinya pergi entah kemana.

Di bagian-bagian ini filmnya terasa muram. Bayangan keceriaan di Belitong yang dulu kita saksikan di Laskar Pelangi mendadak sirna oleh kesenduan wajah tokoh kita (thanks God, sejak awal Riri memilih Lukman memerankannya. Saya tak tahu apa orang lain, Tora Sudiro misalnya, bisa menunjukkan wajah muram Ikal dewasa).

4
Dari sini saya lantas berpikir, gila… Riri berani betul membuat filmnya muram begini? Tak takutkah ia kehilangan penonton yang dulu terbahak dan menangis terharu saat menonton Laskar Pelangi? Memang sih, pada beberapa momen film ini masih membuat haru. Tapi “feel” keceriaan anak-anak di film ini sirna bahkan sejak awal (lihat, adegan yang dimainkan anak-anak di film ini dimulai dengan anak yang sebatang kara ditinggal mati ayahnya).

Kemuraman yang dipilih Riri adalah langkah berani yang patut diacungi jempol. Ia kembali membuktikan diri bisa membuat film tanpa dibebani sukses film terdahulu. Ia—seperti yang sering dikatakannya—hanya membuat film yang ia maui.

Karenanya, film ini lantas terasa personal. Walau kisahnya diambil dari cerita milik orang lain, aura Riri terasa sepanjang film. Film ini adalah juga kisah hidupnya, perantau dari tanah seberang yang mengambil jalan terjal meraih mimpi di Jakarta lalu ke Eropa (Riri pria asal Makassar yang kuliah di IKJ, lalu mendapat beasiswa ke London).

Penonton yang mencari eskapisme melihat si miskin menang melawan si kaya (dalam film) pasti akan kecewa. Penonton yang ingin sekadar melihat keceriaan, pasti juga kecewa, menganggap film ini kurang lucu, kurang meriah, atau kurang wah. Tapi, bagi Anda yang meresapi bahwa hidup tak selamanya ceria; atau bagi Anda yang merasa hidup bisa demikian perih saat mimpi yang digantung setinggi langit demikian susah diraih; atau Anda yang tak pernah berhenti bermimpi lantaran tetap menjaga bara api bernama asa; film ini niscaya memberi nilai lebih lain.

Itu nilai lebih Sang Pemimpi buat saya.***

SANG PEMIMPI (2009)
Sutradara: Riri Riza
Penulis: Riri Riza, Salman Aristo, Mira Lesmana
Novel: Andrea Hirata
Pemain: Lukman Sardi, Nugie, Landung Simatupang, Yayu Unru, Vikri Setiawan, Jay Wijayanto, Nazriel Irham
Durasi: 128 menit



Pages:123456